Part 41

1.4K 163 32
                                        

Ting

Diambil ponsel itu. Membuka lalu melihat apa isi pesannya.

Matanya membulat ketika melihat isi pesan itu. Disana, terdapat gambar seorang gadis yang terbaring lemah dengan berbagai alat di tubuhnya.

"Tidak mungkin" lirihnya.

Dengan keadaan yang masih syok, Segera ia menghubungi seseorang untuk memastikan.

Tut tut tu--

"Unnie!"

Terdengar suara tangisan disana membuat hati Yerim menjadi risau. Dengan bibir yang bergetar ia kembali berucap

"Unnie, dimana Sinb?"

"Unnie?"

Suara isak tangis itu berhenti dan Yerim masih menunggu Yuju berbicara.

"Sinb-ya" lirih Yerim menjatuhkan ponselnya karena terkejut.

Benar saja, Yuju mengatakan jika Sinb kecelakaan dan harus terbaring di rumah sakit. Keadaanya kritis. Yerim yakin itu bukan murni kecelakaan tapi apa yang menimpa Sinb saat ini ialah sudah direncanakan.

"Tidak! Tidak mungkin! Sinb!"

Segera Yerim bangkit lalu...

Dor dor dor

"Seulgi Unnie!"

"Buka pintunya!"

"Unnie!"

Pintu kamar itu tetap tidak dibuka membuat Yerim kecewa. Tubuhnya meluruh dan menangis disana.

"Unnie buka pintunya" ucap Yerim di tengah isakannnya.

"Kalian jahat!"

"Kalian egois!"

"Aku benci! Benci! Benci!"

Yerim terus meracau ketika tidak ada satu pun keluarga yang membantunya. Mereka hanya diam dan membiarkan Seulgi mengurungnya dikamar.

"Un-- Uhuk! Uhuk! Uhuk!

Tangannya langsung menutupi mulut ketika akan mengeluarkan sesuatu. Menurunkan tangan itu lalu terkejut melihatnya

"Apa ini? Darah?" Heran Yerim yang melihat tangannya dilumuri darah.

Uhuk!

Lagi. Yerim memuntahkannya lagi dan kali ini ia biarkan darah itu terjatuh ke lantai

Siapapun tolong aku.

***

Sementara di ruang tamu kelima wanita itu tengah berkumpul membicarakan masalah tadi. Mereka seperti tuli tidak mendengarkan teriakan Yerim yang meminta dibuka.

"Jadi bagaimana?" Tanya Seulgi pada keluarganya.

"Untuk kedepannya kalian harus berhati-hati, jangan sampai kalian lengah menjaganya dan untuk kejadian tadi Halmonie sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya" jelas Yoona menatap satu persatu anak serta cucunya.

"Tapi siapa pelakunya? Bagaimana mungkin kalo wanita itu lagi?" Bingung Wendi

"Benar. Bukannya Kim Sojung berada dipenjara?" Imbuh Joy

Mereka mengangguk membenarkan ucapan barusan. Bingung akan siapa pelaku itu.

Seulgi menghela napas "apa mungkin ada seseorang lagi yang ingin menghancurkan keluarga ini?"

Mereka terdiam. Bagaimana jika itu benar terjadi? Jika iya siapa? Apa motipnya? Mereka saling terdiam dengan pikiran masing-masing.

Irene? Sedari tadi hanya diam tidak ikut bergabung membicarakan hal tadi. Yang dipikirkannya hanya Yerim. Ia terus memikirkan keadaan putri bungsunya yang di kunci di dalam kamar oleh putri pertamanya. Hatinya sangat resah karena takut terjadi sesuatu di dalam sana.

"Seulgi-ya" panggil Irene

"Ne?"

"Apa kamu tidak berlebihan, Yerim.."

Seulgi tertegun. Baru menyadari hal itu. Terlalu berlebihan dengan mengurung adiknya dikamar. Merasa bersalah akan hal itu lalu ia pun bangkit dan pergi menuju kamar adiknya.

Yerim, Maafin Unnie.

****

"Kamu kakaknya?" Tanya seorang dokter setelah keluar dari ruangan berbau obatan itu.

Yuju mengangguk berbinar.

"Ne dokter. Bagaimana keadaan adik saya dok?"

Yuju berharap jika adiknya itu baik-baik saja dan tidak terluka parah. Tadinya ia sangat cemas melihat Sinb yang tergelatak dijalan dengan darah dimana-mana. Apalagi ia melihat sendiri bagaimana adiknya tertabrak oleh Mobil berwarna hitam itu. Naasnya ia juga tidak tahu siapa pengemudi itu.

Dokter itu menggeleng lemah membuat  harapan yang dinanti-nantikan Yuju hilang seketika.

"Mianhae, saat ini adikmu kritis"

"Tidak mungkin!" Kaget Yuju sembari menggeleng . Ia tidak percaya dengan perkataan dokter itu.

"Tidak mungkin kan dok?!"

Tangannya menguncangkan bahu sang dokter untuk benar-benar memastikan. Air matanya sudah luruh sedari tadi.

"Dokter! Jawab?!"

Dokter itu hanya menunduk. Yuju tidak terima adiknya kritis. Ia terus menangis meminta penjelasan.

***

Cklek

"Yerim!"

Irene terkejut. Ia langsung menghampiri Yerim yang terduduk lemah di lantai.

"Hei kamu kenapa?!"

"Kenapa muntah darah, hah?!"

Yerim mendongak. Pandangannya sayu, lantas Irene langsung mengusap sekitaran bibir Yerim yang terkena darah. Air matanya luruh.

Disana, Seulgi hanya berdiri kaku. Terkejut apa yang menimpa adik bungsunya. Menyesal, pasti.

Uhuk! Uhuk!

"Omo!" Kaget Wendi yang melihat langsung Yerim memuntahkan darah.

"Sayang hiks, kenapa?" Lirih Irene dengan tangan kiri yang mengusap punggung Yerim dan sebelah tangannya membersihkan darah yang tersisa dimulut Yerim.

Yerim hanya tersenyum getir. Sudah begini keluarganya memperhatikannya. Kemanakah mereka tadi?

"A-ku baik-baik saja"

"Tidak! Ayo kita ke rumah sakit kau harus di periksa! Joy bantu Mommy" suruh Irene pada Joy yang di dekatnya dan Joy pun dengan sigap membantu walau perasaannya kalut.

"Tidak. Tidak perlu" tolak Yerim yang melemas.

"Yerim jangan menolak" peringat Yoona. Dirinya juga khawatir melihatnya.

"Ayo cepat!"

Dengan segera Irene membantu putrinya untuk naik ke punggung Joy dan bergegas ke Rumah sakit. Selama melangkah Irene berada dibelakang joy ikut memegang punggung Yerim karena takut jika Joy tidak kuat dan mereka malah terjatuh.

"Hati-hati" peringat Irene dan di angguki Joy.

"Gi, ayo" ajak Wendi menyadarkan Seulgi yang terdiam.

Ya, ayo.















Cirebon, 26 September 2021.

Note:
Weekendnya sepi nih gada yg up Wp😌

Jangan lupa vote komen Terimakasih gaess

TogetherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang