Bintang menemani Kian melukis, ya seperti yang sering kalian dengar, Kiana suka melukis dan semuanya didominasi warna hitam.
Bintang menerawang langit yang sedikit mendung hari ini, kenapa ia rindu dengan gadis kecil yang baru saja ia peluk tadi. Rasanya tak puas bertemu hanya beberapa menit.
"Gala!" panggil Kian
Bintang menoleh, "Bintang aja ya? Kurang nyaman aku di panggil Gala."
Kian tersenyum lalu ia kembali melukiskan warna pada kanvas, "Padahal aku punya arti sendiri untuk nama itu."
Entahlah, Bintang tak merasa penasaran sedikitpun. Bahkan tubuhnya disini dan pikirannya entah dimana.
"Kamu boleh pergi," ujar Kian
"Kamu sendirian?" tanya Bintang, ya mereka selalu melukis di roof top sekolah.
"Aku ada foto nanti disini sama temanku."
Bintang mengangguk dan kini ia mengelus kepala Kian sejenak lalu pergi dari sana, mungkin perpustakaan akan menjadi tujuannya sekarang. Akan ada ulangan harian minggu depan dan Bintang harus menyiapkannya.
Bintang menghentikan langkahnya ketika melihat gadi kecil membawa beberapa buku yang ada di kedua lengannya.
"Mau aku bantu, Ca?" tanya Bintang
"Ah nggak perlu, aku duluan ya Bin!" pamit Ica lalu ia pergi dengan kedua temannya
Bintang mendengar samar-samar, kedua teman Ica itu meledek dan membuat Ica malu karena baru saja Bintang memanggil Ica dan menyebutnya dengan kamu.
Bintang memasuki ruang perpustakaan yang sedikit sepi, entah kenapa Vina memperhatikannya begitu tajam dari jauh.
Entahlah, peduli apa juga.
***
Bel pulang sudah berbunyi nyaring, semua siswa-siswi berbondong untuk pulang, saat tiba tepat di parkiran tak sengaja Bintang melihat Ica dari kejauhan, ia tampak tersenyum dan tertawa lepas dengan kedua temannya.
Sebenarnya, Bintang ingin mengukir tawa untuk Ica, semenjak mengingat siapa Ica, Bintang sering melihat wajah Ica yang tersenyum berada di dalam kepalanya. Bintang rindu tawa itu, tawa yang dulu hanya miliknya.
"Bin!" panggil seseorang
Bintang tergelak, ia melihat perempuan yang baru saja menepuk lengannya itu, "Kenapa?"
"Kian mana?" tanya Vina
Bintang celingukan, oh ya. Lupa dia meninggalkan Kian di atap sekolah tadi, dan ia juga tak menyadari bahwa Kian tak masuk kelas hari ini.
"Gue-"
"Bodoh lo! Sukanya liat cewek lain mulu!" maki Vina, Bintang hanya acuh mendengar ucapannya yang sama sekali ia tak mengerti.
Bintang memasuki mobilnya dan mulai melaju meninggalkan kawasan sekolah, ya hari ini dia akan ke rumah Arsa. Entah ada apa, Arsa yang menyuruhnya untuk datang ke rumah.
Sialnya, sore ini macet. Bintang tak bisa lagi salip menyalip seperti awal ia menggunakan motor, ia harus sabar dan menunggu.
Karena bosan, ia menengok kesana kemari, dan saat melihat ke samping kiri ia melihat motor Damar, ya Bintang mengenalinya jaket hitam dan sepatu lusuh itu milik Damar. Lalu, gadis itu?
Kiana? Rambut panjang dan sepatu putihnya itu persis seperti milik Kian. Bintang mempertajam penglihatannya, ia melihat tas dan benar gantungan kunci tasnya bertuliskan VLS itu adalah brand baju yang Kian modeli.
KAMU SEDANG MEMBACA
DUA TIPE
Teen FictionBintang Gala Pratama terus dibayangi masa lalu yang menyedihkan, ketika ia mencoba mengambil tindakan untuk pergi dan melupakan masa lalunya, ia bertemu dengan Kiana gadis cantik yang siap menemaninya. Namun, Bintang jatuh hati akan kebaikan Kiana d...
