28. Takut dan Khawatir

304 13 0
                                        

Aqsa dan Keysha sama sekali tidak bicara sejak kepulangannya dari rumah Nenek Keysha. Mereka berdua sama-sama diam.

Keysha melirik sebentar ke samping kanan di mana Aqsa duduk di kursi pengemudi. Dari ekor matanya sudah terlihat Aqsa sedang mencoba menahan emosinya.

"Maaf." Dengan keberanian yang sejak tadi dikumpulkannya akhirnya Keysha angkat bicara.

Aqsa tak berpaling sedikit pun. Matanya menatap lurus. Dari ekspresinya menunjukkan bila ia sengaja tidak merespon ucapan Keysha.

"Keysha ke sana karena setiap malam terus merasa bersalah. Apa yang mereka pikirkan kalau mendengar pernikahan Papa dari orang lain? Selama ini papa cukup mendapat hinaan sekaligus dijauhin dari keluarga Mama." Keysha memejamkan matanya mengingat semua kenangannya.

Aqsa membuang napas kasar. Ia mengacak rambutnya, setelah itu memukul stir dengan sangat kencang.

"Sampai kapan? Sampai kapan Lo terus memikirkan orang lain."

Keysha menatap wajah Aqsa dengan tatapan sendu. "Bukan orang lain, mereka keluarga bukan orang lain. Apa pun yang terjadi dalam hidup Keysha maupun Papa bukankah mereka berhak tau? Keysha adalah cucu dan keponakan sementara papa adalah seorang menantu di keluarga itu."

Aqsa tersenyum getir. "Sekarang gue baru sadar, Lo dan Om Alex mempunyai sifat yang sama. Kalian berdua sama-sama memikirkan perasaan orang lain tanpa mempedulikan perasaan diri sendiri."

"Apa keputusan Keysha udah benar?" tanya Keysha. Semalaman inilah yang dipikirkannya. Apakah keputusannya sudah benar? Keysha tidak mau dengan keputusannya ini menimbulkan kekacauan.

Aqsa memejamkan matanya sebentar dan menarik napas dalam. Setelah itu ia mengelus rambut Keysha pelan dengan senyuman kecil.

"Untuk pertama kalinya gue senang dengan keputusan Lo."

Keysha langsung memeluk Aqsa. Pelukan yang sangat erat. Berharap dengan pelukan ini kekhawatiran yang terus menghantuinya hilang dan berharap keputusannya membawa kebahagiaan bukan sebaliknya.

"Keysha takut, setiap malam Keysha hanya memikirkan bagaimana Papa akan menjalankan hidup nanti? Jodoh, maut, rezeki, pertemuan ataupun perpisahan nggak ada yang tahu. Keysha ingin suatu saat nanti ada wanita yang menemani papa di hari tuanya, memeluk papa di masa-masa sulitnya, dan membuat papa bahagia."

Aqsa melepaskan pelukannya. Kedua tangannya memegang pundak Keysha dengan mata yang menatap wajah Keysha lekat.

Gadis itu menatap wajah Aqsa dengan tatapan rasa takut serta khawatir yang bercampur menjadi satu.

"Bagaimana dengan Lo? Minggu depan Om Alex akan nikah Tante Sarla di mana salah satu keinginan Lo melihat Om Alex bahagia perlahan terwujud. Bagaimana dengan Lo? Apa Lo bahagia dengan perjodohan ini?"

Keysha terpaku sejenak. Untuk pertama kalinya Aqsa menyinggung mengenai perjodohan. Rasanya aneh, Keysha tak tahu harus menjawab apa. Apakah ia bahagia? Atau sebaliknya? Sungguh ia bingung dengan perasaannya saat ini.

"Keysha bingung."

"Pakai sabuk pengamannya!" titah Aqsa.

Keysha langsung mendongak dengan dahi mengkerut. "Mau ke mana?" tanya Keysha.

"Ke suatu tempat, mungkin di situ Lo mendapat jawaban dari pertanyaan Lo selama ini."

KEYNAND

Gea memandangi makanan yang tersaji di atas meja. Ia terus memikirkan sesuatu. Mengingat pertemuannya tadi dengan Keysha membuat rasa bersalah itu kembali muncul.

"Gea sayang, kamu makan cepat. Kita mau pergi ke rumah temannya mama."

Gea mengangkat wajahnya. Ia sudah muak dengan ajakan mamanya untuk berkunjung ke rumah temannya, karena pada akhirnya mamanya akan membahas perjodohannya dengan laki-laki yang usianya lebih tua darinya.

"Gea lagi nggak enak badan," alibinya agar tidak ikut dengan mamanya.

Dewi, mamanya Gea membuang napas kasar. Matanya menatap Gea tajam. "Gea, kamu udah besar udah saatnya menikah. Kamu tahu anak teman mama itu seorang dokter, masa depan kamu pasti terjamin. Kamu bisa hidup tenang, nggak perlu susah-susah kuliah."

Gea tersenyum miring. Inilah yang tidak ia sukai dengan mamanya. Pemikiran kuno yang tak hilang sejak dulu. Nenek dan mamanya sama.

"Gea nggak mau dijodohin, Gea mau nyari calon sendiri." Gea meninggalkan meja makan tanpa menyentuh makanannya sedikit pun. Bila ia terus duduk di sini, hanya akan muncul pertengkaran. Gea benci itu.

Emosi yang sejak tadi Dewi tahan akhirnya meluap, ia memukul meja dengan sangat keras sehingga Gea menghentikan langkahnya menuju kamar.

"Mama yang melahirkan kamu, mama tahu apa yang terbaik. Jangan melawan, apa kamu mau jadi seperti Tante kamu?"

Mata Gea memanas, membahas mengenai tantenya membuat hatinya merasa sakit. Entahlah, sejak dulu ia selalu bersimpati pada adik mamanya itu.

"Tante Riska nggak pernah mengeluh kalau hidupnya nggak bahagia, tapi kalian yang menciptakan kekacauan dalam hidupnya. Kalian nggak pernah menerima kehadiran Om Alex hanya karena dia bukan berasal dari Indonesia. Apa salahnya menikah dengan seseorang yang dicintai? Selama keduanya bahagia kenapa nggak? Perbedaan negara bahkan bukan masalah besar kalau keduanya sama-sama bahagia," ucap Gea panjang lebar, semata-mata untuk membuka mata mamanya yang tertutupi oleh kemarahan.

Dewi mengepalkan tangannya. "GEA BERHENTI JADI SOK TAU, MASUK KE KAMAR!"

Gea menatap Dewi dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebelum ia pergi ke kamarnya, Gea mengatakan sesuatu.

"Kurung aja Gea, tapi dengan mengurung Gea nggak akan mengubah kenyataan kalau Mama adalah satu orang yang bertanggung jawab atas kematian Tante Riska."

Dewi sudah tidak tahan lagi. Ia setengah berlari menghampiri Gea, ia menarik rambut Gea dan menyeretnya masuk ke dalam kamar. Seperti yang dikatakan oleh Gea tadi, Dewi mengunci Gea di dalam kamar.

Di sisi lain, seorang wanita yang usianya tidak muda lagi memandangi kejadian yang baru saja terjadi.

"Dia anak kamu, kenapa bersikap berlebihan seperti itu!" ucap wanita itu pada Dewi yang sedang mengatur napasnya.

"Ma, mama lihat sendiri pengaruh anak pembawa sial itu udah membuat anak Dewi menjadi pembangkang."

"Kenapa karena kesalahan anak itu kamu jadi memarahi Gea seperti itu! Kamu nggak berpikir apa yang dirasakan Gea? Kalau Gea nggak mau menikah yasudah, kita tunggu tahun depan."

Dewi menendang kursi yang ada di sampingnya dengan kesal.

Hai, kali ini segini aja dulu. Jangan lupa vote dan comment nya kalau kalian suka dengan cerita ini.

Keynand [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang