Akhirnya setelah satu jam lamanya, Baran dan Ava menuruni bukit. Kini mereka sedang berjalan menuju pos yang petugasnya super kepo itu. Ava berjalan cepat menyesuaikan langkah kaki Baran.
"Bar? Kita tidak menyelinap?"
"Menyelinap untuk apa?"
"Ya kita kan akan menyerang, kita harus memiliki strategi, seperti menyelinap, bersembunyi, membuat serangan tiba-tiba."
"Kita bukan maling."
"Eh bukannya memang biasanya seperti itu?"
"Dari mana kamu tahu?"
"Em ya dari film-film."
"Tujuan utama kita disini bukan untuk menyerang."
"Kenapa?"
"Perang hanya akan menimbulkan banyak korban."
"Lalu kita akan melakukan apa jika tidak menyerang?"
"Aku akan mencoba berdiplomasi."
Baran terlalu dingin untuk diajak berdebat.
Sesampainya di depan pos penjagaan, kedua prajurit nampaknya terkejut melihat Baran.
"Pangeran Baran." Ucap kedua prajurit itu lantas menghadap Baran dan membungkukkan badannya, memberi penghormatan.
"Mohon maaf pangeran, ada yang bisa kami bantu?"
"Saya ingin bertemu dengan raja."
Kedua prajurit itu nampak bingung saling berpandangan.
"Mohon maaf pangeran, bukan wewenang kami untuk memberi izin bertemu dengan raja. Pangeran dapat bertemu terlebih dahulu dengan Pangeran Agra.
Sebenarnya Agra bukanlah anak dari Raja Gara. Namun, karena Raja Gara tidak memiliki anak, akhirnya Agra menjadi anak angkat Gara dan menjadi penerus tahta kerajaan.
"Duh jangan sampai bertemu pria menyebalkan itu lagi." Batin Ava.
Baran tampak mengangguk.
Salah satu prajurit lantas pergi untuk memberi tahu Agra.
Beberapa saat kemudian, munculah sosok pria bertubuh tinggi, berpakaian biru kehitaman, rambut sedikit pirang, kulit putih bersih, dan bola matanya yang berwarna biru, dia Agra.
Agra tampak menunduk sejenak, menghela napasnya yang terasa berat, kemudian berdiri tepat dihadapan Baran. Sejenak mereka berdiam tidak ada yang memulai pembicaraan.
"Mau apa kamu ke sini?" Tanya Agra dengan nada yang lebih santai, berbeda saat di lukisan 2.
"Mengembalikan batu permata ke tempat yang seharusnya."
"Tidak bisa."
"Kenapa? Benda itu harus kembali pada pemiliknya."
"Kalau begitu, lewati aku dulu!" Seru Agra dengan raut muka yang mulai memerah.
"Aku tidak ingin menimbulkan pecah perang. Serahkan batu permata itu, maka kerajaanmu akan aman."
Baran berusaha berbicara setenang mungkin.
"Tidak akan semudah itu Pangeran Baran!" Ucap Agra tertawa sinis.
"Serahkan batu permata itu, maka aku tidak akan melukai satu orang pun di kerajaanmu, terutama raja." Ucap Baran.
Agra mendengus dan Agra tampak melihat-lihat kearahku.
"Sial! Dimana 2 orang ingusan itu?!" Agra menatap Baran.
Maksud Agra adalah Javas dan Zea.
Baran bergeming.
"Sial! Cepat kalian amankan batu permata itu!!!" Seru Agra pada beberapa prajurit di belakangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DI BALIK LUKISAN
Teen Fiction"Ava!! kamu punya kekuatan!" Seru Javas. Aku menatap kedua telapak tanganku dan rasanya tidak mungkin kekuatan itu berasal dari tanganku. Aku menggeleng ke arah Javas sambil mengerutkan dahiku. "Aku tadi melihat cahaya biru keluar dari tanganmu Va...
