Bintang mendapat pesan dari Kian bahwa tidak ada jam pelajaran di kelas, ia bersyukur karena tidak harus susah payah mengejar materi jika tertinggal.
Bintang melirik Santo yang tengah duduk sambil membaca buku, "Lo nggak ke kelas? Biar gue aja yang jaga!"
Santo melirik Bintang sejenak lalu ia kembali membaca bukunya sambil sesekali membenahi kacamatanya, "Saya takut."
"Takut?"
"Iya, kemarin nggak ikut rapat jadinya saya di hukum bonceng Damar naik motor kebut-kebutan, saya sampe baca alfatihah berkali-kali."
Bintang tersenyum menanggapi ucapan Santo, memang sudah seperti itu kah tanggung jawab sebagai anggota Farmon? Padahal banyak urusan lain selain tentang geng ini.
Brakk
Bintang dan Santo terkejut, mereka berdiri bersamaan dan melihat kearah pintu depan yang terdapat tiga orang yang mengenakan hoddie hitam, masker hitam, dan tudung yang menutupi wajah mereka.
Salah satu dari tiga orang itu maju, lalu berhenti di hadapan Bintang yang sudah siap dengan lengan untuk meninju.
Lelaki itu membuka tudung hoddienya, lalu membuka masker yang menutup mulut dan hidungnya. "Bintang Gala Pratama, kita bertemu lagi."
Bintang memundurkan langkahnya, tiba-tiba tubuhnya kaku dan kelu saat melihat wajah lelaki misterius yang baru saja datang untuk menyerang markas ini.
"Apa kabar? Gue liat lo nggak cupu lagi?!"
Bintang memegangi kepalanya yang terasa pening, telinganya berdenging.
Lelaki itu mendekat, lalu menyentuh bagu Bintang, "Lo di Farmon? Bukannya lo cupu? Apa lo ikut geng ini cuma buat gaya-gayaan doang?!"
Santo yang melihat Bintang kesakitan entah kenapa itu, kini Santo memukulkan bukunya ke leher lelaki itu dan membuat lelaki serba hitam itu menoleh dan merasa kesal.
"Kurang ajar! Habisin dia!" perintahnya pada kedua temannya
Santo di pukuli habis-habisan, dirinya tak bisa melakukan apa-apa kecuali berlindung dengan tangannya yang kurus.
Bintang semakin sakit mendengar suara pukulan, ia merasa kejadian dua tahun lalu kembali terulang bahkan seseorang yang menyentuh bahunya adalah penyebab dirinya trauma.
"Darko!" teriak seorang perempuan yang baru saja datang ke markas
"Jangan pernah sentuh Abin, jangan pernah buat dia sakit!"
Darko mendorong tubuh Bintang, lalu ia menghampiri perempuan imut yang datang dengan temannya, "Ca, kamu disini?" ucap Darko dengan lembut sambil menyentuh pipi Ica
"Jangan pernah sentuh siapapun! Kamu itu racun!" teriaknya pada Darko dengan air mata yang terus mengalir
Hana bingung dengan situasi seperti ini, bahkan ia juga ketakutan melihat Santo yang babak belur karena di keroyok. Ia hanya terdiam sambil meremas roknya.
"Iya iya, aku rindu kamu cantik! Kita pergi dari sini ya?!" goda Darko pada Ica
Ica sangat takut dengan suara itu, bahkan perasannya campur aduk dan penuh akan amarah.
"PERGI!" teriaknya pada Darko
"Kita pergi bersama ya?"
"ANJING LO!" umpat Ica
Hana terkejut, bahkan semua yang ada di markas terkejut mendengar Ica mengumpat, namun tidak dengan Darko yang malah mengeluarkan smirknya.
"Berani lo sama bos gue?!" teriak salah satu teman Darko
KAMU SEDANG MEMBACA
DUA TIPE
Novela JuvenilBintang Gala Pratama terus dibayangi masa lalu yang menyedihkan, ketika ia mencoba mengambil tindakan untuk pergi dan melupakan masa lalunya, ia bertemu dengan Kiana gadis cantik yang siap menemaninya. Namun, Bintang jatuh hati akan kebaikan Kiana d...
