Pesaing Javas

371 39 0
                                        

Aku dan Zea kembali ke kelas. Kemungkinan kami sudah telat dengan pembelajaran berikutnya.

"Ava, kenapa kamu tahu tiang itu akan roboh?" Tanya Zea.

"Sudah kukatakan Ze, aku melihat gerakan tiang itu." 

Aku mungkin tidak akan bisa membuat Zea paham, karena akupun sendiri tak tahu kenapa aku bisa melihat sesuatu dari jarak jauh dengan detail.

"Aku masih belum paham bagaimana kamu melihatnya Va?" Zea terlihat heran.

"Akupun bingung."

Situasi ini sungguh rumit.

Pak Gun belum juga datang. Javas tampak datang dengan langkahnya yang pincang, dia sudah berganti pakaian seragam sekolah. Dia lantas duduk di depan kami. Terlihat meringis menahan sakit.

"Javas, bukannya tadi itu cuma luka gores?" Tanyaku.

"Ini bukan hanya tergores Va, telapak kakiku kena bagian ujung tiang itu." Aku melihat telapak kakinya yang sudah dibalut perban.

"Pertandingannya masih dilanjut?" Akhirnya Zea berbicara.

"Entah, aku tidak tahu, mungkin masih bisa dilanjut."

Rio, dia ketua kelas kami, tampak datang membawa setumpuk kertas dan mulai membagikannya

Aku menerima kertas yang Rio berikan, ini ulangan fisika kemarin. Aku melihat nilaiku, 95. Ada yang salah. Aku salah menghitung. Aku segera melipat kertas itu dan akan kumasukan ke dalam tas.

"Kalian dapat berapa?" Tanya Javas, dia belum ulangan karena kemarin dia bimbingan.

"Aku dapat nilai 60." Raut muka Zea terlihat kecewa.

"Ava?" 

Sebelum aku menjawab, Javas sudah merebut kertasku.

"Luar biasa!" Seru Javas.

Zea pun ikut melihat kertas ulanganku.

"Nampaknya Ava akan jadi pesaingmu Javas." Celetuk Zea sambil tertawa.

Javas mendengar perkataan Zea juga tertawa.

"Ava, boleh aku pinjam kertas ulanganmu? Aku mau membetulkan jawabanku yang salah." Tanya Zea memelas.

"Tentu saja, boleh. Aku salah hitungan di nomer 4, kamu bisa memperbaikinya."

"Eh aku juga pinjam Va." Ucap Javas tiba-tiba.

"Nggak bisa, kamu kan belum ulangan, bagaimana kalau soalnya sama?"

"Bagaimana kalau soalnya beda?" Javas mencoba membujukku.

"Bagaimana kalau soalnya sama?"

"Tapi kemungkinan soalnya beda, tidak ada salahnya kan?" Javas berkata dengan santainya.

"Tapi besar kemungkinan soal itu sama. Itu curang, kamu bisa mendapat nilai sempurna." Balasku lagi.

"Emang kenapa kalau aku mendapat nilai sempurna?" Ucapnya lagi, astaga ternyata dia keras kepala.

"Bukan itu masalahnya, kamu curang." Aku mulai kehabisan kata-kata.

"Curang bagaimana? Soalnya belum tentu sama loh."

"Tetapi gimana kalau soalnya sama Javas?"

"Tapi bisa saja beda Ava. Kadang-kadang juga soalnya beda" Astaga dia masih mencoba membujukku.

"Sudah! sudah! Soalnya kemungkinan besar sama. Javas, jangan coba-coba curang!" Zea berkacak pinggang.

"Iya iya udah" Javas tidak bisa berkutik lagi kali ini.


DI BALIK LUKISANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang