Lukisan Spesial

340 32 0
                                        

Tanpa terasa, kami telah sampai di depan galeri.

"Itu Javas!" Aku berseru.

"Yang mana Va?" Tanya Zea.

"Itu yang memakai jaket hitam."

Kami bertiga langsung menghampiri Javas.

"Hai! Akhirnya kalian datang." Ucap Javas menyambut kami.

Pandangan Javas teralihkan kepada Kak Kava, dia tampaknya mengenal wajah Kak Kava, karena dia kemarin melihatnya di foto.

"Javas ini Kak Kava."

"Oh Kak Kava?" Javas tersenyum sambil menyalami Kak Kava.

Kak Kava balas menyalami Javas. Kak Kava tersenyum dan menoleh ke arahku, entah apa yang sedang dipikirkan manusia ini.

Tanpa menunggu lama, Javas langsung mengajak kami masuk ke dalam galeri. Kami disuguhkan dengan luasnya ruang utama galeri. Dinding gedung membentuk seperti lingkaran. Di dinding tersebutlah terdapat lukisan-lukisan dengan tinggi hampir sama dengan tinggi dinding. Ada banyak lukisan.

Di tengah-tengah gedung terdapat sekitar 4 patung-patung hewan. Jika dilihat dari jauh, sepertinya patung itu terbuat dari kayu. Ini sungguh menakjubkan.

Kak Kava mulai melihat-lihat lukisan-lukisan itu, kami bertiga membuntutinya.

Aku yang tidak begitu paham mengenai lukisan, namun aku masih bisa menikmati keindahan lukisan ini. Meskipun terdapat lukisan-lukisan yang sepertinya sulit aku pahami makna di dalamnya, aku tetap menikmatinya. Javas dan Kak Kava sepertinya cocok untuk membicarakan soal lukisan. Mereka tampak berbicara seru, sedangkan penyakitku kambuh lagi, yaitu mulai bosan!

Javas sepertinya paham dengan situasiku ini. Dia mengajak kami ke ruangan lain. Ruangan ini berbeda dengan ruangan tadi, ruangan ini lebih sempit. Berbentuk kubus dan cukup sempit. Hanya terdapat tiga lukisan yang tertempel di dinding secara berjajar. Ruangan ini tidaklah terang, ruangan ini justru redup. Pencahayaan hanya terdapat di sisi bingkai lukisan, terlihat astistik.

"Javas, ini hanya tiga lukisan?"

"Iya, tapi jangan salah, walaupun cuma tiga lukisan, justru tiga lukisan ini adalah lukisan spesial." Javas menjelaskan.

"Apa spesialnya?" Aku mengerutkan dahi.

"Ini sebernarnya bukan lukisan kakekku."

"Lalu lukisan siapa?" Zea tampak penasaran.

"Ini lukisan dari sahabat-sahabat kakekku dulu. Sahabat-sahabat terbaik kakekku. Lukisan ini bergitu berharga baginya, makanya sengaja dipisahkan." Jelas Javas.

"Tapi kenapa tidak dipamerkan saja? Bukankah nantinya akan banyak yang melihat? Lukisan ini tidak akan berubah bukan?"

"Aku tidak tahu, entahlah." Javas mengangkat bahunya.

"Mungkin ini lukisan yang begitu penting buat kakekmu Jav, atau lukisan ini mungkin hanya boleh dilihat oleh kakekmu saja." Kak Kava mulai berpendapat.

"Kalau bergitu, ini ruangan rahasia kakekmu Jav? dan kamu malahan mengajak kami kesini." Ucapan Zea benar juga.

"Ini memang ruangan rahasia, tapi kakek memperbolehkanku mengajak kalian ke sini kok, sudah jangan cemas." Javas terkekeh.

"Lalu dimana kakekmu Jav?" Aku tahu kenapa Kak Kava bertanya itu, pasti Kak Kava akan meminta foto dengan kakeknya Javas. Aku hendak tertawa, tapi ruangan ini membuat tawaku tertahan.

Aku melihat lukisan no 1 dari arah kiri. Lukisannya sangat indah, itu pemandangan yang menakjubkan. Terlukis sebuah tempat, pada sore hari yang sangat indah, cahaya matahari menimbulkan warna keemasan di sekitarnya. Terdapat sebuah rumah berdinding kayu, rumah yang sangat elok. Di halaman rumah, terhampar rerumputan hijau nan subur dan juga mengalir air sungai yang begitu jernih. Tepi sungai dipenuhi warna-warni bunga, terdapat seekor burung berwarna putih campur coklat hinggap didahan pohon. Di samping rumah terdapat banyak sekali pepohonan, begitu pula di tepi sungai. Berbagai jenis tanaman dan pepohonan terlihat begitu saling melengkapi. Cahaya matahari sore semakin memperindah suasana.

Aku melihat-lihat bingkai berwarna keemasan. Segalanya terlihat begitu anggun.

Tetapi tunggu, aku melihat beberapa kata tertulis di dinding bawah bingkai, cukup kecil. Aku membungkuk untuk melihat tulisan itu.

"Kamu lihat apasih Va?" Tanya Zea, membuat semua mengalihkan pandangannya ke arahku.

"Eh Javas, aku mau ke toilet, toiletnya dimana ya?" Celetuk Kak Kava.

"Nanti Kak Kava berjalan lurus saja dari sini, terus belok kanan, itu ada toilet, apa perlu aku antar kak?"

"Tidak usah, kamu di sini saja." Kak Kava bergegas keluar dari ruangan ini.

DI BALIK LUKISANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang