Tulisan Terbalik

324 35 0
                                        

Pandangan kami bertiga tertuju pada tulisan yang aku tunjukan.

"Ini tulisan apa Jav?"

"Aku tidak tahu Va, aku bahkan tidak pernah menyadari ada tulisan itu."

"Ini tulisan tetapi sulit untuk dibaca." Zea menggaruk kepalanya.

Aku melihat tulisan itu lebih detail lagi, aku yakin ini sebuah tulisan, tetapi sulit untuk membacanya. Aku baru menyadarinya, ternyata tulisan itu terbalik. Ibaratnya aku baru bisa membaca tulisan itu jika tubuhku juga terbalik.

"Apakah kamu akan membacanya dengan posisi terbalik Va?" Tanya Javas sambil tertawa.

"Tidak perlu, aku pasti bisa membacanya." Jawabku ketus.

"Coba baca yang keras."

"Eh jangan dibaca Va." Cegah Zea.

"Kenapa?" Aku dan Javas bertanya bebarengan.

"Emmm takutnya terjadi apa-apa Va, inikan ruangan rahasia." Aku menepuk dahiku mendengar alasan Zea.

"Ini cuma tulisan Ze, tidak lebih, ini bukan mantra." Aku terkekeh.

"Tapi..." Zea masih ragu, penyakit Zea kambuh, dia yang terlalu hati-hati, berpikir yang tidak-tidak, dan mencemaskan hal-hal yang belum tentu terjadi.

"Tenang saja Ze, ini cuma tulisan biasa." Aku kembali menenangkan Zea.

"Tapi ada benarnya juga Va kata Zea." Bahkan Javas sekarang setuju dengan Zea.

"Aduh kalian ini kenapa sih? Sudah, tidak akan terjadi apa-apa. Dan Javas! dengarkan ini baik-baik."

Aku tidak menuruti mereka, aku berusaha untuk membaca tulisan terbalik itu.

Aku membaca tulisan itu dengan terbata-bata.

"Yang di...di...li..hat ..tidak..se..la..lu...se...se...perti..yang...ter...li...hat..." Aku mengerutkan kening.

Kubaca sekali lagi dengan lebih lancar

"Yang dilihat tidak selalu seperti yang terlihat."

Aku menoleh ke arah Javas dan Zea.

"Kamu bicara apasih Va? Kurang keras." Javas protes. Ternyata dari tadi mereka tidak mendengarku. Kucoba sekali lagi dengan suara keras dan lantang.

"YANG DILIHAT TIDAK SELALU SEPERTI YANG TERLIHAT!!!"

Aku mencoba mencerna kalimat itu, Zea dan Javas nampaknya juga terlihat menerka arti dari kalimat tersebut. Belum sempat kami membicarakan mengenai kalimat itu, tiba-tiba terdengar suara seperti pecahan kaca. Kami sontak menoleh ke arah sumber suara. Sepertinya aku salah lihat, di samping lukisan itu tiba-tiba terdapat lubang hitam, yang semakin lama semakin membesar. Di dalam lubang itu terlihat gelap, aku mengusap wajahku, menoleh ke Javas dan Zea. Mereka juga tampak cemas. Sebelum kami berbicara, tiba-tiba seperti ada magnet yang menarik tubuhku ke dalam lubang itu. Kakiku berusaha untuk bertahan, tetapi tidak bisa, tubuhku dengan mudahnya tersedot ke dalam lubang itu. Aku tidak bisa berteriak lagi, kejadiannya begitu cepat.

Lengkap sudah seluruh tubuhku tersedot ke dalam lubang hitam. Aku merasakan tubuhku terjatuh ke dalam lubang dengan sangat cepat. Sekitarku gelap gulita, aku tidak bisa melihat apapun. Suaraku tercekat, aku tidak bisa berteriak kencang seperti biasanya. Aku masih belum percaya ini, apakah Zea dan Javas melihatku tersedot ke dalam lubang? Bagaimana reaksi mereka saat ini? Sekitar dua menit aku terjun bebas di lubang ini, di bawah sana terlihat titik putih. Semakin lama semakin dekat, aku tidak tahu lagi kejadian apa yang akan menimpaku. Aku memejamkan mata, berharap tidak terjadi apa-apa.

BUKKKK...mataku masih terpejam, aku terjatuh entah dimana. Aku membuka mataku, cahaya berwarna keemasan menerpa wajahku, aku menyipitkan mata. Selang beberapa saat, aku melihat ke samping, ternyata Zea juga ada di situ. Aku bernapas lega, ternyata aku tidak sendirian. Tapi apakah Javas tidak tersedot lubang tadi?

BUUKKKK...seperti ada sesuatu yang menghantam kepalaku. Aku mengaduh dan mencari sesuatu yang menghantamku. Ternyata yang menghantam kepalaku itu kakinya Javas. Javas baru saja terjatuh.

"Javas!!!! Kakimu menabrak kepalaku, sakit nih!"

"Maaf..maaf Va. Lagian aku tidak tahu kamu ada di situ. Aku juga tidak bisa menghindari kamu." Javas berusaha duduk sambil memegangi pinggangnya.

"Kita ada di mana?"

DI BALIK LUKISANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang