Bintang dan Inez kini tengah panik, ia menelfon ke nomor Ica namun tak ada jawaban satupun, bahkan supir yang menjemput Ica sendiri berkata bahwa tidak ada Ica di sekolah, bahkan ia sudah bertanya pada satpam dan penjaga sekolah lainnya.
"Kemana sih itu anak, kalau mau pergi sama temen kok nggak bilang," ujar Inez dengan panik, ia baru saja pulang dari butik namun wajahnya langsung panik ketika ada Bintang di rumah yang tengah mencari Ica
"Saya udah tanya temen-temennya Tante, tapi katanya Ica nunggu jemputan di halte," ujar Bintang
"Beneran Bu, saya kesana nggak ada neng Ica, bahkan saya sampe masuk ke sekolahnya," ujar supir sedikit gemetar karena panik
"Makanya jangan telat jemput anak saya, kalau sudah begini siapa yang tahu keberadaan dia?!" bentak Inez pada supirnya, sedangkan supir itu hanya menunduk
Inez berlalu sambil memijit pangkal hidungnya, dalam perjalanannya terdengar ia mendumel, "Kalau papah tahu gimana, anak kesayangannya pergi nggak ada kabar. Baru pulang kerja udah di suguhi masalah."
Bintang kini beranjak dari tempat duduknya, ia berniat untuk mencari Ica karena sudah hampir malam tapi tidak ada kabar sama sekali.
"Den!" ujar supir sambil mencekal lengan Bintang
"Kenapa pak?"
"Maafin bapak ya, bapak nggak tahu lagi mau minta tolong siapa!" ujar pak supir sambil menunduk
Bintang menepuk bahu supir itu, "bapak tenang aja, biar saya cari Ica ya pak!"
Kini Bintang berlalu dan mengendarai mobilnya menyusuri jalan, ia tengah memakai pakaian karate, karena baru saja tadi ia tengah latihan namun tiba-tiba supir Ica datang dengan wajah panik dan meminta bantuan untuk mencari Ica.
Bintang langsung meninggalkan lapangan, dan kini dirinya ikutan panik mendengar Ica belum pulang padahal sudah menunjukkan pukul jam sebelas malam.
Bintang melirik ponselnya yang bergetar, nama adiknya terpampang tengah menelfonnya.
"Halo, Na?"
"Halo kak Abin, kak Abin dimana?" tanya Nana dari seberang telepon
"Kakak lagi nyari Ica, dia belum pulang."
"Kok bisa? Sekarang kakak dimana?" tanya Nana
"Lagi di jalan."
"Yaudah, cari Ica sampe ketemu ya kak, kak Abin juga hati-hati udah malem."
"Iya, Na. Kamu tidur ya udah malem."
"Iya kak, tapi kakak udah izin sama Ayah?"
"Udah, Ayah malah nyuruh kakak buat nyari Ica sampai ketemu."
"Oh oke, kak Abin hati-hati ya."
"Iya."
Panggilan terputus, kini Bintang menyusuri jalan sekolah menuju wisata terdekat, Bintang sedikit ragu apakah jalannya benar atau tidak, namun ia terus menyusuri jalanan tersebut.
Tidak ada Ica disana, bahkan hanya beberapa kendaraan saja yang berlalu di jalanan tersebut, Bintang memutuskan untuk putar balik dan menuju kearah dimana terdapat sebuah pedesaan yang tak jauh dari sekolah.
Entahlah, apapun dan dimanapun akan Bintang lalui asalkan Ica ketemu, dan benar, kini mata Bintang tertuju pada perempuan kecil berambut pendek yang tengah memeluk seorang lelaki.
Jika dilihat dari ciri-cirinya jelas dia adalah Ica, namun siapa lelaki itu? Berani-beraninya dia menyentuh Ica.
Bintang menghentikan mobilnya, dengan tangan sedikit gemetar ia keluar dari mobil, namun yang membuatnya lebih kecewa adalah ketika suara langkah kakinya tak lagi di indahkan oleh Ica. Bahkan terlihat bahwa Ica terlalu fokus menenangkan lelaki tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
DUA TIPE
Roman pour AdolescentsBintang Gala Pratama terus dibayangi masa lalu yang menyedihkan, ketika ia mencoba mengambil tindakan untuk pergi dan melupakan masa lalunya, ia bertemu dengan Kiana gadis cantik yang siap menemaninya. Namun, Bintang jatuh hati akan kebaikan Kiana d...
