Suasana lengang
Agra berjalan menuju ke hadapan Baran. Kedua ksatria kini saling berhadapan. Kerajaan lukisan 3 sedang berada di ambang kehancuran. Semenjak batu permata itu diambil, para prajurit telah kehilangan kekuatan birunya. Hanya Agra yang tidak kehilangan kekuatannya. Sangat banyak prajurit yang telah berguguran. Sedangkan prajurit yang tersisa memilih melepas senjata mereka. Para prajurit mengundurkan diri. Mereka melepas baju perangnya. Menanggalkan semua senjatanya.
Begitupun dengan para petinggi-petinggi kerajaan. Raja Gara telah sekarat. Harapan hidupnya samgatlah kecil, apalagi untuk menjadi seorang raja kembali. Kini mereka tunduk terhadap siapapun yang menjadi pemimpin nantinya.
Sebenarnya mereka tidak menyukai kepemimpinan Raja Gara. Raja yang kejam, tidak memiliki keadilan pada rakyatnya, memperbudak rakyatnya demi kekayaan pribadi, haus akan kekuatan. Mereka berharap kerajaan akan diambil alih oleh Baran. Mereka mendeklarasikan pernyataan tersebut secara terang-terangan di hadapan Agra. Mereka siap dengan apapun yang akan Agra lakukan pada mereka. Setidaknya mereka tidak membela kejahatan ketika kematian menjemput mereka.
“Bagaimana? Kapan kamu akan menyerah?” Ucap Baran memecah keheningan mereka berdua
"Seorang kastria tidak akan mengucapkan kata menyerah, Pangeran Baran.”
“Aku hanya akan mengambil kembali batu permata. Aku tidak akan mengambil kerajaanmu. Biarlah kami membawa batu permata itu. Biarlah kami menata kembali kerajaan lukisan 2. Jangan ganggu kami.” Tegas Baran.
“Kalau begitu, lawanlah aku! Jika kemenangan berpihak padamu, bukan hanya batu permata, tapi kerajaan akan berada di tanganmu.”
Baran terlihat sedikit terkejut dengan ucapan Agra. Ucapan yang sangat berani. Ya memang kemungkinan Raja Gara untuk hidup sangatlah kecil. Kekuatan yang telah Ava keluarkan sangatlah mematikan. Kekuatan yang hanya bisa terjadi di saat-saat tertentu saja.
“Tapi hanya diantara kita yang akan menjemput takdir kita masing-masing. Hidup atau mati!” Pungkas Agra.
"Baiklah." Balas Baran mantap.
Semua prajurit, termasuk Ava mundur dari arena pertempuran. Di halaman yang sangat luas ini, dengan diterangi cahaya bulan, kedua ksatria itu akan menjemput takdir mereka masing-masing. Kalah atau menang. Hidup atau mati.
Keduanya saling siap di posisi masing-masing. Saling berjauhan. Mereka akan bertarung dengan kekuatan warna.
BUUUMMMM!!!!
BUUUMMM!!!!
Terdengar menggelegar.
Keduanya melepaskan kekuatan merah secara bersamaan. Kekuatan yang imbang. Masing-masing dari mereka terdorong satu langkah ke belakang.
Agra melepaskan kekuatan merah seperti petir yang merah menyala.
CTRAARRR!!!!
Baran melentingkan tubuhnya ke belakang. Petir itu lolos begitu saja.
Baran lantas membentuk pusaran angin berwarna kemerahan. Kesiur angin terdengar.
Debu-debu, dedaunan kering, ranting-ranting tersedot dalam pusaran yang Baran bentuk.
Setelah pusaran angin terbentuk sempurna, Baran lantas menghujamkannya pada Agra.
Agra menyentuhkan tangannya di tanah dan terbentuklah gelembung setengah lingkaran yang menyelimuti Agra. Saat pusaran itu menyentuh gelembung Agra,
BUUUMMMM!!!!
Pusaran angin itu terpecah begitu saja dengan suara yang menggelegar.
Agra berdiri kembali. Ekspresinya tetap sama. Dingin.
“Segitukah kemampuanmu wahai Pangeran Baran?”
Baran tidak menanggapinya.
“Bersiaplah, lingdungi dirimu!” Seru Agra.
Agra mengirimkan kekuatan berupa bola api yang merah menyala. Bola api melesat cepat ke arah Baran.
Baran lantas menggerakan tangan kanannya perlahan.
Muncul kesiur angin berwarna merah bercampur biru.
Yang terjadi, bola api itu dengan mudahnya hilang begitu saja ketika menyentuh kesiur angin.
Kali ini Baran mengirim serangan balasan.
BUUMMMM!!!!
Baran mengirim kekuatan berupa segerombolan pecahan kaca. Agra bergeming tidak melakukan serangan balik untuk menahannya. Agra secara langsung menghindari setiap pecahan kaca tersebut.
Namun, ada satu pecahan kaca yang menggores tipis pelipis Agra. Alhasil, pelipis agra mengeluarkan darah.
“Lihatlah! Kamu bahkan telah berdarah!” Seru Baran.
Tanpa membalas perkataan Baran, Agra dengan segera mengirim serangan balasan berupa segerombolan anak panah.
BUUMMM!!!!
Baran meniru gaya Agra dengan menghindar dari serangan secara manual. Puluhan anak panah lolos begitu saja. Namun, ada satu mata anak panah yang menggores pelipis kanan Baran. Darah keluar dari hasil goresan tersebut.
“Lihatlah! Tak butuh waktu lama untu membalasmu!” Seru Agra.
BUUUMMM!!!!
Agra dengan cepat mengirim dorongan berdentum. Sangat kuat dan menggelegar. Baran terjerembab ke tanah karena tidak siap dengan serangan berikutnya.
Agra hendak mengirimkan serangan lagi, namun tiba-tiba dia menarik kembali kedua telapak tangannya. Memberikan kesempatan Baran untuk bangkit. Sebenarnya sangat terbuka kesempatan bagi Agra untuk menghabisi Baran, tapi dia urungkan.
Belum lengkap Baran berdiri, Agra mengirimkan kembali dorongan berdentum yang sangat kuat. Kali ini disertai dengan kesiur angin. Alhasil tubuh Baran terpental dan menabrak tumpukan bebatuan yang ada di tengah-tengah halaman. Sudut bibir Baran mengeluarkan darah.
“Ingatlah luka itu Pangeran Baran!” Seru Agra.
Baran menyeka sudut bibirnya.
Agra tersenyum menatap Baran. Sementara Baran, ia menatap Agra dengan tatapan yang begitu dalam.
Baran telah bangkit. Agra masih menatap Baran dengan senyumnya.
“Lepaskan saja kekuatanmu Pangeran Baran!” Seru Agra.
“Bebaskan aku…” Lirih Agra.
Baran melepaskan kekuatan yang hanya bisa dikeluarkan ketika sudah mencapai titik klimaks. Kekuatan mematikan.
CTARRR!!!! BUUUMMMM!!!!!
Dentuman yang sangat menggelegar. Agra diam, tidak melakukan perlawanan. Alhasil, dentuman mematikan itu menghantam dengan sangat keras tubuh Agra. Tubuh Agra terlempar begitu saja dan terjerembab di antara rerumputan hijau. Tubuh Agra terdiam, tidak bangkit, lebih tepatnya sudah tidak mampu lagi untuk bangkit.
KAMU SEDANG MEMBACA
DI BALIK LUKISAN
Novela Juvenil"Ava!! kamu punya kekuatan!" Seru Javas. Aku menatap kedua telapak tanganku dan rasanya tidak mungkin kekuatan itu berasal dari tanganku. Aku menggeleng ke arah Javas sambil mengerutkan dahiku. "Aku tadi melihat cahaya biru keluar dari tanganmu Va...
