Kata Rio hari ini Pak Gun sedang rapat. Kelas jamkos. Yeyyy! akhirnya jamkos juga. Zea mengajakku ke kantin.
"Eh kalian mau kemana?" Javas menghentikan langkahku dan Zea.
"Mau ke kantin." Singkat Zea.
"Aku ikut, Rio sedang sibuk mengurus apalah aku juga tidak tahu. Tidak ada teman di sini." Mendengar penjelasan Javas, kami berdua mengangguk mengiyakan. Karena anak laki-laki sedang di gedung olahraga.
Javas mengikuti di belakang kami. Dia tampak kesusahan, jalannya pincang. Gerakannya pun sangatlah lambat. Aku kasihan melihatnya. Zea nampaknya merasakan hal yang sama denganku. Tapi bagaimana? Masa iya kami berdua akan memapah Javas, tidak mungkin. Tapi walaupun langkahnya lambat, dia bisa berjalan sendiri, tanpa perlu bantuan. Aku dan Zea memutuskan mundur kembali, mensejajari Javas.
"Javas, tidak bisakah kamu berjalan lebih cepat?"
Javas tidak menjawabku, dia hanya melirikku sinis.
"Kalau saja aku berada satu langkah menjauh dari tiang itu, pasti nggak kaya gini jadinya." Javas menggerutu.
"Kamu mainnya di tempat itu itu mulu sih, kalau yang lain kan bergerak sana sini mengoper bola. Lah kamu seperti penunggu lapangan, di situ mulu." Zea tertawa mendengar ucapanku.
"Tahu apa kamu tentang basket?" Balas Javas.
"Padahal panitia itu sudah dibilangin Ava loh, tiang lampu itu sebentar lagi jatuh, tapi tidak menggubris Ava." Ucap Zea.
"Kok kamu tahu tiangnya akan jatuh Va?" Javas menoleh ke arahku.
Aku hanya mengangkat bahu.
"Kamu tadi tidak meneriakkiku Va? Setidaknya menyuruhku menjauh dari area itu." Javas bersungut-sungut.
"Kalau aku meneriakkimu Jav. Yang ada fans cewe-cewe mu itu langsung menoleh ke arahku dan siap menerorku!" Zea tertawa lagi mendengar jawabanku.
Javas tidak menggubris jawabanku, berjalan saja dia susah.
Akhirnya setelah sekian lama kami sampai juga di kantin. Waktuku tersita cukup banyak karena menunggu Javas yang berjalan begitu lambat. Zea memesan bakso seperti biasa, aku yang cepat bosan lebih memilih memesan siomay saja. Javas sama seperti Zea, memesan bakso.
Zea tampak kesulitan mengiris baksonya dengan sendok.
"Va, bantu aku membelah baksonya." Zea menyerahkan sendoknya kepadaku.
Aku mencoba membelah baksonya, tetapi sulit.
"Ini bakso apa karet ban? Susah amat." Untuk pertama kalinya Javas tertawa mendengar perkataanku.
"Lihat Javas, bakso segede ini cukup dia makan dengan satu kali suap." Ucapku, tawa Javas berhenti, kini Zea yang menertawakan Javas.
Aku masih mencoba membelah baksonya, dan WUSSSS bakso yang aku iris terbang. Bakso itu tepat mengenai kepala kakak kelas perempuan. Aku menggigit bibirku. Javas menepuk dahinya. Zea juga tampak cemas. Aku celingukan, tak tahu harus berbuat apa. Pergi? Tidak mungkin, aku pasti akan tetap ketahuan. Kakak kelas itu berusaha mencari-cari pelakunya, dan dia melihat semangkuk bakso di depan Zea.
"Kamu yang melempar bakso itu ke kepalaku?" Tanya kakak kelas itu ke arah Zea.
"Bukan dia kak, tapi aku." Pandangannya beralih kepadaku.
"Kamu sengaja?!" Mukanya terlihat kesal.
"Emm aku nggak sengaja kak, beneran, bakso itu nggak sengaja kelempar." Aku menjawabnya.
Kakak kelas tadi berdiri dan melangkah ke arahku. Tiba-tiba Javas berdiri.
"Kami minta maaf kak, temanku tidak sengaja." Ucap Javas tiba-tiba sambil berdiri.
Kakak itu menghentikan langkahnya, pandangannya beralih ke arah Javas. Mukanya yang tadinya merah padam tiba-tiba normal kembali. Dia malah terlihat kikuk ketika melihat Javas. Astaga ini kakak kelas kenapa.
"Emm iya sudah." Kakak kelas itu menjawab singkat, lalu mengajak pergi temannya. Dia bahkan sempat tersenyum ke arah Javas.
Aku berusaha menahan tawaku. Sepertinya, kakak kelas tadi terbius dengan paras Javas. Ini lucu sekali. Lihatlah, muka kakak kelas tadi terlihat seperti kepiting rebus. Javas kembali menyantap baksonya.
"Makasih Javas." Ucapku pelan ke arah Javas.
"Lain kali hati-hati, jangan sampai nanti mangkuk itu sampai kamu terbangkan. Entah siapa sasaran kamu selanjutnya." Aku melotot ke arah Javas, Zea tekekeh pelan.
Aku tidak menyangka, Javas, si idola kaum hawa, sekarang dia menjadi temanku. Mungkin mereka belum tahu sosok Javas sesungguhnya. Javas ternyata sangat keras kepala, cerewet, pusing jika terus menanganggapi obrolan Javas. Untunglah ada Zea, dia selalu menjadi penengah diantara pertengkaranku dengan Javas.
KAMU SEDANG MEMBACA
DI BALIK LUKISAN
Roman pour Adolescents"Ava!! kamu punya kekuatan!" Seru Javas. Aku menatap kedua telapak tanganku dan rasanya tidak mungkin kekuatan itu berasal dari tanganku. Aku menggeleng ke arah Javas sambil mengerutkan dahiku. "Aku tadi melihat cahaya biru keluar dari tanganmu Va...
