BAB 49 : KUNJUNGAN

988 166 14
                                        

Suhu terasa sangat panas saat ini. Itu berhasil mengusiknya dan terbangun dari bunga tidur yang begitu indah. Hans yang dalam posisi tengkurap memeluk bantalnya menyipitkan matanya. Melihat hari sudah kembali cerah dan matahari terlihat tersenyum lebar kali ini juga.

"Em, Bell."

Suaranya yang terdengar serak basah khas seseroang bangun tidur mencari wanita yang semalaman menemaninya. Hans meraba sisinya, tapi tidak menemukan apa pun selain seprai yang sudah kusut karena ulah mereka berdua.

"Bella? Bell, dimana kau?" Tanya Hans sekali lagi tapi kali ini dia perlahan bangkit duduk mengamati kamarnya yang terlihat lenggang.

"Bell."

Hans memijat pangkal hidungnya. Mencoba kembali sadar sepenuhnya disini, tapi siapa mengira jika istrinya itu baru saja keluar dan membawakan senampan makanan.

"Darimana?" Tanya Hans mengedipkan mata beberapa kali yang terlihat buram pada awalnya.

"Membawa makan siangmu tentunya?"

"Huh? Makan siang?"

Arabella mengambil duduk disamping ranjang mereka berdua. Menuangkan segelas air untuk lelaki itu dan dengan senang hati Hans langsung meminumnya.

"Jam berapa sekarang? Aku ada jadwal--"

"Pertemuan dengan para tetua, makan siang dengan beberapa penguasa daerah, dan kembali mengecek laporan harian. Aku sudah melakuka semuanya. Kau tidak perlu pusing memikirkan semua itu. Sekarang bangun, mandi, atau kau mau makan lebih dulu."

"Hm, mungkin mandi lebih dulu."

Arabella menaruh nampannya diatas nakas. Melihat jam sekarang sudah lewat tengah hari. Melihat Arabella bangkit membuat Hans bertanya-tanya.

"Mau kemana?"

"Aku ada pertemuan dengan para istri penguasa. Jangan tunggu aku, aku tidak yakin pasti pulan jam berapa. Karena setelahnya aku harus pergi ke toko buku."

"Huh? Toko buku?"

"Ya, aku perlu mengambil pesananku."

Setelah mengatakannya Arabella pamit undur diri. Hans menyadari jika ranjang mereka berdua terlihat sangat berantakan sekarang. Berapa lama dia bermain memangnya tadi malam. Tapi, satu hal yang membuat Hans kebingungan.

Bagaimana Arabella bisa berjalan begitu lancar. Bahkan dia tidak melihat bercak kemerahan dileher dan wanita itu.

Jika dipikir lebih lama lagi itu semakin membuat Hans malu dan membuat wajah lelaki itu merah padam karena 

Seperti yang Arabell katakan, gadis itu benar-benar bertemu dengan para istri penguasa yang terus menyudutkannya, tapi Arabella dengan santai menyesap tehnya dan sesekali menunjukkan jari tengahnya dengan santai tanpa seorang pun sadari.

Arabella tersenyum puas karena tidak seorang pun mengetahui artinya. Seperti wanita pada umumnya yang suka bergosip entah apa yang mereka bicarakan hingga Arabella merasa waktu berjalan sangat lama.

"Yang Mulia, terima kasih. Saya harap dimasa depan kita bisa menghabiskan waktu seperti ini lagi."

Tidak terima kasih."Tentu, aku akan menunggu undangan Anda."

Seketika Arabella menyandarkan punggungnya didalam kereta kuda. Sungguh hari yang panjang dan melelahkan.

Kereta kuda berjalan dengan santai dan Arabella bisa menikmati langit hari ini. Terlihat mulai berubah warna hingga dia sadar keretanya berhenti didepan sebuah toko buku yang terlihat sudah sangat tua dan sepi pengunjung saat ini.

Aku... Tuan Putri?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang