Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bagian 39 || Rencana

14 4 0
                                        

Ica beberapa kali melirik Bintang yang masih fokus menyetir, karena baru saja tadi Bintang datang ke rumah untuk menjemput Ica.

"Kenapa?" tanya Bintang singkat

"Emm, sebenarnya ada acara apa di rumah mas Arsa Bin?"

"Nggak tau."

Oke, entah kenapa Bintang selalu menjawab singkat dan enggan berbicara panjang.

Ica hanya memainkan jemarinya sembari melihat jalanan kota di malam hari setelah gerimis, ia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi yang terasa nyaman sekali tubuhnya saat ini.

"Ca!" panggil Bintang

"Iya?"

"Bagaimana jawabannya?"

"Jawaban apa?"

"Atas pertanyaan, apa gue pernah cinta sama lo."

Ica menegakkan tubuhnya, ia melirik kesana-kemari dengan tatapannya yang tak terarah.

"Apa nggak cukup dengan jawaban iya?"

Bintang mengangguk, "Lo bisa ungkapin semuanya, biar gue ingat dan lo bisa lega."

Ica memang ingin mengungkapkan semuanya, tapi ia tidak mau mengingat masa lalu dan terhanyut akan perasaannya. Ia takut lebih dalam mencintai Bintang yabg sudah menjadi milik orang lain.

"Kayaknya nggak perlu."

Bintang hanya mengangguk paham, mungkin dari ekspresi wajah Ica sudah terlihat bahwa ia tak tertarik dengan topik pembicaraan ini.

Hampir sepuluh menit mobil mereka melaju, namun tiba-tiba ada segerombolan motor yang menyalip mereka dan menghadang mobil mereka.

Ica ketakutan saat melihat tiga orang lelaki yang menggunakan jaket hitam mendekati jendela mobil, "Bin, siapa mereka?"

Bintang menatap tajam laki-laki yang baru saja turun dari motor dan menghampiri jendela mobil Ica, bahkan dari mata coklatnya sudah jelas siapa dia. Ya ketika maskernya di buka dia adalah Darko, sumber dari rasa sakit mereka.

Ica melirik Bintang yang tengah berusaha menguatkan diri, ia meremas keras stir mobilnya dan menatap tajam ke arah Darko.

Tok tok tok

Jendela mobil mulai di ketuk oleh Darko, dengan senyuman yang mematikan itu membuat emosi Bintang tak terkendali.

Ica memegang lengan Bintang perlahan, "Kita pergi aja ya? Abin jangan pedulikan mereka."

Bintang melihat Darko yang memberikan isyarat tangan yang menurun, ia mencoba membujuk Bintang untuk membuka jendela mobilnya.

Bintang membuka sedikit jendela mobilnya, yang tepat dengan posisi Ica, karena khawatir Bintang menggenggam tangan Ica takut jika terjadi sesuatu yang tak di inginkan.

"Gue mau bicara sama lo! Sebentar," ujarnya pada Bintang.

"Bin!" ujar Ica sambil meremas lengan Bintang

Bintang yang sepertinya sudah larut dengan emosi kini melepas cekalan lengan Ica, "lo disini aja, jangan keluar!"

Ica hanya diam dengan rasa takutnya, ia gemetar saat melihat wajah Darko tapi ia juga takut melihat Bintang yang kini berdiri di depan Darko.

"Apa kabar anak mami? Udah nggak pakai kaca mata lagi kaya Nobita? Atau, jangan-jangan lo pake softlens?" ejek Darko lalu setelah itu ia tertawa lepas

Kedua anak buahnya ikut tertawa, dan Bintang masih menahan emosinya, sebenarnya masih ada rasa takut ketika tawa Darko itu menggema di telinganya.

"Balikin cewek gue!" ujar Darko dingin, entah kenapa ia tiba-tiba menghilangkan tawanya.

DUA TIPECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang