Perjalanan Dimulai

351 35 0
                                        

Pagi ini aku bangun lebih pagi dari biasanya, aku harus bergegas cepat ke rumah Zea, lalu naik angkot ke pusat kota. Nantinya Javas akan menunggu kami di galeri. Aku memakai kaos putih dengan clana krem panjang. Kubiarkan rambut sebahuku dengan ujung ikal terurai. 

Setelah berpamitan dengan mama dan papa yang sedang asik mengobrol di ruang keluarga, aku berlari kecil ke luar. Takut nanti Kak Kava melihatku dan bertanya ini itu, pastinya akan membuang waktuku saja. Sejauh ini aman, Kak Kava mungkin belum bangun tidur. Saat aku melangkahkan kakiku ke pintu, Brakkk! aku menabrak Kak Kava yang akan masuk ke dalam.

"Eh...mau kemana?" Aku mengaduh pelan.

"Mau ke rumah temen."

"Ke mana? Sendirian? Yang betul nih mau ke rumah temen?" Kak Kava terus bertanya.

"Ava mau ke galeri di pusat kota sama temen Ava."

"Ke galeri? Wah! kebetulan kakak lagi pengen banget ke galeri, kakak ikut yah." Aku mendengus kesal.

"Tapi kak, ini Ava pergi sama temen-temen Ava loh."

"Ya emangnya kenapa kalau kakak ikut. Udah gini aja, nanti kakak pinjam mobil papa. Kan lagi nggak dipake. Nanti temen kamu boleh ikut. Daripada nungguin angkot, kelamaan." Kak Kava masih mencoba untuk ikut.

"Ava kalau nungguin kakak kelamaan, belum mandi kan?" Aku mencoba mencari alasan.

"Enak aja, kakak udah mandi. Bentar kakak mau ganti baju dulu." Tanpa menunggu persetujuan dariku, ia sudah berlari ke atas.

Aku tidak bisa menolaknya lagi, manusia satu itu kalau sudah bilang ikut ya harus ikut. Tidak ada perubahan. Beberapa menit menunggu, kakak sudah turun. Lumayan cepat dia bersiap-siap. Kakak tampak meminjam kunci mobil papa, dia mendapatkannya.

Kami bergegas menaiki mobil dan menuju ke arah rumah Zea. Setelah sampai di depan rumah Zea, Zea ternyata sudah menunggu di halaman rumahnya. Aku membuka kaca mobil dan berteriak ke arahnya, dia mendekat.

"Ava..?" Tanya Zea menyelidik.

"Iya, kita berangkat pakai mobil papaku aja Ze, kebetulan Kak Kava juga pengin ikut. Naik Ze." Zea tampak terkejut saat aku menyebut nama Kak Kava. Dia tampak malu-malu naik ke mobil papaku.

"Kak, kenalin, ini Zea. Zea kenalin ini Kak Kava." 

"Zea? Teman barunya Ava yah? Kok betah sih sama Ava?" Pertanyaan Kak Kava membuatku geram, tidak bisakah Kak Kava menjaga perkataannya. Zea hanya tertawa kecil mendengar ucapan Kak Kava.

Mobil melaju cukup cepat. Kak Kava memakai kacamata hitamnya. Dan yang nampaknya gugup ialah Zea! Aku menepuk dahiku. 

Harus kuakui Kak Kava memiliki paras yang kata-katanya orang si tampan, ya lumayan lah, badannya tinggi, atletis. Sikap Kak Kava yang ramah dan suka menolong kepada siapapun mungkin membuat banyak yang kagum kepada Kak Kava dan sikapnya yang jail dan cerewet hanya Kak Kava tunjukan kepadaku saja. Dan harus kuakui lagi, Kak Kava memiliki segudang prestasi, terutama di bidang olahraga. Mungkin perkataan Javas ada benarnya, aku jauh berbeda dengan Kak Kava. Tapi aku tidak perduli, bisakah Kak Kava melihat dari jarak jauh? Bisakah Kak Kava memecahkan benda-benda tanpa menyentuhnya? Aku tersenyum, ini kelebihan dalam diriku, emm atau malah keanehan.


DI BALIK LUKISANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang