Perjalanan Terselesaikan (L1)

255 22 0
                                        

" Va, satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menggunakan kekuatanmu Va." Ucap Javas tiba-tiba dengan suara terengah-engah karena kehabisan napas.

" Bagaimana aku akan menggunakannya Jav? Aku tidak tahu." 

" Aku pun tidak tahu, tapi setidaknya kamu mencoba untuk menggunakan kekuatanmu sesuai dengan nalurimu." Jelas Javas sambil terbatuk-batuk dan terduduk karena saking lemasnya.

Aku memejamkan mataku, aku sangat terpukul melihat sahabat-sahabatku dalam keadaan tidak berdaya. Aku mengangkat kedua tanganku, aku konsentrasi penuh dan aku mulai merasakan energi keluar dari kedua telapak tanganku. Aku melepaskannya ke atas dan tiba-tiba terdengar suara petir. Aku terkaget, begitupun Javas.

" Bagus Va!" 

" Bagus bagaimana?" 

" Ulangi lagi Va." 

Aku mengulangi gerakan yang sama dan menimbulkan petir, bahkan lebih keras. Javas tersenyum dan memerintahku lagi untuk mengulanginya. Aku pun melakukannya hingga suasana sekitar mulai gelap.

" Javas!" Seruku cemaas.

" Tenang Va." Ucap Javas sambil tersenyum melihat ke atas.

Aku tidak habis fikir dengan Javas. Apa yang membuatnya tersenyum di tengah-tengah keadaan seperti ini. Dan ternyata senyum Javas mengartikan bahwa kabar baik akan datang. Tetesan air mulai terjatuh, ya! Gerimis mulai turun dan membuat kepulan asap sedikit demi sedikit menghilang. Gerimis mulai deras hingga turunlah hujan. Asap mulai hilang dengan cepat hingga akhirnya semua asap hilang. 

Aku tersenyum lega, begitupun Javas. Namun Zea belum juga siuman.

" Biarkan kepalanya di tanah Va, agar peredaran darahnya lancar dan Zea bisa bernapas dengan lancar." 

" Ze!!!!" 

Javas tampak memeriksa denyut nadi di leher Zea. Javas memerintahkanku untuk menaikkan kaki Zea lebih tinggi dari dada dan memerintahkanku untuk melonggarkan sabuk yang dikenakan Zea. Tetesan air hujan mengenai wajah cantik Zea. Hening sesaat, Zea belum juga siuman.

" Ze!!!"

Zea membuka matanya. Aku dan Javas bernapas lega melihat Zea siuman. Zea memandangi sekitar dan terlihat bingung. Javas memberikan air minum kepada Zea.

" Tenang Ze, asapnya sudah hilang." 

Zea tersenyum. Zea seperti ingin menanyakan banyak hal.

" Sudah Ze, jangan terlalu banyak bicara dulu." Zea hanya tersenyum mendengarku.

" Va, itu kuncinya." Javas menunjuk sebuah kunci yang tergeletak tak jauh dari posisi kami.

Kunci itu sepanjang lengan orang dewasa dengan tebal sekitar 4 cm. Kami bertiga mendekati kunci tersebut. Kunci ini berwarna kuning keemasan. Aku mengambil kunci itu, sangat berat.

" Dimana pintunya?" Zea sudah mulai berbicara.

Kami memandang sekitar, tidak ada pintu apapun di sekitar sini. Tapi aku melihat warna keemasan dibalik dedaunan rindang di pohon yang terletak di depan kami. Aku mulai menyibak dedaunan yang menutupi warna keemasan tersebut. Setelah dibantu Zea dan juga Javas, dahan-dahan dan daun-daun yang menghalangi telah terbuka dan tampaklah pintu raksasa berwarna keemasan. Kami takjub melihat pintu raksasa yang bediri megah dihadapan kami.

" Akhirnya kita menemukan pintunya!" Seru Javas mengagetkanku.

" Ayok Va buka pintunya." Zea menunjuk kunci yang sedang aku pegang.

Dengan susah payah aku memasukkan kunci ke dalam pintu, untuk memutar kuncinya, aku tidak kuat, kami bertiga bersama-sama memutar kunci dengan sekuat tenaga kami. Kami berhasil memutar kuncinya. Kami menunggu akan terjadi apa terhadap pintu raksasa ini. Kami mundur satu langkah untuk mengantisipasi kejadian-kejadian mengejutkan yang akan terjadi.

Pintu raksasa mengeluarkan bunyi yang halus. Sedikit demi sedikit pintu terbuka menjadi dua bagian. Warna keemasan muncul saat pintu membuka, semakin terang ketika pintu terbuka semakin lebar. Kami melangkahkan kaki kami memasukki pintu emas. Cahaya terang sangat menyilaukan sehingga membuat kami memejamkan mata. Saat aku membuka mata, aku terbelalak melihat pemandangan di depanku. 

Perjalanan di lukisan satu akhirnya terselesaikan!

DI BALIK LUKISANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang