Bagian 19|| Datang ke Rumah

30 6 3
                                        

Bintang yang baru saja masuk kedalam rumah sedikit meregangkan otot-otot pada lengannya, ia melempar tas ke atas sofa lalu melihat sekeliling rumahnya.

Bintang mencoba mencari seseorang, kenapa begitu sepi? Bukankah seharusnya...

"Nyari Ica?"

Bintang menoleh ke arah Nana yang berdiri di daour bersih, "Ngapain kakak cari orang di rumah sendiri."

Nana tampak berjalan menuju Bintang sambil membawa cawan putih, "Tapi cuma dia yang setiap hari ada di rumah kita."

Nana duduk dan meletakkan cawannya di atas meja, ia menekan remot tv dan membiarkan TV menyala.

"Kurang kerjaan tuh anak," ujarnya lalu mengambil cawan yang ternyata berisikan cappucino kesukaannya

"Iih kak Abin! Minumanku!"

"Siapa suruh buatnya cuma satu."

Nana hanya menghela nafas pasrah, hari-harinya sedang tidak baik, bahkan jika dilihat kakaknya pun begitu. Baru saja pulang karate wajahnya tertekuk dan tidak tersenyum sedikitpun. Padahal, biasanya ia akan tersenyum ketika melihat Nana.

"Kak!"

"Hm."

"Kakak belum coba mengingat kembali?"

"Mengingat apa?"

"Ica, dia orang yang sagat berharga buat kakak."

Bintang terdiam, ia jadi teringat tadi di sekolah saat dirinya melihat Ica di depan kelas, bukannya menyapa ia malah sengaja tersenyum dan tertawa di depannya bersama Kian. Bukankah Bintang sudah menyuruhnya agar berhenti? Berhenti mengulik masa lalunya, karena itu buruk.

"Kak!"

"Kakak ke kamar dulu!" ujarnya lalu mengusak rambut Nana sejenak dan berlalu.

Di dalam kamar Bintang terdiam, ia memandangi cermin yang menampakkan dirinya.

"Usaha gue udah berhasil, apa harus gue kembali dan menderita?"

Bintang benar-benar tidak ingin mengingat masa lalunya, dimana kini dirinya berhasil lepas dari trauma yang ia alami dalam beberapa tahun. Meskipun masih sering muncul dalam mimpinya.

Ada, seseorang yang membantu dirinya untuk melupakan segalanya. Tapi, saat ini semuanya sudah berhasil kenapa masih ada yang janggal?

Bintang merogoh saku celananya, ia mencari kontak seseorang untuk di hubungi.

"Arsa, lo sibuk?"

***

Di balkon sebuah apartemen lantai lima, kini dua orang lelaki sama-sama memandangi langit malam yang gelap.

"Apa masih perlu?"

"Masih."

Bintang menoleh, jawaban Arsa sama sekali bukan jaeaban yang seharusnya.

"Tapi masa lalu gue itu suram, harusnya gue berhasil lewatin masa itu. Dan semua ini juga kerja keras lo! Tapi kenapa bilang masih?"

"Karena lo melupakan, bukan menyelesaikan."

"Apa hal serumit itu bisa di selesaikan?"

"Semua masalah ada jalan keluarnya, lagipula saat itu saya hanya menuruti apa yang diminta Bunda lo. Membuat lo lupa akan kesakitan di masa itu."

Bintang terdiam. Awalnya, dan jika, Bunda masih ada di sisinya, ia tak butuh siapapun. Dia akan kuat dan berani melawan masa-masa sulit. Tapi, kepergian Bunda itu yang paling dari yang sangat menyakitkan.

DUA TIPECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang