Ica tidak tenang, sedari tadi ia menanti Arsa keluar dari kamar Bintang.
Tadi, pembantu di rumah Bintang menelfon Nana dan kini akhirnya Nana izin sekolah untuk melihat kondisi kakaknya.
Ica menatap Nana yang tengah menangis di sofa rumahnya, "Na?"
Nana mendongak melihat Ica yang kini duduk di sampingnya, "Ca, lo juga?" tanya Nana sambil menatap luka pada pipi Ica
"Iya, tapi aku nggak pa-pa."
Nana kembali menunduk dan mengusak air matanya, "Kak Abin itu, selalu menyembunyikan rasa sakitnya sendiri, mungkin dulu Bunda tau, tapi sekarang Bunda udah nggak ada."
Tangis Nana semakin menjadi, Ica dengan segera menenangkan Nana meski dirinya juga menangis.
"Na!" panggil Arsa
Nana dengn segera berdiri dan hendak masuk ke kamar.
"Na!" cegah Arsa sambil memegang tangan Nana, "Jangan sekarang!"
"Kenapa? Apa gue nggak berhak buat tahu rasa sakit kakak sendiri? Lo tu tega! Nyembunyiin semua dari gue bahkan ayah, lo tuh-"
"Na!" potong Ica dan kini Ica memeluk tubuh Nana yang gemetar karena menangis
"Bawa dia duduk, Ca!" perintah Arsa
Arsa menatap Nana yang menangis bahkan perhatiannya sempat teralihkan ketika melihat pipi Ica yang membiru, namun saat ini dirinya harus menjelaskan semuanya pada Nana.
"Na!" panggil Arsa dengn lembut, sedangkan Nana masih menangis
"Kakak kamu memang sakit," ujar Arsa dan membuat Nana mulai memperhatikannya
"Dia punya saya, dia tidak menahannya sendirian. Ayah kamu juga tau, tapi dia enggan memberikan perhatian lebih untuk Bintang karena takut kamu iri, dan Ayah kamu juga takut Bintang merasa lemah. Maka dari itu Ayah kamu bersikap biasa, menyayangi dan mencintai kalian dengan sama tanpa perbedaan. Na, Bintang nggak sendiri, bahkan dia pernah bilang dia bersyukur punya kamu. Kamu juga salah satu kekuatan untuk Bintang!"
Nana meremas roknya, ia semakin merasa sakit mendengar penjelasan Arsa.
"Saya tahu, kamu nggak akan bersikap biasa saja, makanya saya nggak berani bilang sama kamu! Maaf ya, buat seterusnya mungkin kamu bisa mengerti!"
Nana mengangguk pelan, "Aku ke kamar!" pamitnya
"Na kamu-"
"Ca!" cegah Arsa padahal ia yang hendak menyusul Nana masuk ke kamar
Ica menatap Arsa penuh tanda tanya.
"Ikut mas ya?"
"Kemana?"
"Sini!"
Lengan Ica di tarik dan kini dirinya di bawa ke teras depan, Arsa tampak berjalan ke mobil sebentar dan membawa kotak p3k.
Sesampainya di samping Ica, Arsa membuka obat merah dan hendak di oleskan pad luka Ica.
Ica memundurkan wajahnya saat Arsa hendak mengobatinya, "Udh di obatin kok mas!"
"Darahnya baru keluar sekarang, tadi kamu di obatin cuma di usap alkohol kan?"
Ica mengangguk, kini dirinya hanya diam saat jemari Arsa menyentuh pipinya.
"Kamu sudah menghadirkan masa lalunya kembali, lalu setelah ini apa?" tanya Arsa yang masih fokus mengoleskan obat merah pada pipi Ica
Ica sempat menoleh sedikit, "Eumm-"
"Kamu hebat, padahal kamu juga punya rasa sakit untuk itu tapi kamu berusaha menahannya demi Bintang," ujar Arsa lalu ia selesai mengobati luka Ica dan kini merapihkannya kembali di kotak p3k.
"Kamu nggak jatuh cinta sama Bintang kan?"
Ica melotot terkejut sambil menatap wajah Arsa, "Nggak usah kaget! wajah saya emang ganteng."
Ica mengalihkan pandangannya, "Enggak kok!"
"Enggak apa?"
"Enggak ganteng," jawab Ica asal, bahkan ia tersenyum sambil melihat Arsa
Arsa berdiri di depan Ica, bahkan ia bisa melihat mata yang mengecil karena gadis ini tertawa. Lalu ia mengusak rambut Ica dengan gemas.
Arsa memang tersenyum, tapi ia juga paham akan jawaban Ica.
"Mas pulang ya? Kamu jaga Bintang sampai Ayahnya pulang."
"Siap pak dokter!" ujar Ica dengan semangat
Arsa pergi meninggalkan Ica disana, dan kini Ica masuk untuk menemui Bintang.
Bintang yang ada di kamarnya bisa melihat dari jendela, saat Ica dan Arsa bercengkerama tadi, ada hal yang dia ingat dan adapula yang membuatnya enggan melihat gadis itu sekarang.
.
.
Chapter pendek
Next?
KAMU SEDANG MEMBACA
DUA TIPE
Fiksi RemajaBintang Gala Pratama terus dibayangi masa lalu yang menyedihkan, ketika ia mencoba mengambil tindakan untuk pergi dan melupakan masa lalunya, ia bertemu dengan Kiana gadis cantik yang siap menemaninya. Namun, Bintang jatuh hati akan kebaikan Kiana d...
