"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Baran.
Aku dan Javas hanya menggeleng. Kami masih syok.
Zea terlihat masih tercengang dengan apa yang telah ia saksikan.
"Semua bersiap." Ucap Baran sambil bergegas berdiri.
Kami lantas bersiap-siap dengan segala kemungkinannya. Aku melihat kanan kiri, was-was akan ada panah yang melesat lagi.
Dan benar saja, satu anak panah melesat menuju tubuh Baran, untunglah Baran bisa menghindarinya tepat waktu, jika tidak, akan berbeda cerita.
"Bersiap!" Seru Baran.
Kami berempat membentuk sebuah lingkaran, memunggungi satu sama lain.
Terdengar suara langkah kaki, terdengar begitu banyak. Akhirnya mulai bermunculan seperti para prajurit dengan seragam kulit berwarna merah lengkap dengan anak panah. Salah satu dari mereka muncul pria bertubuh tinggi, sangar. Siapa dia?
"Selamat datang Baran!" Ucap pria itu sambil tertawa buas.
Baran tidak menggubrisnya.
"Rupanya, kamu tidak jera! Masih mau masuk ke lukisan 3 hah?" Ucap Pria itu sambil melotot.
Aku menelan ludahku. Baran tetap tidak menanggapinya.
"Oh sekarang kamu membawa manusia-manusia ingusan ini?" Ucap pria itu lagi dengan tertawa lepas.
Enak saja dia bilang kami manusia-manusia ingusan. Aku mengepalkan tinjuku.
"Lihatlah prajurit! Seorang pangeran dari lukisan 2 terlalu takut menghadapi kita. Dia membawa teman ingusannya ke sini!" Pria itu tertawa terbahak-bahak.
Rasanya ingin sekali menghajar pria itu. Aku merangsek maju ke depan, lantas aku tinju muka pria itu. Telak! Mengenai muka pria menyebalkan itu. Pria itu tersungkur. Puas aku.
"Jaga bicaramu!"
Semua terkaget melihatku meninju pria itu.
Pria itu menatapku dengan penuh amarah. Dia memiliki bola mata biru. Bola mata yang langka. Kali ini, matanya memerah. Dia mengayunkan tangan kekarnya ke arahku.
Tapi ayunan tangannya dengan cepat ditahan Baran. Aku melihat mereka berdua saling tatap dengan tatapan kebencian satu sama lain. Pria itu dengan cepat menarik tangannya, seolah tidak sudi tangannya dipegang Baran. Baran tidak berkata satu patah kata pun, dia hanya menatapnya tanpa berkedip.
"Aku datang untuk mengambil kembali kejayaan yang sudah kau dan tuanmu rampas!" Seru Baran. Aku merinding mendengarnya.
"Kalimat yang sama seperti pertemuan kita waktu lampau, kasian, kamu harus menelan kekalahan lagi nantinya." Balas pria itu.
"Ini kalimat yang terakhir, bersiaplah untuk menghadapi kekalahanmu." Ucap Baran.
"Bersiaplah, karena ini adalah terakhir kalinya kamu bisa melihat dunia ini!" Balas pria itu.
Pria itu tersenyum sinis. Dia memberi kode kepada prajurit-prajurit dibelakangnya, lumayan banyak, sekitar 20-an orang. Pria itu mengangkat tangan kanannya. Baran memberi kode kepada kami agar kami bersiap.
Tangan kanan pria itu diturunkan ke bawah. Setelah itu, para prajurit merangsek maju ke depan, menyerang kami.
Aku mengambil posisi kuda-kuda. Kukepalkan kedua tanganku. Beberapa prajurit merangsek maju menyerangku. Sementara Baran berhadapan dengan pria itu.
Aku bukanlah orang yang jago bertarung, aku bertarung ala kadarnya. Menghindari pukulan demi pukulan. Tidak memberikan lawan untuk bisa menyerang kekosongan pertahananku. Aku selalu dalam posisi bersiap menepis pukulan-pukulan. Ketika ada kesempatan bagus untuk menyerang, tak kusia-siakan kesempatan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
DI BALIK LUKISAN
Teen Fiction"Ava!! kamu punya kekuatan!" Seru Javas. Aku menatap kedua telapak tanganku dan rasanya tidak mungkin kekuatan itu berasal dari tanganku. Aku menggeleng ke arah Javas sambil mengerutkan dahiku. "Aku tadi melihat cahaya biru keluar dari tanganmu Va...
