Gita dan Hana membawa Ica ke UKS, karena tubuh Ica yang lemas dan matanya yang sayu membuat dirinya harus berbaring diatas tempat tidur.
Hana mengoleskan minyak kayu putih di pelipis Ica yang kini terpejam, mungkin saat ini dia tidur karena mungkin saja traumanya baru saja kambuh.
"Awas aja kalo gue liat cewek cablak itu, gue sleding gue tendang gue-"
"Sttt!" potong Hana yang menempelkan jari telunjuknya di bibir, dan memotong pembicaraan Gita yang mungkin saja mengganggu Ica tertidur
Hana mendekati Gita, dan duduk di sebelahnya, "Kayanya kita ngga ada kesempatan buat jodohin Ica sama Kak Damar."
"Ya jangan sampe juga lah, Ica harus dapet cowok yang setia ganteng kaya raya. Bintang sama Damar mah udah bekas cewek cablak mana setuju gue," ujar Gita penuh emosi, meski suaranya sedikit ditahan karena takut membangunkan Ica
Mereka terdiam, memproses semua yang terjadi di otaknya secara perlahan, sebenarnya mereka tidak terima Ica diperlakukan seperti itu. Tapi, jika yang melakukan adalah primadona sekolah yang diagung-agungkan mereka bisa apa? Ya meski sedikit juga orang percaya bahwa Kian adalah orang yang obsesif terhadap Damar.
Ctakk
Hana menjentikkan jarinya diudara, seketika membuat Hana menoleh dan bertanya kenapa?
"Gimana kalo kita balas, kita buat dia malu di depan semua ornag, gimana?" usul Hana penuh semangat
"Kapan?"
"Hari ini lahh, enak aja di abis nyiksa sahabat kita dia malah tenang-tenang aja," ujar Hana dengan lantang
Gita menghela nafas lalu menepuk pundak Hana, "Gue juga mikir gitu, bahkan gua mau balesin dendam itu sendiri tanpa ngajak lo. Tapi kalo Lo ikut siapa yang jaga Ica? Kalo misal cewek cablak itu datang lagi gimana?"
Seketika Hana menekuk ekspresi wajahnya, benar juga, bagaimana jika Kian malah semakin menyiksa Ica? Dan lebih parahnya jika kian menyerang mental Ica, itu akan sangat bahaya.
Pada akhirnya mereka kembali melamun, dimana semua orang senang merayakan lomba dan acara yang meriah mereka malah termenung dan memikirkan bagaimana cara membalas dendam pada orang yang sudah menyakiti sahabatnya.
Cukup lama mereka terdiam, sebelum akhirnya pintu UKS diketuk berkali-kali dan memanggil nama Ica dari balik pintu.
Hana dan Gita saling tatap, "siapa?" tanya Hana
Gita hanya mengedikkan bahu lalu ia membuka pintu UKS yang sengaja mereka kunci, karena mereka ingin Ica tertidur nyeyak.
Namun saat pintu di buka, seseorang di balik pintu itu langsung menerobos masuk dan menghampiri tubuh Ica yang terbaring, ia memegang tangan Ica sambil menunduk.
Hana memberanikan diri menghampiri cowok itu dan memintanya menjauh dari posisi Ica, "Mau apa lo kesini?"
Bintang tampak kebingungan dengan kedua adik kelasnya ini, bukan urusannya jika Bintang ingin bertemu dengan Ica karena sungguh Bintang sangat khawatir, dan itu jelas tidak ada urusan dengan mereka.
"Gue tanya lo ngapain disini?" tekan Hana pada Bintang
Ekspresi Bintang yang datar itu memang sukses memancing amarah Hana, "Nggak ada urusan sama lo, karena gue berhak liat Ica kapanpun."
"Eh lo pikir Ica kayak gini gara-gara siapa hah?" emosi Hana mulai naik dan menarik kerah baju Bintang
Dengan segera Gita melerai dan meminta Hana untuk mundur, sekarang ia yang berhadapan langsung dengan Bintang.
KAMU SEDANG MEMBACA
DUA TIPE
Fiksi RemajaBintang Gala Pratama terus dibayangi masa lalu yang menyedihkan, ketika ia mencoba mengambil tindakan untuk pergi dan melupakan masa lalunya, ia bertemu dengan Kiana gadis cantik yang siap menemaninya. Namun, Bintang jatuh hati akan kebaikan Kiana d...
