20. Drof

2.7K 223 19
                                        

Sebelum membaca, sebaiknya tinggalkan vote terlebih dahulu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sebelum membaca, sebaiknya tinggalkan vote terlebih dahulu.

Siap meramaikan komentar di setiap paragrafnya? Harus siap dong.

Are you ready??

Ready, lah, masa enggak!!!

Let's go!!!!

⊂(◉‿◉)つ

Di sebuah ruangan OSIS, kini Suci dan anggota lainnya sudah berada pada posisinya masing-masing. Setelah tim OSIS baru saja selesai menjadi petugas pelaksana upacara hari Senin yang sudah dilangsungkan sebelumnya, sekarang Suci beralih pada tugas selanjutnya sebagai ketua OSIS.

Rapat OSIS kembali dilaksanakan untuk menyampaikan diskusi yang sedang mereka kerjakan. Mengenai acara ulang tahun SMA Exa School.

"Jadi begini, ulang tahun sekolah di peringati pada tanggal 15 September, bertepatan pada hari rabu. Jadi, untuk memanilisir itu semua, gimana kita majukan menjadi hari Sabtu? Jadi jam KBM tidak terganggu," ujar Suci pada mereka.

"Setuju, sih. Biar ada jeda juga untuk yang lain mempersiapkan acara yang akan mereka tampilkan. Apalagi, acara fashion show jadi dilaksanakan. Dan sudah di acc juga sama pihak sekolah," tutur Ambar.

"Oh, ya, gimana kalau kita undang SMA Dream High ke acara sekolah kita? Biar lebih meriah, dan juga mempererat tali Silahturahmi," usul Gilang.

"Untuk apa, Lang? Ini, kan, acara sekolah kita, nggak perlulah orang lain gabung. Kasih sedikit privasi untuk sekolah kita," tolak Suci tidak setuju. "Kalau ada kericuhan yang tidak terduga gimana?"

"Gue jamin nggak akan ada kericuhan, Ci. Kalau mereka datang dan turut memeriahkan, mereka juga bisa melihat perkembangan sekolah kita. Dan juga beberapa penampilan yang akan sekolah kita tunjukan. Satu lagi, team bazar juga pasti akan semakin laris, jika ramai pengunjung," imbuh Gilang memberitahu.

Faisal menyahut, "Betul apa kata Gilang, Ci. Enggak ada salahnya juga, kan?"

"Okey, fine. Up to you! Kalian atur saja gimana baiknya," pasrah Suci. Meski sejujurnya Suci tidak setuju. "Dan buat kalian, bisa bagikan selebaran ini ke tiap-tiap kelas. Biar gue sama Gilang yang akan menempel selebaran lainnya di papan mading."

"Kalau gitu, meating selesai!"

Diskusi selesai. Masing-masing dari mereka membubarkan diri, dan keluar dari ruangan itu. Termasuk Suci dan Gilang. Keduanya kini berjalan beriringan menuju papan mading untuk menempel sebuah informasi yang sangat penting.

Sepanjang langkah Suci tidak membuka mulut, sampai di depan mading pun masih tak bersuara. Sepertinya Suci merasa kesal, atas usul yang diberikan oleh Gilang. Tapi mengapa Suci tidak terima? Padahal usul yang Gilang berikan sangatlah bagus.

LonelyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang