Bintang Gala Pratama terus dibayangi masa lalu yang menyedihkan, ketika ia mencoba mengambil tindakan untuk pergi dan melupakan masa lalunya, ia bertemu dengan Kiana gadis cantik yang siap menemaninya. Namun, Bintang jatuh hati akan kebaikan Kiana d...
Ica terdiam dengan raut wajah ketakutan, bahkan wajahnya memerah saat tangan seorang laki-laki menyentuh pipinya, ia memejamkan mata dan enggan melihat laki-laki yang tengah membungkuk dan memandangi wajahnya.
Laki-laki itu mendekatkan wajahnya pada Ica, membuat Ica menangis ketakutan dan pada akhirnya ia memberanikan diri untuk menghindari kontak fisik dengan lelaki ini.
bugh
tepat sasaran, Ica memukulkan buku yang sempat ia ambil dari tasnya itu untuk menggampar Darko, padahal ia masih SMP tapi berani-beraninya bertindak tak senonoh dengan Ica.
"Aishhh," umpat Darko
Ica semakin ketakutan, bahkan ia menutup mulutnya rapat-rapat dan menghasilkan isakan kecil dari mulutnya.
"Bawa dia ke belakang!" suruh Darko pada anak buahnya
Ica teriak ketakutan ketika lengannya di tarik oleh dua orang lelaki yang tak lain adalah ank buah darko sendiri, tubuhnya di hempas hingga tubuh Ica terbesar tembok dengan keras, tak lama kemudian Darko datang dan menyuruh anak buahnya pergi.
Darko menangkup pipi Ica dengan tangannya, "Lo itu cantik, gue itu cinta sama lo! gue nggak akan biarin siapapun deketin lo apalagi si cupu itu!"
"Abin nggak cupu!" ujar Ica dengan ketakutan
Darko menjambak rambut Ica hingga kini kepala Ica mengarah ke belakang, "sakit?" tanya Darko dengan sedikit mengejek
"Kamu itu, nggak pantes di sebut sebagai manusia, kamu itu iblis!"
Darko semakin emosi saat Ica berani meneriakinya, "Berhenti nglawan gue!"
"Iblis! suka nyiksa orang demi kepuasan sendiri! makhluk jahat!"
"Anjing!" umpat Darko lalu ia melempar jambakkan tangannya hingga kepala Ica terasa panas saat tepat membentur lantai.
Darko berlalu, ia meninggalkan Ica di dalam gudang sekolah sendirian, menangis ketakutan karena hari semakin gelap dan lampu gudang sama sekali tak menyala.
Ica merangkak ke pintu depan, ia menggedor-gedor pintu dengan sisa tenaga yang ia punya, meminta tolong pada siapapun yang masih tinggal di sekolah ini.
"Abin, tolong aku," lirih Ica, entah kenapa hanya nama itu yang menjadi harapannya sekarang.
dengan sisa cahaya senja yang menembus kaca jendela gudang itu membuat Ica menutup matanya rapat-rapat, "mataku sakit, perih Bin, aku mau pulang!"
Bagaimana tidak sakit, dirinya terus di paksa untuk mengikuti langkah Darko yang membawanya kesana-kemari, membolos sekolah hingga duduk di pasar dan melihat mereka merokok. dan, sepanjang ia bersama Darko air matanya tak berhenti turun.
Tiba-tiba terdengar suara sepatu dan itu membuat Ica langsung menggedor pintu dan meminta pertolongan, "Tolong aku, aku di kunci di sini! Tolong."
seseorang itu tampak membuka pintu dan kini knok pintu terbuka, tak disangka ternyata ada Bintang disana, dengan baju biru putih yang lusuh dan raut wajah yang datar.
"Abin!" ucap Ica sambil tersedu-sedu dan langsung memeluk tubuh Bintang yang hanya berdiri tegak disana
Ica menumpahkan segala tangisnya dipelukan Bintang, bahkan ia sempat mengatakan beberapa kata yang sayangnya Bintang tak paham karena katanya tak jelas.
tiba-tiba Bintang melepas paksa tubuh Ica yang masih dengan erat memeluknya, membuat Ica mendongak dan seolah bertanya, kenapa? tak biasanya Bintang seperti ini, biasanya Bintang akan khawatir dan merasa bersalah karena melihat Ica disakiti oleh Darko.
"Abin, kenapa?"
"Ca kamu ingat? kamu pernah bilang akan mencintai aku dan menyayangi aku selamanya dan akan berhenti ketika aku yang suruh kamu berhenti?"
Ica terdiam, Ia masih mencoba mencerna apa yang di maksud Bintang.
"Sekarang aku mau kamu berhenti, Ca! Berhenti mencintai aku dan berhenti bersikap seolah-olah kita dekat."
"Kenapa? aku salah apa sama kamu Bin? lalu bagaimana dengan nasibku tanpa kamu? siapa yang akan melindung aku dari_"
"keluarga kamu kaya Ca, kamu bisa minta tolong ke mereka. kamu bisa berbuat apapun dengan harta yang papah kamu miliki." Bintang menjeda kalimatnya, "kita masih SMP, cinta yang kita rasakan itu cuma main-main. kamu bahkan bisa menemukan banyak cowok keren di luar sana, nggak harus aku yang cupu gini," ujar Bintang sembari menunjuk dirinya sendiri ke arah wajah yang mengenakan kaca mata itu.
"Aku maunya kamu,"ujar Ica dengan terbata
"Jangan egois, dunia ini bukan cuma milik kamu. jadi, bukan hanya kamu yang menderita, berhenti mengandalkan orang lain dan berhenti membuat orang di sekitarmu sakit!"
mungkin itu ingatan yang masih Ica simpan hingga saat ini, dirinya memeluk buku coklat yang sedari tadi menemaninya menangis di tengah malam seperti ini, tengah malam yang membuatnya kembali mengingat kejadian menyakitkan dua tahun yang lalu, dan entah kenapa penyebab rasa sakit itu datang kembali dan kembali pula menyakiti kedua orang yang tak bersalah.
3 Mei 2018, hari dimana Ica berhenti meminta tolong kepada Bintang, ia tak lagi mencari Bintang ketika di sakiti dan di siksa oleh Darko, ia bertahan dengan rasa sakit itu sendiri. Bahkan, ketika Ica di siksa di depan Bintang pun, Bintang acuh seolah tak melihat Ica yang kesakitan.
Hingga, pada akhirnya Ica mengungkapkan segalanya pada keluarganya, hal menyakitkan yang selama ini ia sembunyikan saat duduk di bangku sekolah akhirnya ia katakan pada kedua orangtuanya yang pada saat itu langsung menangis dan meminta maaf karena kurang memberi perhatian pada Ica.
Keluarga Ica memutuskan untuk pindah, Keluarga Ica tak menuntut apapun dari Darko. Ia hanya meminta kepada kepala sekolah agar lebih memperhatikan murid-muridnya.
Dengan kondisi ayah dan Ibu yang bekerja, membuat Ica tidak memiliki teman, bahkan untuk mengobrol sekalipun karena Bandung adalah tempat asing baginya.
Ica menangis ketika mengingat wajah Darko, dan menangis ketika melihat seragam SMP NUSA BANGSA yang menjadi saksi bisu dirinya di siksa oleh Darko.
Sampai sebulan kemudian orang tua Ica membawakan psikiater dan berharap semoga Ica kembali pulih seperti dulu.
Dr. Erika, mungkin psikiater itu adalah orang paling berjasa hingga membuat Ica kembali sembuh dan mau tinggal kembali di Jakarta, mengingat pekerjaan orang tuanya lebih dekat dengan Jakarta jadi, Ica mau tidak mau harus mengikuti mereka.
Sakit memang mengingat masa lalu itu, dan setiap detik kesakitan yang Ica lalui ia selalu menuliskan di buku diary coklat yang bersampulkan sketsa serigala putih.
Ica mengadahkan tatapannya, "Bagaimana dengan kamu ,Bin? Rasa sakit apa yang buat kamu benci aku?" lirih Ica dengan air matanya yang tak berhenti menetes.
. .
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.