Selamat Datang Di Lukisan 3!

221 16 0
                                        

Aku merasakan hal yang berbeda. Saat kaki ini melangkah, dalam keadaan mata masih terpejam, aku merasakan bahwa ada kegelapan di sekitarku. Aku merasa dingin, sangat dingin. Angin semilir membelai rambutku.

"Ava...kita ada dimana?"

Ucapan Zea membuatku membuka mata. Sebuah pemandangan yang sangat aku rindukan. Terlihat dengan sangat indah langit malam, berwarna biru kehitaman. Bulan sabit berada tepat di atas kami. Kami sekarang berada di atas bukit. Terhampar pemandangan yang sangat indah di bawah sana. Dalam remang-remang kegelapan malam, aku melihat hampir semua permukaan terlapisi oleh rerumputan hijau nan subur dan terawat. Jalan setapak membelah padang rumput dan ilalang.

Dan yang paling mencuri perhatianku adalah sebuah bangunan megah bak bangunan raksasa yang berdiri di tengah-tengah panorama indah. Bangunan dengan desain klasik nan mewah. Sinar rembulan, pantulan obor api, dan gelapnya malam membuat suatu kolaborasi warna indah pada dinding bangunan. Sepanjang jalan setapak diterangi oleh obor-obor.

"Selamat datang di lukisan 3!!!"

****

"Kita ada di lukisan 3? kita sungguh ada di lukisan 3." Saking bahagianya, Zea sampai mengulang kalimatnya.

Namun, mereka tersadar tujuan utama mereka datang ke lukisan 3 adalah untuk mengambil kembali batu permata dan yang pastinya untuk pulang.

"Apa yang harus kita lakukan pangeran?"

"Seperti yang sudah saya jelaskan di lukisan 2."

"Aku akan merubah penampilan kalian berdua." Ucap Baran.

Tanpa menunggu lama, Baran menyapukan cahaya merah di tubuh Javas dan Zea. Dalam sekejap, Javas dan Zea telah berganti kostum. Kali ini, pakaian yang dipakai Javas dan Zea adalah pakaian yang sederhana, kain polos.

Zea memakai dress panjang dengan kain polos, tapi tetap cantik dipakai Zea. Sedangkan Javas, dia memakai celana panjang dengan kaos yang panjang juga, mirip seperti pakaian petani.

"Untuk apa kita memakai ini pangeran?"

"Ini adalah pakaian yang biasa penduduk desa pakai."

Hening sejenak.

"Bagaimana, kalian siap?"

Javas dan Zea mengangguk bersamaan.

"Aku percaya pada kalian. Kita akan bertemu kembali."

"Baik pangeran."

"Kalian akan berangkat terlebih dahulu. Kami akan menyusul." Pungkas Baran.

Baran memeluk Javas dan menepuk-nepuk pundak Javas. Ava memeluk Zea. Sangat tampak kecemasan dari raut wajah Zea.

"Tenanglah Ze. Semuanya akan baik-baik saja." Ucap Ava.

Zea mengangguk sambil berusaha untuk tetap tersenyum.

Kini, Javas dan Zea mulai menuruni bukit. Mereka sangat berhati-hati. Sekarang mereka mulai memasuki jalan yang terbilang lumayan besar, jika tadi mereka melihatnya seperti jalan setapak, namun ternyata ini lebih besar dari yang mereka kira.

Angin semilir berhembus menerpa rambut. Pemandangan kanan kiri terlihat berbagai macam tanaman yang tinggi dan terawat. Perjalanan mereka diterangi oleh obor yang terpasang di kanan kiri jalan. Suasana sepi, sangatlah sepi.

Javas dan Zea mulai melihat pos penjagaan yang terbuat dari anyaman bambu dengan banyak obor di depannya.

"Kita akan ke sana Jav?" Bisik Zea.

"Iya kita harus ke sana."

Sebelum mereka sampai di depan pos, tampak dua orang prajurit menghadang.

"Siapa kalian!?"

DI BALIK LUKISANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang