tidurkanlah cenayang
yang memimpikan gunung bening dari masa depan
kikir tak membagi isi kepalanya
setengah bercerita setengah menderita
atau ucaplah ramalan dua bentuk
pada garis tangan dan cermin mataku
beralih pada sinyal elektris tubuhnya yang menggurita dari atas pohon
mengejek dunia dengan juluran lidahnya, juga dengan air seni yang tiada segan dikeluarkannya
butalah Anakku!
pada dunia penuh informasi
personifikasi segala bentuk perasaan sedang berjoget di televisi
untuk mendikte otakmu dan menembakkan segala neurotransmitermu
istirahatlah sinaps-sinaps bangsa
jauhkan segala tutur kata dan gerak-geriknya
juga tipu-tipunya yang mengakar
seperti kanker, diam-diam sudah berada di pinggir kuburan
suruh Serj Tankian diam dan berhenti berdoa, urat nadi Bumi sudah mau pecah, tapi urat malu para raja masih saja memanjang
sudahilah gonggonganmu anjing akademika
negara sudah jadi penangkap hewan liar yang membabibuta
babibu-mu diberangus
kau jadi babu di tanah yang mempertuankanmu dahulu
jauhkanlah buku tebalmu
biarkan kacamatamu berdebu hebat
dan buramkan pandanganmu terhadap dunia, kalikan dua, dan barulah kau buat tutorial singkatnya
musikalisasi hari-harimu seperti kera bodoh yang disuruh-suruh layar genggam
angka-angka dan simbol hati sambung-menyambung seperti rantai panas yang memasungmu di tengah pertunjukan
eksposur mencambuk pantatmu sampai kau terkenal, kebal pada kepalsuan yang berulang-ulang kau goyangkan
tidurlah sayang, besok masih ada laporan di meja, makan saja sebagai sarapan terbaikmu sebelum menghadap kekekalan
suapi cenayangmu sampai dia pensiun dari dunia ramalan
dunia tak lagi butuh visioner jenis apapun, kecuali yang paling dungu, sepertimu
KAMU SEDANG MEMBACA
MONOPOEMA
PoetryM O N O P O E M A Kuambil kembali apa yang tidak pernah kumiliki.
