Sampai pukul sembilan malam, mereka baru bergegas untuk pulang. Ica mengantarkan mereka ke depan pintu gerbang, dan ya pastinya Gita harus menghantarkan Hana ke rumah.
"Bye, Ca! Jangan sedih-sedih ya?!" pinta Hana yang sudah nangkring di motor Gita
"Iya, kalian hati-hati ya!" sahut Ica
Hana tampak mengacungkan jempol dan kini Gita sudah melajukan motornya, oh iya. Kenapa mereka pulang semalam ini? Karena tadi turun hujan dan dua jam baru reda.
Saat hendak masuk ke dalam rumah Ica terhenti karena tiba-tiba terdapat motor biru hitam yang pastinya Ica mengenali motor tersebut, Bintang.
"Abin?"
Bintang turun dari motornya dan kini menarik lengan Ica.
"Ada apa?" tanya Ica
Ica bisa melihat baju Bintang yang basah kuyup dan bibirnya yang pucat karena kedinginan.
"Abin kehujanan? Ayo Abin masuk! Mandi di sini terus ganti baju nanti Abin masuk angin!" ujar Ica sambil menarik-narik tangan Bintang agar mau masuk ke dalam rumahnya
Bintang hanya terdiam dengan tatapan datarnya, "Lo jangan pergi sama Arsa lagi, ya?!"
Ica mengangkat alisnya tak paham, "Kenapa memang?"
"Nggak pa-pa," jawabnya singkat lalu pergi dengan kuda besinya
***
Bintang terus melihat kearah luar kaca yang menghalangi dirinya dari dunia luar, kenapa tiba-tiba hujan? Disaat dirinya sudah selesai menemani Kian melukis pemotretan.
"Bintang!" panggil Kian
Bintang menoleh, ia melihat Kian yang duduk di sofa sambil membawakannya teh hangat dan roti.
"Aku pulang sekarang ya?" pamit Bintang
"Tapi kan hujan, emangnya mau kemana kamu?" tanya Kian
Bintang juga sebenarnya tidak tahu kenapa dirinya ingin pergi dari sini, seharusnya ia senang karena hujan waktunya bersama Kian jadi lebih lama.
"Aku pulang ya? Damar tadi ngabarin katanya suruh kumpul di markas," ujar Bintang berbohong, padahal dirinya sama sekali tidak menghubungi Damar dan ia juga tidak membuka grup
Kian mengangguk dan membiarkan Bintang pergi dari rumahnya, Kian hanya menyandarkan tubuhnya sambil menerawang keatas.
"Aku tahu kamu bohong," gumamnya
Bintang mengendarai motornya menembus hujan, ia tak ingin menunggu hujan berhenti karena hingga saat ini hujan masih sangat lebat.
Tiba-tiba ia teringat bagaimana wajah Arsa saat mengantarkan Ica pulang, ia kesal dengan wajah itu, dan ia juga sangat benci dari car menatap Arsa pada Ica.
Jarak yang sangat jauh dan perjalanan yang panjang, kini hujan berhenti. Namun, masih ada gerimis yang mengiringi perjalanan Bintang.
Ia berhenti saat melihat gadis bertubuh mungil itu berdiri dengan celana jins navy longgar dan kaos pink yang mengantar temannya.
"Sebenarnya, siapa lo? Kenapa gue nggak tenang setiap kali liat lo?" tanya Bintang pada dirinya sendiri
***
Ica memperhatikan kedua temannya yang sudah berbaikan ini, hari ini pc yang Ica beli dari temannya sudah datang dan kini Hana sudah tidak bersedih lagi karena telah kehilangan pc kesayangan.
"Eh Ca, lo tau nggak?" ujar Hana sambil menyodorkan ponselnya
"Kiana Carabella, kakel kita ternyata cantik juga yah?" ujar Hana penuh semangat sambil menampilkan foto Kian yang mengenakan jins navy dan kaos hitam
"Iya," jawabnya singkat
"Eh kalian pernah denger nggak sih, katanya dia tuh mantan pacarnya kak Damar ketua geng Farmon itu," ujar Hana lagi
"Dan sekarang dia pacarnya Abin," ungkap Ica dalam hati
"Gue denger-denger sih Kiana masih suka sama Damar!" ungkap Hana lagi
"Sok tau lu!" sahut Gita
Ica benar-benar tidak peduli, bahkan kini backsound dirinya yang tengah terdiam adalah suara Hana yang mendominasi dan Gita terus bersikap cuek.
Kian adalah milik Bintang, Ica sudah tidak berharap apapun untuk menempati hati Bintang yang sudah terisi itu.
"Aku ke kamar mandi dulu ya?" pamit Ica pada mereka
"Mau dianterin nggak?" tawar Hana dan Gita
"Nggak usah, aku bisa sendiri kok!"
Ica berjalan dengan lemas, ia juga tidak tahu kenapa tubuhnya bisa selemas ini. Ica pikir, Bintang akan mengatakan sesuatu yang penting malam itu, dia juga berpikir kenapa ia harus menghindar dari Mas Arsa? Bukankah Mas Arsa adalah orang yang baik.
Bukan, langkah Ica sama sekali bukan ke kamar mandi, melainkan ke lantai tiga menuju atap. Ia rindu tempat dimana ia memeluk Bintang, ia ingin sekedar mengingat bahwa Bintang pernah dalam pelukannya.
Ia membuka pintu dan menemukan kekosongan disana, angin yang menyembur wajahnya seakan menyambut kedatangannya, kini langkah Ica membawa kearah samping dimana terdapat kursi dan bangku usang di sebelah kiri, namun langkahnya terhenti saat ia melihat Bintang tengah memandangi perempuan yang tengah melukis sesuatu di kanvas yang mereka bawa ke atap.
Hati Ica merasakan sakit, entah darimana datangnya. Padahal, sejak awal Bintang bukanlah miliknya, Ica membalikkan tubuhnya dan berlari sekencang mungkin untuk pergi dari sana, ia tak sadar air matanya terjatuh begitu pula dengan langkahnya yang melambat.
Ica duduk di tangga lantai dua, ia menghapus air matanya dan berusaha sekeras mungkin agar temannya nanti tidak melihat wajahnya yang sembab.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari tangga atas, membuat Ica terdiam dan takut jika itu adalah Bintang.
"Lo suka? Kejar dia, karena cewek kaya Kian nggak pantes dicintai!" ungkap sosok laki-laki yang berjalan begitu saja menuruni tangga
Langkahnya yang panjang membuat lelaki itu sampai lebih dulu, Ica merasa penasaran, siapa lelaki itu? Kenapa dia tahu?
Ica berlari untuk mengejar lelaki yang baru saja melewati, "Tunggu!"
Lelaki itu masih terus berjalan, Ica berlari agar tak tertinggal dan kini dirinya berhasil meraih lengan cowok itu yang kini terhenti.
Ica terkejut saat melihat wajah cowok itu, ia segera melepas cekalannya dan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kenapa?" tanya lelaki itu dengan dingin
"Kak Damar?"
Damar hanya terdiam, melihat cewek kecil yang ketakutan melihat wajahnya yang penuh luka dan lebam, serta tubuhnya yang bau rokok.
"Kakak, t tadi yang-"
"Iya, kenapa?"
Ica menelan ludahnya gugup, "Kenapa Kian tidak pantas?"
"Lo bisa cari tahu sendiri, gue banyak urusan!" ujarnya lalu pergi
Ica menepuk dahinya keras, ia memang penasaran kenapa Kian tidak pantas dicintai, tapi.... Apakah ia juga tidak sopan karena tidak menawarkan obat untuk luka Damar tadi?
.
.
Jangan lupa follow akun author ya🤗
Follow sosial media author
Ig : @p.velisa0811
Twiter : @KhairaVelisa
Fb : Putri Velisa
Terimakasih sudah membaca Dua Tipe, nantikan chapter selanjutnya yaaa 😍😉
KAMU SEDANG MEMBACA
DUA TIPE
أدب المراهقينBintang Gala Pratama terus dibayangi masa lalu yang menyedihkan, ketika ia mencoba mengambil tindakan untuk pergi dan melupakan masa lalunya, ia bertemu dengan Kiana gadis cantik yang siap menemaninya. Namun, Bintang jatuh hati akan kebaikan Kiana d...
