Gara-gara Ban Mobil

753 50 1
                                        

Rasanya baru saja aku memejamkan mata, alarm berbunyi keras sekali. Terdengar rintik gerimis di luar rumah, aku kembali menarik selimutku, rasanya enak sekali tidur lagi.

"Ava!!! bangun!!! kamu nanti ikut papa berangkat kerja, jangan kesiangan Va!" Teriak mama dari dapur, ya mama selalu meneriakiku dari dapur.

Aku membuka mataku sipit-sipit, duduk melamun sebentar, menurunkan kakiku ke lantai.

"Ava! denger mama apa tidak?!" Teriak mama satu kali lagi.

"Iya ma. Ini Ava sudah bangun, mau mandi." Jawabku dengan suara serak.

Aku tidak mau mama meneriakiku untuk yang ketiga kalinya, aku bergegas mandi lalu bersiap-siap berangkat sekolah. Semua buku sudah kumasukan ke dalam tasku. Aku bergegas turun ke bawah untuk sarapan dengan mama papa.

"Hai Va!" Sapa papa.

"Hai pa!" 

"Sudah siap kan Va ke sekolah baru? Apa nanti perlu papa antar ke ruang BK nya?" Tanya papa.

"Siap dong pa, tidak usah mengantar Ava, Ava bisa sendiri, papa kan harus cepat-cepat berangkat kerja." 

"Bagus anak papa. Ingat pesan papa, jangan bikin ulah apalagi di sekolah baru. Untuk jadi siswa baru setidaknya perlihatkan sikap yang baik." Celetuk papa sambil terkekeh.

"Siap beres Pa." 

Setelah sarapan selesai, aku dan papa  bergegas berangkat, terlihat mama melambaikan tangan ke arah kami. Mobil melaju cukup cepat, melaju menerobos gerimis di kota pagi ini. Dingin. Jarak rumah ke sekolah sekitar 15 menit. Sekarang sudah pukul 6.30. Tidak akan telat nanti sesampainya di sekolah.

"Oh iya Va, nanti papa pulang telat, bilang ke mama, supaya makan malamnya nggak usah tunggu papa." 

"Okee pa."

Hening sejenak, tiba-tiba terdengar suara seperti ledakan, papa segera menghentikan laju mobil. Papa turun memeriksa mobilnya. Aku juga turun mengikuti papa.

"Ban mobil papa bocor Va. Kayaknya tadi nginjek paku." Papa mengecek ban mobil yang sudah kempes.

"Kita cari bengkel pa, tapi tidak ada bengkel di sini." Ucapku sambil berkacak pinggang.

"Kaya gini aja, biar papa nanti telfon temen papa, dia bisa memperbaikinya. Tapi Ava kayaknya tidak cukup waktu kalau nungguin papa. Ava naik angkot saja ya?" 

"Ya sudah pa." Jawabku dengan berat hati.

Tidak ada kendaraan yang lewat, kami menunggu angkot cukup lama. Dan akhirnya ada angkot yang lewat. Papa segera melambaikan tangan agar angkot itu berhenti, papa tampak bercakap-cakap dengan supir angkot itu.

"Itu angkot ke arah sekolah kamu Va." Ucap papa.

Aku segera menyalami papa dan naik ke angkot itu. Angkot cukup sesak, tapi masih ada beberapa tempat yang kosong. Di sini juga terlihat anak sekolah seumuranku, mungkin saja satu sekolah denganku. Anak itu berambut panjang terurai, dia setiap saat melihat jam tangannya, wajahnya terlihat cemas. Akupun melihat jam tanganku, astaga! Aku menutup mulutku, jam 7 kurang 10 menit. Mataku terbelalak, kemungkinan besar aku telat masuk ke sekolah!

DI BALIK LUKISANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang