Petunjuk

301 27 0
                                        

Kami mengucapkan kalimat perpisahan dan kami sangat-sangat berterima kasih kepada Nenek Merah atas segala bantuannya. 

Kami melanjutkan perjalanan dengan stamina baru dan tentunya dengan semangat baru. Kami mulai berjalan memasuki hutan berlumut. Pikiranku langsung terbayang saat kami bertemu dengan beruang raksasa itu, kami berharap tidak akan terjadi apa-apa lagi.

" Kak Kava pasti sangat kebingungan mencari keberadaan kita." Javas memecah keheningan kami bertiga.

Aku dan Zea meresponnya dengan mengangguk bersamaan.

" Apakah mungkin Kak Kava sedang mencari kita?" Aku balik bertanya.

" Jelas lah Va, Kak Kava pasti mencemaskan kita bertiga, apalagi ke kamu Va, akan sangat sulit bagi Kak Kava untuk menceritakan hal ini kepada orang-orang." Jawab Zea.

Kami terus berjalan di bebatuan berlumut, kami memperlambat langkah kami karena ini sangat licin.

" Bagaimana kita bisa mendapatkan petunjuknya? Dari tadi tidak ada hal-hal yang menonjol yang bisa dijadikan sebagai petunjuk." Javas berbicara sambil memandangi sekitar.

" Kita sudah berjalan cukup lama, lebih baik kita beristirahat terlebih dahulu." Ucap Zea.

Kami bertiga beristirahat di tanah yang cukup lapang dan dikelilingi oleh pepohonan-pepohonan rindang. Kami beristirahat sambil memakan bekal yang disiapkan oleh Nenek Merah.

" Ava, aku seperti masih tidak percaya kalau kamu punya kekuatan. Kamu itu kan manusia biasa, kenapa bisa kamu punya kekuatan? Ini ngga masuk akal." Ucap Javas terlihat berpikir keras.

" Dan aku baru menyadarinya Va, selain kamu punya kekuatan biru itu, kamu juga punyai kemampuan lain lagi Va." Ucap Zea menimpali.

" Apa?" Tanyaku menyelidik.

" Penglihatanmu yang sangat tajam Va. Kamu ingat saat kejadian tiang yang terjatuh saat pertandingan basket itu? Kamu bisa melihat pergerakan tiang itu Va dan kamu juga dapat menghitung dengan pasti kapan tiang itu terjatuh." Jelas Zea.

Aku terdiam, mencoba memahami apa yang terjadi di dalam diriku, sebuah ketidakmungkinan. Aku tidak tahu mengapa hal ini dapat terjadi di dalam diriku. 

Aku memandangi hijaunya rerumputan di sekitarku, rumput ini sama saja dengan rumput yang ada di dunia nyata, dari warnanya, bentuk daunnya, ukurannya, tulang daunnya. Aku dapat melihat secara detail bagian-bagian daun itu, seperti ada beberapa daun yang tulang daunnya patah. Dan dilihat-lihat, ini menarik, daun yang patah ini sepertinya membentuk sebuah pola, daun yang patah ini ada di sepanjang garis lurus menuju ke arah barat. Aku bergegas berdiri.

" Ada apa Va?" Tanya Zea.

" Aku sudah menemukan petunjuknya, aku tau arah mana yang harus kita tempuh." Jawabku.

Sontak Javas dan Zea langsung berdiri setelah mendengar ucapanku.

" Dimana petunjuknya Va? Apa petunjuknya?" Tanya Javas penasaran.

" Patahan daun rerumputan ini ada di sepanjang garis lurus ke arah barat. Aku yakin ini petunjuknya. Kita harus berjalan ke arah barat." Ucapku lugas.

" Kamu yakin Va?" Tanya javas. Aku mengangguk mantap.

" Tapi aku cuma bisa melihat beberapa patahan daun aja Va di sini dan itupun ini aku harus mengamati satu-satu daun dengan sedekat ini, terus dimana patahan daun yang membentuk garis lurus ke arah barat yang kamu maksud?" Ujar Javas sambil membungkukan badannya mengamati daun.

" Sudah kubilang Jav, Ava itu punya penglihatan yang sangat tajam, kalau kita tidak bisa semudah itu mengamati daun yang patah Jav, tapi Ava bisa." Jelas Zea.

Javas menggaruk-garuk kepalanya.

" Baiklah Va, kita percaya sama kamu Va." Ucap Zea.

" Kalau gitu, Ava jalan paling depan, karena cuma Ava yang tau petunjuknya, Zea kedua, dan aku yang paling belakang." Jelas Javas. Aku dan Zea mengangguk hampir bersamaan.

Aku terus mengikuti patahan daun yang membentuk garis lurus ke arah barat, aku berkonsentrasi untuk terus mengikuti arah patahan daun ini.

Sudah cukup lumayan lama kami berjalan mengikuti patahan daun dan ketika aku menghentikan langkahku sejenak, aku melihat kepulan asap muncul di ujung patahan daun ini.

" Berhenti!" 

" Ada apa Va?" Tanya Javas.

" Sepertinya kita sebentar lagi sampai ke ujung patahan daun ini dan itu artinya kemungkinan disitulah kunci pintu gerbang ke lukisan selanjutnya." Ucapku berbisik.

" Dimana Va?" Tanya Zea.

Aku menunjuk kepulan asap yang sekitar berjarak 100 meter dari tempat pemberhentian kami.

" Aku takut Va." Lirih Zea.

" Kita harus ke sana Ze, memastikan apakah kunci pintu gerbang itu ada di sana apa ngga."

" Aku takut ada raksasa beruang itu lagi Va." Ucap Zea cemas.

" Jangan berpikir yang macam-macam dulu Ze. Kita akan tetap bersama dalam keadaan apapun itu, ingat ucapan Nenek Merah, dalam keadaan apapun kita harus tetap bersama dan saling membantu. Kalau kita tidak memastikan tempat itu, bagaimana kita akan melanjutkan perjalanan kita ke lukisan selanjutnya." Jelas Javas.

" Nah betul kata Javas Ze, kalau begitu kamu duluan Jav, aku sama Zea dibelakangmu." Ucapku.

" Ehh aku?" 

" Iya Javaass."

" Emm tapi Va, kamu kan yang punya kekuatan, jadi kalau terjadi apa-apa kamu bisa langsung reflek menggunakan kekuatan kamu itu." Ucap Javas beralasan.

" Bilang aja ngga berani."

" Eh bukan begitu Va." Sangkal Javas.

" Lalu apa? Takut kan? Kalau nggak, ya kamu di depan lah."

" Oke aku di depan." Ucap Javas dengan raut muka setengah cemas.

" Kalian ini pada kenapa si? Ini situasi genting loh, jangan bertengkar dulu." Ucap Zea menimpali.

Hening sesaat.

" Kita mulai, aku di depan, Zea di tengah, dan Ava paling belakang. Kita jangan sampai menimbulkan suara dari pergerakan kita, harus tetap waspada." Jelas Javas.

Aku dan Zea mengangguk bersamaan.

DI BALIK LUKISANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang