Peristiwa Puncak Bukit

197 19 0
                                        

Suasana berubah mencekam. Ini seperti tidak menaiki bukit, tapi akan lebih tepatnya seperti menaiki gunung. Semakin tinggi ketinggiannya, semakin berat medannya. Bedanya, di sini tidak dingin sama sekali.

Kami harus berhati-hati dalam setiap pijakan, karena banyak bebatuan. Bebatuan ini terkadang ada yang mudah lepas, sangat berbahaya.

“Ini seperti mendaki gunung, tinggi sekali. Kita harus bisa menjaga keseimbangan. Hati-hati dalam setiap pijakan” Ucap Javas sambil mengatur napasnya.

Kami mengangguk mengiyakan.

Javas berada paling depan, disusul aku, Zea, dan paling belakang sekarang Baran. Dalam hal pendakian seperti ini, Javas sepertinya berpengalaman.

Kami terus menanjak dan menanjak. Kami berhenti sejenak. Angin berhembus, semakin lama, semakin kencang. Debu-debu berterbangan.

Perasaanku mulai tidak enak.
Secara tiba-tiba melesat lagi Nenek Merah di depan kami, namun yang kali ini terdengar, “Tolong nenek nak!” lantas menghilang.

“Itu Nenek Merah minta tolong!”

“Jangan Va!” Cegah Baran saat aku mencoba mengejar Nenek Merah.

“Kenapa?”

“Itu jebakan buat kita.”

“Jebakan apanya, itu Nenek Merah jelas-jelas meminta tolong sama kita.”

“Nenek Merah tidak mungkin ada di sini Va.”

“Tapi bisa saja Bar, Nenek Merah punya kekuatan besar.”

“Va, tapi aku rasa yang diucapkan Baran benar, tidak mungkin Nenek Merah ada di sini. Hatiku juga mengatakan dia bukanlah Nenek Merah, firasatku tidak enak Va.” Ucap Zea.

Aku akhirnya menuruti mereka. Aku tidak ingin mengulangi kecerobohan-kecerobohanku.

Setelah sekian lama kami menanjak, akhirnya sudah terlihat puncaknya. Akhirnya setelah perjalanan panjang, kami akan sampai juga di puncak. Kami menanjak dengan susah payah dan hati-hati. 5 langkah lagi, 4 langkah lagi, 3 langkah lagi, 2 langkah lagi, 1 langkah lagi, dan akhirnya, kami sampai di puncak. Aku menghembuskan napas lega.

“Akhirnya!” Seru Zea.

“Kita akan kemana lagi pangeran?”

“Gerbang itu ada di sekitaran sini.”

Kami terperanjat dengan ucapan Baran.

“Dimana pangeran?”

Sebelum Baran menjawab, terdengar suara dari arah belakang kami.

“Tolong nenek nak.” Itu suara Nenek Merah.

Betul saja, setelah kami membalikkan badan, terlihat Nenek Merah dengan tongkat kayu.

“Nenek Merah, nenek kenapa?” Ucap Zea.

Nenek Merah tertawa, tertawa mengerikan. Kami berpandangan satu sama lain. Apakah ini Nenek Merah sungguhan?

“Nenek minta tolong kan? Kenapa nenek tertawa?” Aku disikut Javas.

“Kenapa si Jav?”

“Jaga bicaramu.” Bisik Javas.

Saat berbicara denganku, tiba-tiba tubuh Javas tertarik ke belakang. Ternyata tubuh Javas ditarik Nenek Merah.

Aku menengok lagi ke depan. Masih ada Nenek Merah di depan. Aku menengok lagi ke Javas, juga ada Nenek Merah. Nenek Merah ada dua?

“Bersiap!” Seru Baran.

Kami langsung mengambil posisi mundur, menjauh dari lokasi Nenek Merah. Tidak dengan Javas, pegangan Nenek Merah di baju Javas sepertinya amat kuat. Javas terlihat berusaha melepaskan diri, tapi tidak bisa. Jika ini situasi normal, lucu sekali melihat Javas tertekan.

Selang beberapa saat, tiba-tiba muncul 2 lagi Nenek Merah. Keempat nenek ini kembar, tidak ada bedanya, sama persis seperti Nenek Merah. Nenek-nenek ini tertawa mengerikan, menggelegar. Bulu kudukku berdiri.

“Bar apakah itu bukan Nenek Merah?”

“Aku katakan sekali lagi Va, itu jelas-jelas bukan Nenek Merah. Kamu percayalah.” Ucap Baran.

Aku mengangguk.

“Apa yang harus kita lakukan Bar?”

“Aku akan menyingkap wujud aslinya, kalian bersiap!” Seru Baran.

Baran tampak menarik busur panahnya, lantas melepas panahnya, melesat menuju Nenek Merah yang sedang menjegal Javas. Aku menutup mulutku, ingin berteriak. Aku tidak tega melihat nenek-nenek terluka.

Tapi diluar dugaan, ketika anak panah Baran mengenai tubuh Nenek Merah, Nenek Merah seketika berubah wujud. Yang awalnya berwujud nenek-nenek dengan baju warna merah, kini berubah menjadi seorang lelaki dengan badan besar kekar, berbaju serba hitam, muka dicoreng-coreng dengan apalah aku tidak tahu, dia memakai topi berbulu, mengerikan.

“Selamat datang pangeran Baran.” 

Ucap lelaki itu dengan suara berat sambil membungkukkan badan, memberi hormat pada Baran.

“Maafkan saya pangeran, saya harus menghentikan pangeran.” Ucap lelaki itu lagi.

Aku mengira, lelaki itu adalah suruhan Gara. Yang cukup mengagetkan, lelaki itu masih menaruh rasa hormat kepada Baran, lain halnya dengan si Agra itu.

3 nenek-nenek merah ini mulai maju mendekati kami. Sementara lelaki itu sudah berhadapan dengan Baran. Sudah pasti, pertempuran akan pecah kembali.

Aku, Zea, dan Javas mundur. Kami sebenarnya bingung.

“Aku tidak tega memanah nenek itu.” Lirih Zea.

Kami rupanya merasakan hal yang sama. Hanya Baran yang berani, namun kali ini terlihat Baran dan lelaki itu sudah memulai perlawanan.

Sementara itu, nenek-nenek itu semakin mendekati kami dan tertawa dengan suara yang mengerikan.

“Kita harus segera bertindak!” Seru Javas.

Javas menarik busur panahnya dan mengarahkan kepada nenek yang mengarah ke arahnya.

“Kamu akan memanah nenek nak? Sudahkah kamu lupa dengan nenek?” Ucap nenek itu kepada Javas.

Javas tampak bimbang.

"Ingatlah nenek, anak tampan." Ucap Nenek Merah itu sambil tersenyum genit.

Jujur saja aku ingin tertawa melihatnya. Javas terlihat salting.

“Kau bukanlah Nenek Merah yang kami kenal!” Seru Javas sambil melepaskan anak panahnya.

Tepat mengenai Nenek Merah. Aku menggigit bibirku.

Seperti kejadian tadi, wujud nenek itu lantas berubah menjadi lelaki berbadan besar menyeramkan, tidak jauh berbeda dengan yang sekarang melawan Baran.

Lelaki itu langsung merangsek maju melawan Javas.

Aku dan Zea lantas memanah nenek-nenek di depan kami. Wujud nenek itu lantas berubah menjadi lelaki kekar yang menyeramkan.
Aku mengepalkan tanganku. Kelemaskan jari-jariku. Bersiap kembali bertarung.

Menggunakan kekuatan dengan situasi seperti ini tidaklah tepat. Aku bisa saja menggunakan kekuatanku, namun lawan tidak memiliki kekuatan itu. Perlawanan ini harus fair.

Sewaktu Baran melawan Agra, aku mengira sebenarnya Agra memiliki kekuatan, namun Agra tidak menggunakan kekuatan itu untuk melawan Baran, karena Agra tahu Baran kehilangan kekuatannya. Baiklah, aku akan mengalahkan lelaki kekar itu tanpa kekuatanku.

DI BALIK LUKISANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang