“Kamu tidak tersesat, kamu hanya kehilangan arah. Genggam tanganku, lalu kita keluar bersama-sama dalam labirin cinta.”
—Restu Rafisqy Fathaan—
Ey, yo! Kembali lagi dalam cerita Lonely.
Tolong luangkan waktunya sebentar, ya. Aku mau tanya nih, gimana pendapat kalian tentang cerita Lonely?
Ya, mohon maaf saja jika ceritanya masih berantakan. Maklumlah, sambil menulis, sambil belajar.
Jangan lupa isi di kolom komentar guys!!!!
Happy reading:)
ლ(´ ❥ 'ლ)
Mencintai diri sendiri adalah cara terbaik untuk menghindar dari patah hati. Semua orang perlahan akan meninggalkan, tidak ada jaminan untuk semua orang bisa setia. Bahkan, bayanganmu saja bisa meninggalkan kamu kapan saja. Hal itu yang kini sedang Suci genggam. Ia hanya mampu memeluk dirinya sendiri, sambil menunggu datangnya kebahagiaan yang akan menjemputnya di ujung jalan.
Meski ina tak lagi indah menyambutnya, namun Suci masih berusaha untuk menampilkan senyumannya. Ia bergegas dengan seragam sekolahnya yang rapi, tak lupa juga dengan rambut yang di ikat. Hal yang pertama kali Suci sambut adalah, keharmonisan keluarganya yang tengah sarapan bersama.
“Ayah, Bunda, Suci berangkat dulu, ya, buru-buru soalnya,” pamit Suci dengan menyalim tangan kedua orangtuanya bergantian.
“Oh, ya, Suci. Ini uang jajan untuk kamu. Sekarang, hukuman kamu sudah selesai. Ingat, jangan buat masalah lagi.” Yesha memberikan satu lembar uang berwarna merah.
Suci mengangguk. “Makasih, Ayah.”
Suci senang, akhirnya hukuman itu sudah selesai diberikan. Setidaknya Suci bisa mencicil hutangnya kepada Nadia. Meski pada akhirnya Nadia menolak uang itu. Nadia memang sering begitu. Apa pun untuk Suci, Nadia tidak pernah ada niatan untuk belajar hitung-hitungan.
Saat Suci membuka pintu rumahnya, Suci sudah melihat tubuh tegap tinggi berdiri di depannya. Suci termenung sekejap, sampai pada akhirnya Luna menyenggol bahu Suci, dan menggandeng tangan kekar milik Leonard.
“Sayang, ayok berangkat,” ajak Luna tersenyum manis.
“Ayok. Nanti kita telat,” jawab Leonard, lantas melirik Suci sekilas.
Suci hanya bisa menatap nanar punggung Leonard dan juga Luna. Matanya memanas, hatinya terbakar, dadanya terasa sesak. Sebisa mungkin Suci harus mengatur perasaannya. Suci tidak boleh terus-terus bergelayut dengan perasaannya terhadap Leonard. Cintanya pada Leonard adalah cinta yang salah.
“Aku tahu, Kak. Kita itu tak sama. Kita hanyalah sepasang insan yang berbeda layaknya nirwana dan surya bara neraka,” gumam Suci pelan.
Suci menyeka air mata yang terlanjur menetes. Ia menghela napas sebentar, lalu melangkah menuju motor kesayangannya. Baru juga Suci memasang helm, ia melihat sebuah mobil yang baru saja terparkir di depan gerbang. Suci menaruh helm itu kembali, kemudian ia menghampiri si pemilik mobil tersebut.
“Kak Restu?”
Restu tersenyum tipis, bahkan sangat tipis. Sampai senyuman itu sama sekali tidak terlihat. “Ayok, masuk. Kita berangkat bareng.”
“Ta-tapi, Kak, Suci ‘kan bawa motor,” jawab Suci sambil menunjuk ke belakang. Tepatnya ke arah motor.
“Ayok, Ci. Lo nggak mau telat, kan?” Suci pasrah. Akhirnya ia memasuki mobil laki-laki itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lonely
Teen Fiction[Harap follow sebelum membaca] "Sunyi itu tidak buruk. Hanya saja terlalu sepi." By : Mamake_Nyong. Ini tentang gadis bernama Suci Amara Ayesha. Gadis kesepian, yang terpaksa hidup diantara keramaian di tengah-tengah keluarga bahagia. Sayangnya, Suc...
