Javas tampak hendak menjawab pertanyaan Zea, tapi seperti seorang pelayan datang membawa hidangan makanan untuk kami.
"Dia adalah seorang pangeran. Pangeran Baran." Ucap pelayan itu.
Aku terkaget.
"Pangeran?"
"Iya, beliau pangeran kami. Dahulu di sini terdapat kerajaan besar, tapi semenjak banyak perusak datang, kerajaan runtuh dan kebakaran besar terjadi."
"Lalu dimana Raja?" Tanya Javas.
"Raja sedang sakit. Pangeran Baranlah harapan kami sekarang. Kami berharap Pengaran Baran bisa mengembalikan kondisi kami seperti semula." Ucap pelayan itu parau.
Kami sebenarnya ingin bertanya lebih banyak mengenai Pangeran Baran, tapi pelayan itu tidak ingin memberikan informasi terlalu banyak, lantas pergi.
Aku memang melihat banyak bongkahan reruntuhan, hingga hanya tersisa bangunan rumah besar itu, tapi aku rasa rumah besar yang tersisa tidak ada apa-apanya dibandingkan bongkahan sisa kebakaran yang terlihat. Aku tidak bisa membayangkan, pasti situasi pada saat itu sangatlah kacau.
Kami disuguhi beberapa makanan ubi-ubian dan teh.
Meskipun aku tahu kondisi di sini sedang tidak baik-baik saja, krisis ekonomi pastinya, krisis pangan, tapi mereka mencoba menyuguhi kami dengan sebaik mungkin. Tampak pelayan tadi membawa ember bongkahan es batu, itu adalah permintaan Javas. Anehnya, aku tidak tahu apakah di dunia ini ada kulkas.
"Tidak adakah plastik?" Tanya Javas dibalas dengan gelengan pelayan tadi.
Javas tampak mengambil daun pisang dan membungkus bongkahan es batu tadi dengan daun pisang. Javas memintakan Zea untuk menempelkan bungkusan daun tadi ke kakiku yang terkilir dan membalutnya dengan kain.
Selang beberapa saat, datanglah Baran. Baran, pergerakannya cepat. Tatapan matanya tajam.
"Terima kasih atas hidangannya pangeran." Ucap Javas takzim sambil menunduk. Aku menahan tawaku.
Awalnya Baran seperti terkejut Javas memanggilnya pangeran.
"Jangan panggil aku pangeran." Balas Baran sedikit tersenyum.
"Kenapa? Kami sudah tahu ceritanya, kami turut prihatin atas peristiwa yang menimpa kerajaanmu."
Baran terduduk, pandangannya menunduk.
"Ehm, pangeran, kami di sini ingin mendapatkan jalan keluar. Dengan segala hormat, bolehkah kami meminta bantuan pangeran untuk memberi tahu kami apa yang harus kami lakukan untuk keluar dari dunia lukisan ini?" Aku menahan tawa mendengar Javas berucap lagi.
"Apasih Va?!" Javas kesal dari tadi selalu kutertawakan.
"Tolong jangan panggil saya pangeran, Baran saja."
"Tidak pangeran, anda orang yang harus dihormati di sini." Bahkan bukan hanya aku, Zea pun ikut menahan tawanya. Baran sendiri tersenyum tipis sambil memegang kepalanya. Mungkin dia baru kali ini menjumpai makhluk seperti Javas, "si paling taat".
" Ya sudah terserah kalian, tapi aku ingin dipanggil Baran saja. Umur kita nggak beda jauh."
Javas mengangguk takzim. Astaga, ada apa dengan ini orang.
"Sebenarnya, pertemuan kita merupakan sebuah kebetulan dan pastinya sudah kami nanti-nantikan." Aku masih mencoba mencerna kalimat yang diucapkan Baran.
"Kita satu tujuan, keluar dari lukisan 2."
"Apakah kamu akan meninggalkan rakyatmu?"
"Tidak, aku ingin mengembalikan kehidupan rakyatku."
"Tapi kenapa dengan keluar dari lukisan 2?" Zea akhirnya buka suara.
"Gara, dia mengambil kedamaian kerajaan ini. Beberapa bulan yang lalu, dia mengambil batu permata di istana. Batu itu adalah kunci kedamaian dan kekuatan. Kunci itu telah dicuri, kerajaan diserang."
"Tanpa batu permata itu apakah kamu tidak bisa menata lagi kehidupan di sini?"
"Batu itu juga merupakan kunci kekuatan kami, kekuatan terendah hingga tertinggi. Batu peninggalan leluhur kami. Tanpa batu itu, kekuatan kami hilang, termasuk saya kehilangan kekuatan." Kami bertiga termenung mencerna kalimat Baran.
"Dan kamu Ava, kamu satu-satunya yang masih memiliki kekuatan di lukisan 2 ini."
"Gara, dia membawa batu permata itu ke tempat persembunyiannya, di lukisan 3. untuk membuka pintu lukisan 3 tidaklah mudah. Aku sendiri sudah berulang kali mencobanya, tapi tetap tidak bisa, karena kekuatanku hilang."
"Apakah harus menggunakan kekuatan untuk membukanya?"
"Pasti, kekuatan gabungan. Kamu memiliki kekuatan biru itu. Jika kamu ingin membuka pintu lukisan 3, harus ada gabungan kekuatan lain, kekuatan di atas biru." Ucap Baran.
"Apakah itu kekuatanmu?" Tanyaku.
Baran mengangguk, mengiyakan.
"Tapi, bagaimana caranya, sedangkan kekuatanmu hilang?"
"Itu permasalahannya."
Suasana hening sesaat.
"Apakah ada cara yang bisa kita lakukan pangeran?" Tanya Javas.
"Ada, mungkin ini menjadi satu-satunya cara." Kami diam menunggu.
"Apa?"
"Transfer kekuatan. Tapi, aku sendiri belum pernah melakukannya dan mengalaminya."
"Kita harus bisa melakukannya." Seru Javas.
"Iya, aku kangen rumah." Ucap Zea parau.
"Kita satu tujuan, satu misi, kita saling membutuhkan satu sama lain. Kita berkomitmen untuk selalu membantu satu sama lain, untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan kita. Sepakat?" Ucap Baran sambil menyodorkan tangannya.
"Sepakat!" Javas menjabat tangan Baran dengan mantap.
KAMU SEDANG MEMBACA
DI BALIK LUKISAN
Fiksi Remaja"Ava!! kamu punya kekuatan!" Seru Javas. Aku menatap kedua telapak tanganku dan rasanya tidak mungkin kekuatan itu berasal dari tanganku. Aku menggeleng ke arah Javas sambil mengerutkan dahiku. "Aku tadi melihat cahaya biru keluar dari tanganmu Va...
