Sepertinya, memandangi perempuan ini sudah menjadi hobi baru untuk Bintang, tak henti-hentinya ia mengulas senyum saat gadis yang ada di hadapannya mengoles warna demi warna di kanvas lukis yang Bintang berikan untuk Kian.
Semalam Bintang dikabari Nana tengah berada di Gramedia untuk membeli peralatan sekolah bersama teman-temannya, dan saat itu Bintang teringat Kian yang suka melukis seperti kemarin, ia melukis warna demi warna di sobekan kertas. Jadi, ia memutuskan untuk membelikan dia kanvas agar lebih leluasa saat melukis.
"Gimana hasilnya? Bagus nggak?" tanya Kian dengan sumringah
Bintang menatap kanvas tersebut, ia melihat ada coretan langit senja dan pohon yang tertiup angin. Serta ada dua orang, yaitu satu perempuan dan satu laki-laki mereka tampak saling menatap dan entahlah mereka tengah tersenyum atau menangis karena gambaran mereka hanyalah siluet.
"Bagus," jawab Bintang, meski ia tak tahu apa artinya dan ia juga tidak terlalu ingin tahu. Bisa jadi lelaki itu bukanlah dirinya
"Ini kamu dan aku," beritahu Kian
Benarkah? Rasanya tidak mungkin menggambarkan seorang Bintang dengan senja, matanya saja sakit ketika melihat senja bagaimana dia bisa berdiri di jingganya senja? pikirnya
"Indah sekali," pujinya sambil menatap Kian
"Lukisannya atau akunya?"
"Kamunya."
Kian tersipu malu, ia menundukkan kepalanya sambil menyembunyikan senyum.
"Aku mau nanya boleh?" tanya Bintang
"Mau nanya apa?"
"Kemarin, kamu di ruang OSIS sama Damar?"
Kian yang tadinya tertunduk seketika menatap mata Bintang, lalu segera membuang pandangan, "Memangnya kamu liat?"
"Enggak, aku denger dari salah satu orang anggota Farmon."
"Oh itu, aku cuma mau bantu dia urus -urus karena dia mau keluar dari organisasi kok."
"Oh iya," jawabnya singkat
"Kamu, nggak cemburu?" tanya Kian dengan ragu
"Cemburu, tapi aku percaya kamu. Kiana."
Kian mencubit lengan Bintang yang langsung merasa kesakitan, "Kenapa kamu suka banget gombal sih!"
"Siapa?"
"Kamu lah, siapa lagi."
"Siapa yang nggak nglakuin hal yang sama kalo sama perempuan semanis kamu."
"Ihh tuh kan, Bintang ah," kesal Kian, padahal ia merasa malu
"Iya iya, maaf!" ujarnya sambil mengusak rambut Kian
"Padahal dulu kamu nggak gitu ya? Pas kita masih temenan."
"Kan beda, sayang."
"Sayang?"
"Hem, nggak boleh panggil sayang?"
Kian sudah merasa kesal karena dibuat malu berkali-kali, dasar Bintang kenapa kamu jadi penggombal seperti ini. Buat repot perasaan orang saja.
Kian mendekatkan posisi duduknya, lalu memeluk Bintang dari samping, dan Bintang membalas pelukan itu.
Mereka menatap langit yang sangat cerah dari balkon sekolah, iya. Hal yang sering mereka lakukan adalah pacaran di balkon sekolah.
"Bintang, kalau suatu saat aku pergi. Kamu nggak pa-pa kan ya?"
"Iya."
"Kamu nggak merasa kehilangan aku, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
DUA TIPE
Teen FictionBintang Gala Pratama terus dibayangi masa lalu yang menyedihkan, ketika ia mencoba mengambil tindakan untuk pergi dan melupakan masa lalunya, ia bertemu dengan Kiana gadis cantik yang siap menemaninya. Namun, Bintang jatuh hati akan kebaikan Kiana d...
