Lelaki kekar itu telah siap melepas anak panahnya. Sementara itu, aku dan Javas dalam keadaan pasrah. Mata Javas terpejam. Aku mengguncang-guncangkan tubuh Javas, tapi Javas tetap diam. Aku semakin panik.
Angin tiba-tiba berhembus dengan sangat kencang. Suasana tiba-tiba menjadi gelap. Angin ini membawa debu yang sangat pekat. Aku terbatuk-batuk, mataku pedih.
"Javas bangunlah!" Aku mengguncangkan tubuh Javas. Tapi tidak ada respon.
Kututupi muka Javas dengan daun agar tidak terkena debu. Aku memejamkan mataku, angin ini berhembus sangatlah kencang. Sebenarnya ini adalah kesempatan untuk lari, tapi Javas tidak sadar sedari tadi. Pikiranku kacau balau.
Tapi angin ini menjadi penghalang bagi lelaki itu untuk memanah kami. Sebenarnya lelaki itu sudah melepaskan panahnya ke arah kami. Tapi untunglah angin kencang ini membuat laju anak panah melesat tidak tepat sasaran.
Sekarang aku tidak bisa melihat lelaki itu karena pekatnya angin ini. Aku harus waspada. Aku dalam posisi bersiap. Siap melepaskan anak panah kapanpun.
Aku tidak peduli debu-debu itu menerpa wajahku. Aku tetap berusaha menatap lurus ke depan, hingga akhirnya angin ini mulai berkurang, semakin menghilang. Aku mulai melihat lelaki kekar itu sedang mengucek matanya. Bagus. Ini adalah kesempatanku. Kutarik busur panah dan melesat! Tepat mengenai lelaki itu! Lelaki itu tumbang seketika.
Perhatianku beralih ke Javas yang masih saja tidak membuka matanya
"Javas!" Aku membuka daun yang menutupi wajah Javas.
"Bangunlah Jav!" Javas tetap tidak merespon.
"Jav aku bukanlah calon dokter sepertimu, jangan bikin aku bingung!" Suaraku bergetar, jujur aku sangat takut.
Aku melihat darah mengalir dari dada kanan Javas. Aku sangat bingung, apakah aku harus mencabut panahnya atau bagaimana. Aku harus melakukan apa?!
"Jav tolong bangunlah!" Aku mengecek nadi Javas.
Jantungku berdegup kencang. Aku sangat takut.
Tidak ada denyut. Sebentar, ini tidak mungkin.
Air mataku menetes. Ini tidak mungkin. Sebentar, aku mengeceknya lagi. Aku masih mencari denyut itu. Tenanglah Ava.
Aku mengatur napasku. Akhirnya aku merasakan sedikit denyutnya. Aku bernapas lega. Masih ada harapan. Aku harus meminta bantuan.
"Ava!!!"
"Javas!!!"
Itu suara Baran dan Zea. Aku segera berdiri mencari mereka.
"Di sini!!!"
Aku melihat Baran dan Zea berlari ke arahku. Mereka sepertinya telah melumpuhkan lawan mereka. Aku melihat ada beberapa luka di wajah Zea. Zea juga tampak berjalan sedikit pincang. Tapi aku bersyukur melihat mereka baik-baik saja.
Zea lantas memelukku.
"Kamu tidak apa-apa Va?"
Aku menggeleng.
"Kenapa menangis?"
"Javas Ze." Aku membendung air mataku.
Aku menggeser posisi berdiriku, sehingga tubuh Javas yang terbaring tidak sadarkan diri terlihat oleh mereka.
"Javas!" Seru Zea.
Baran langsung bergegas mengecek tubuh Javas.
"Kenapa ini bisa terjadi Va?"
"Lelaki pengejar kami meniupkan bambu berisi panah kecil dan panah itu mengenai Javas."
"Panah ini beracun." Ucap Baran sambil memegang panah yang masih menancap di dada Javas.
KAMU SEDANG MEMBACA
DI BALIK LUKISAN
Fiksi Remaja"Ava!! kamu punya kekuatan!" Seru Javas. Aku menatap kedua telapak tanganku dan rasanya tidak mungkin kekuatan itu berasal dari tanganku. Aku menggeleng ke arah Javas sambil mengerutkan dahiku. "Aku tadi melihat cahaya biru keluar dari tanganmu Va...
