Tragedi Tiang Lampu

387 40 0
                                        

Pertandingan semakin sengit, kedua tim terlihat sama kuatnya. Aku mulai bosan berada di kursi penonton ini. Gedung olahraga ini sangatlah luas. Aku mendongak ke atas, ada banyak lampu-lampu tergantung di sana. 

Aku memperhatikan tiang-tiang untuk menggantungkan lampu di sana. Tiang itu cukup besar. Sebentar, ada yang aneh dari tiang itu. Tiang tersebut terlihat perlahan-lahan bergerak ke bawah. Ada yang tidak beres. Kulihat pangkal tiang itu yang menempel di dinding. Tiang itu bergerak perlahan ke bawah. Pangkal tiang itu sepertinya akan terlepas. Sedangkan di bawah sana para pemain sedang bermain basket. Kemungkinan terburuk tiang itu bisa menimpa satu atau dua pemain.

Aku menggigit bibirku, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

"Zea! kamu lihat tiang yang menghubungkan lampu di tengah-tengah lapangan itu?" Tanyaku sambil menunjuk tiang itu.

"Iya lihat." Untunglah Zea menanggapiku.

"Lihat! tiang itu perlahan-lahan turun ke bawah. Pangkal tiang itu akan terlepas. Kita harus menghentikan pertandingan ini Ze!"

"Kamu kenapa Va? Tiang itu diam kok, tidak bergerak sama sekali. Dari mana kamu tahu tiang itu bergerak turun ke bawah?" Zea kebingungan.

Aku memegangi kepalaku, tentu saja Zea tidak melihat gerakan itu. Waktuku semakin sempit. Mau tidak mau aku harus menghentikan pertandingan ini. Aku berdiri.

"Va, kamu mau kemana?" Zea menahanku.

"Aku harus segera turun Ze." 

"Aku ikut." Zea ikut di belakangku. Aku tahu, dia sebenarnya tidak yakin akan tindakanku ini, tetapi Zea tetap ikut denganku.

Kami berjalan cepat menuju panitia yang berada di samping pembawa acara. 

"Permisi pak, pertandingannya bisa diberhentikan sebentar? Mungkin untuk istirahat para pemain." Ucapku secepat mungkin.

"Maaf mbak, pertandingan tidak bisa diberhentikan secara tiba-tiba, lihat pertandingan sedang sengit-sengitnya." Astaga bagaimana aku menjelaskannya.

"Pak ini penting, tiang yang menyambungkan lampu di tengah-tengah lapangan itu sebentar lagi jatuh pak, kemungkinan terburuknya bisa mengenai satu atau dua pemain." Kataku sejelas mungkin.

"Maaf, tiang itu baik-baik saja. Sebelum pertandingan, lapangan sudah di cek keamanannya, tolong kalian bisa menjauh dari sini. Saya sedang betugas." Aku mendengus kesal mendengar jawaban dari panitia ini.

"Ini beneran pak" Ucapku meyakinkan.

Panitia itu lantas menarik tanganku, dan mengeluarkan aku dan Zea dari pintu samping gedung. Zea berusaha membantuku berbicara, akan tetapi panitia itu tidak mau mendengarkan. Pintu telah ditutup oleh panitia itu.

"Bagaimana kalau yang kamu katakan itu benar terjadi Va?" Tanya Zea cemas.

"Itu memang pasti terjadi."

Beberapa saat kemudian.

PRAAANGGG!!!!!!

Terdengar sangat keras, para penonton menjerit histeris. Pembawa acara yang sejak tadi ngoceh terus seketika berhenti. Aku dan Zea bertatapan. Zea mengangguk, menandakan apa yang aku katakan memang terjadi.

Aku dan Zea berlari membuka pintu dan menuju kerumunan panitia. Sepertinya ada yang terluka. Petugas medis langsung bergerak menuju kerumunan, aku dan Zea berusaha mencari tahu siapa yang tertimpa tiang itu. Dan yang tertimpa itu seorang wasit, tidak ada luka berdarah, tapi wasit itu jatuh pinsan. Kemungkinan wasit itu tertimpa bagian pundaknya, untunglah bukan kepalanya. Dan ada satu lagi pemain yang sepertinya terluka, aku dekati pemain itu, itu Javas. Kaki Javas berdarah. Tidak tahu kenapa kakinya sampai berdarah.  Javas sedang diobati petugas PMR. Penonton cewe-cewe terlihat cemas melihat keadaan Javas sekarang. Haduuuhh padahal lukanya tidak terlalu parah, dia mungkin hanya terkena goresan.

DI BALIK LUKISANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang