Aku langsung bertemu dengan guru BK dan mendengarkan penjelasan mengenai beberapa peraturan di sekolah ini. Aku hanya mendengarkan, sesekali mengangguk menanggapi. Tiba saatnya ke ruang kelasku. Aku bersiap-siap, mematutkan diri, memperbaiki rambutku yang sepanjang bahu dengan ujung yang ikal.
Aku berjalan melewati taman kelas yang indah, sekolah ini sejuk, banyak pepohonan dan juga bunga-bunga di sekitar. Akhirnya tiba di depan kelas, aku mendongak ke atas, melihat tulisan XI MIPA 1. Ya ini adalah kelasku. Guru BK itu mengajakku masuk ke ruang kelas.
Guru BK itu mulai memperkenalkanku kepada para siswa. Untunglah, ia tidak memintaku untuk berbicara, aku hanya cukup mengangguk. Guru mata pelajaran yang sudah ada sejak tadi langsung mempersilakanku untuk duduk di kursi yang kosong. Satu meja diisi dengan dua siswa, ada satu kursi kosong, di situ duduk anak perempuan dengan rambut panjang. Sebentar, itukan anak yang tadi terlambat denganku? Dan aku sekarang akan duduk satu meja dengannya? ini tidak disangka-sangka.
Anak itu menyambutku dengan ramah.
"Nggak nyangka yah, kita bisa satu kelas!" Ucapnya sambil tertawa.
"Hehe iya yah." Jawabku sambil menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.
"Namaku Zea." Dia menjulurkan tangannya.
"Aku Ava."
Zea, manusia tercantik yang pernah aku lihat, setelah mama dan aku hehe. Berambut hitam panjang terurai. Matanya, aku sangat menyukai matanya, matanya sangat indah.
****
Saat istirahat, Zea mengajakku ke kantin. Mengajakku untuk membeli bakso langganannya, dia bilang baksonya sangat enak.
"Hai! boleh gabung?" Tanya siswa laki-laki yang sedang memegang semangkuk bakso.
"Hai Javas! sini!" Balas Zea.
"Oh iya Va, dia Javas, dia satu kelas dengan kita." Ucap Zea.
"Tapi aku tidak melihatnya di kelas tadi." Jawabku berbisik.
"Oh Javas sedang bimbingan. Dia sebentar lagi akan mengikuti olimpiade biologi nasional." Ucap Zea.
Aku hanya mengangguk-angguk.
"Oh iya Javas, ini Ava. Dia murid baru di kelas kita." Zea memperkenalkanku.
"Hai Ava, aku Javas." Ucapnya sambil tersenyum ramah.
Aku balas dengan senyum terbaikku.
"Setelah ini kamu masih bimbingan Jav?" Tanya Zea.
"Iya, kemungkinan satu hari full." Jawab Javas sambil menyendok baksonya.
Luar biasa, dia peserta olimpiade nasional biologi. Javas bertubuh tinggi, atletis, dan kukira dia juga anak paskib atau atletik. Dia makan cepat sekali, lebih tepatnya tergesa-gesa. Mungkin dia harus segera kembali bimbingan.
Javas sudah habis menyantap satu mangkuk baksonya dan kembali bimbingan.
Bel masuk berbunyi, aku dan Zea segera masuk ke kelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
DI BALIK LUKISAN
Fiksi Remaja"Ava!! kamu punya kekuatan!" Seru Javas. Aku menatap kedua telapak tanganku dan rasanya tidak mungkin kekuatan itu berasal dari tanganku. Aku menggeleng ke arah Javas sambil mengerutkan dahiku. "Aku tadi melihat cahaya biru keluar dari tanganmu Va...
