BAB 50 : BIRU

958 157 10
                                        

Tempat ini terasa sangat asing baginya. Sejauh mata memandang hanya ada ladang bunga dengan langit biru cerah dan sebuah gerbang sangat besar tertutup dari kejauhan. Karena rasa penasarnanya dia mendekat.

Kaki telanjangnya yang bisa merasakan rerumputan yang menusuk kulitnya. Cahaya matahari yang terasa hangat tidak menyengat dengan semilir angin yang sejuk menggelitik leher jenjangnya. Surai hitam legamnya yang berterbangan dengan netra merah ruby itu bisa melihat seorang wanita yang sangat dia kenali, tapi ada apa dengan tanda di wajah dan tangannya itu.

Tangan emasnya yang terpasang hingga lengan atasnya yang terlihat seperti terbuat dari besi dengan tanda emas yang seperti bekas air mata turun melewati kedua pipinya. Surai putih keperakannya membuatnya mengingat kembali wanita yang sudah menikah dengannya.

Wanita itu tetap diam mengambil beberapa bunga dan dengan terampil dia merangkainya. Dia bisa menebak apa yang akan wanita di depannya itu akan buat. 

Mahkota bunga yang sering Arabella buat.

"Siapa kau?"

Suaranya keluar begitu saja. Dia tidak ingat pernah mengunjungi tempat seperti ini.

Wanita itu tetap diam dan sesekali berdeham senang karena melihat hasil karyanya yang sebentar lagi akan terlihat.

"#A+*$%GQ+=."

Hans mengerutkan keningnya. Apa yang sedang wanita itu katakan?

|[SELAMAT DATANG.]|

"Siapa kau?" Tanya Hans sekali lagi dan wanita itu menoleh dan hanya memasang wajah datar berbalik dengan wajah Arabella yang selalu berser-seri. Hans bisa melihat wanita di depannya itu terlihat sangat persis seperti Arabella yang membedakan hanya eskpresi mereka yang datar dan terkesan kaku.

|[INI BUKAN WAKTU MU.]|

Hans memilih diam mendengarnya. Jika pun dia punya pertanyaan lebih yang dia dapatkan pasti sama.

"... Apa yang kau lakukan disini anak muda?"

Hans membelalak tidak percaya bisa mendengar suara itu. Itu suara yang sama Arabella miliki, tapi kenapa penampilan mereka sangatlah berbeda. Kesamaan mereka bisa Hans kira hanya delapan puluh persen saja.

Mata Hans menatap penuh penasaran dengan tangan mekanik berwarna kuning keemasan itu.

Wanita itu melihat apa yang terus lelaki di depannya perhatian.

"Apa kau mau tangan ku?"

"Tidak, bukan, bukan itu maksudku."

"Lalu,..." Kepala wanita itu miringkan sedikit dengan netra nya berwarna diamond dengan di dalamnya bisa Hans lihat tercetak lambang bintang utara. "Apa kau ingin menemaniku disini... Selamanya?"

"Maaf, aku tidak bisa. Seseorang pasti sedang menunggu ku, tapi apa kau Bella?"

Wanita itu tau maksud dari Hans dan tetap dengan wajah datarnya menatap lelaki itu lebih teliti.

"Ya dan tidak."

Mendengar jawaban yang tidak memuaskan hatinya Hans mengamati sekeliling. Hingga matanya bisa melihat gerbang yang sangat besar itu tertutup dengan ukuran yang tidak Hans mengerti dan dia bisa melihat disudut pintu itu ada beberapa coretan anak kecil.

"Lalu, siapa kau? Dimana aku sekarang?"

"Aku Bella. Bella Sang Penjaga Gerbang."

"Huh? Berhenti membual dan katakan sebenarnya."

Hans menatap tajam wanita itu yang masih setia dengan wajah datarnya. Bahkan nada suaranya yang datar membuat Hans kesal.

"Katakan pada ku. Apa ini mimpi? Jika benar kenapa kau berpenampilan seperti, Bell?"

Aku... Tuan Putri?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang