Bintang menunggu Ica di mobilnya, sepulang sekolah ini mereka akan pergi ke makam Bunda.
Tak lama kemudian lengan Bintang melingkar tangan perempuan dan dengan refleks Bintang menoleh sambil tersenyum, namun ketika melihat wajah perempuan yang baru saja menggandengnya senyum Bintang memudar.
"Hai!" sapa Kian yang baru saja tiba
Bintang tersenyum canggung, "Kamu belum pulang?"
"Iya, soalnya aku kesel sama kamu. Masa aku tadi di tinggalin di kelas, mana tadi kamu buru-buru banget lagi."
"Maaf, aku ada urusan," ujar Bintang pada Kian
"Urusan apa? Penting? Kamu nggak mau nganterin aku pemotretan hari ini?" tanya Kian
"Lain kali ya," ujar Bintang sambil menepuk ujung kepala Kian
Gita Ica dan Hana yang berdiri jauh dari mereka kini menatap Ica dengan perasaan yang tak karuan.
"Lo yakin mau jalan sama Bintang?" tanya Hana
Ica menggigit bagian dalam bibirnya, sebenarnya iya ia tidak yakin akan pergi ke makam Bunda dengan Bintang hari ini.
"Ca!" panggil Gita
Ica hanya diam matanya tak lepas dari sepasang kekasih yang masih bermesraan di sana, Ica hanya mencoba untuk mengatur nafasnya karena rasanya sangat sesak melihat mereka bersama.
"Ica!" tegur Hana
"Ah iya?"
"Lo yakin mau jalan sama Bintang hari ini?" tanya Hana
"Iya yakin," jawab Iva spontan
"Dengan kemesraan mereka? Lo mau jadi nyamuk lagi?" tanya Hana
Ica menunduk, benar juga apa kata Hana, bukankah kemarin baru saja Ica dijadikan nyamuk saat bersama dengan mereka?
"Ca, mending lo pulang deh, istirahat!" suruh Gita
"Kalian pulang aja dulu! Nggak pa-pa, sebentar lagi juga Abin selesai ngomong sama dia."
Hana dan Gita hanya menyipitkan matanya melihat Ica yabg keras kepala tak mau mendengarkan kata mereka.
"Yaudah gue pulang ya! Telfon gue kalo ada apa-apa!" pamit Hana lalu ia pergi karena Ayahnya sudah menjemput
"Gue juga ya Ca, duluan!" pamit Gita
Ica hanya mengangguk dan ia kembali memperhatikan Bintang dan Kian yang tak kunjung usai, sepertinya terjadi sesuatu. Kian tampak kesal dan tak mau di sentuh Bintang.
Bintang terlihat merayu Kian untuk memaafkannya namun Kian masih saja mengerucutkan bibirnya, hingga entah apa yang Bintang katakan kini Kian tampak tersenyum bahkan tertawa dan memeluk lengan Bintang.
Ica semakin bingung, ada apa dengan mereka dan kenapa kini Bintang memasuki mobil lalu disusul Kian. Ya benar mobil mereka melaju, sempat Ica melangkah dan membuka mulutnya namun sepertinya ia tak pantas untuk menghentikan mereka jalan berdua, memangnya apa posisi Ica? Siapa dia? Hanya teman yang tak terlalu dekat.
Ica menurunkan pandangannya, lalu ia melihat jam pada ponselnya, hari semakin sore tapi Bintang sudah pergi dengan Kian. Sudah terlanjur tadi pagi ia bilang pada supirnya supaya tak menjemputnya dan menyuruhnya untuk mengantarkan Ayahnya dinas ke luar kota. Kalau sudah begini harus bagaimana?
Ica melangkah perlahan keluar area sekolah dan karena sudah sedikit sekali murid yang berlalu lalang, mungkin anak ekskul atau organisasi lain yang masih ada urusan di sekolah.
Ica celingukan, biasanya banyak sekali murid menunggu bus di halte depan tapi ini tidak ada sama sekali, apa karena sudah sore? Ica hanya duduk dan berharap masih ada bus lewat. Tunggu! Memangnya ia tahu jurusan-jurusan bus ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
DUA TIPE
Teen FictionBintang Gala Pratama terus dibayangi masa lalu yang menyedihkan, ketika ia mencoba mengambil tindakan untuk pergi dan melupakan masa lalunya, ia bertemu dengan Kiana gadis cantik yang siap menemaninya. Namun, Bintang jatuh hati akan kebaikan Kiana d...
