Ratu Aica mengelus rambut putranya satu per satu.
"Maafkan ibu nak, ibu tidak bisa menjagamu." Ucap ratu dengan suara bergetar sambil mengusap lembut rambut Agra.
Agra menggeleng.
"Ini adalah sebuah ketetapan bu."
Napas Agra semakin berat.
Tangan Agra meraih kedua tangan ibunya.
"Agra yang seharusnya meminta maaf."
"Agra yang belum pernah berbakti kepada ibu selama hidupku." Ucap Agra melanjut kalimatnya.
Ratu terus terisak dalam tangisnya.
"Tidak nak."
"Bahkan Agra yang telah menghancurkan kerajaan ibu."
Ratu menggeleng lagi, "Tidak nak."
"Selama 26 tahun Agra hidup dalam kebohongan. Rasanya sangatlah sakit. Hidupku kuhabiskan untuk kejahatan. Hidupku penuh dengan kegelapan."
"Tapi, di ujung hidupku ini, aku merasakan ketenangan untuk yang pertama kalinya."
"Aku bahagia. Aku sungguh bahagia. Di akhir hidupku, aku mendapatkan cahaya yang menerangi kegelapanku."
Agra tersenyum.
"Kakak adalah putra mahkota. Kakak adalah penerus tahta. Kenapa kakak lari dari tanggung jawab itu?"
Baran menatap Agra lekat-lekat.
Agra tersenyum.
"Kamu akan membuatku malu adikku? Kamu yang selama ini berjuang."
Baran menggeleng.
"Kamu adalah ksatria hebat. Tidak tertandingi."
"Jagalah ibu kita adikku."
"Sampaikan salamku pada ayah. Sampaikan permintaan maafku pada ayah. Sampaikan rasa rindu dari anak yang selama ini tidak pernah berbakti kepadanya adikku."
Agra mengerang sakit. Agra menggenggam erat tangan ratu dan Baran. Agra sudah sangat sulit untuk bernapas.
Tiba-tiba pandangan Agra tertuju pada Ava yang berdiri tak jauh darinya. Agra memberi isyarat agar Ava menghampirinya. Ava yang tersadar akan hal itu dengan ragu-ragu mendekat pada Agra. Ava terduduk di samping Agra.
"Terima kasih telah menemani perjalanan Baran."
Ava mengangguk.
"Kamu pemberani." Sanjung Agra pada Ava.
Ava hanya tersenyum sedikit. Ava ikut terlarut dalam kesedihan.
"Kalian adalah petualang tangguh." Ucap Agra lagi bergantian menatap Javas, Zea.
Javas dan Zea mengangguk takzim.
"3 jam adalah waktu berarti bagi Baran. Efek dari transfer kekuatan itu yaitu setelah 3 jam, semua kekuatan Baran akan hilang, begitupun dengan nyawa Baran." Jelas Agra.
Semua tersentak kaget. Kecuali Javas dan Baran. Ternyata selama ini yang mereka sembunyikan adalah mengenai fakta efek transfer kekuatan itu. Baran menunduk.
"Sebentar lagi waku itu akan habis." Tambah Agra.
Ava meremas tangannya. Air matanya menetes.
"Ava, kamu jangan merasa bersalah. Ini adalah jalan satu-satunya."
Agra memahami bagaimana perasaan Ava saat ini.
Ava menatap Baran. Kedua tatapan mata itu bertemu. Ava meneteskan air matanya.
"Hidupku tidaklah lama lagi." Ucap Agra.
"Aku tidak ingin membuat kesalahan lagi di sisa hidupku."
Agra menghirup napasnya dalam.
"Jangan berkata seperti itu nak." Ucap ratu sambil terisak.
"Kekuatan itu tidak ada penawarnya."
Maksudnya adalah kekuatan berdentum yang telah Baran lepaskan.
Baran mengepalkan tangannya, lantas memukulkan tangannya di tanah.
"Adikku maukah kamu memenuhi permintaanku?" Ucap Agra tersenyum.
Baran dengan cepat mengangguk.
"Teruskan perjuanganmu. Bangun kembali kerajaan lukisan 2 dan selamatkan kerajaan lukisan 3."
"Aku akan memenuhi itu kak."
Agra tersenyum mendengar jawaban Baran.
"Aku akan memberikan semua kekuatanku kepadamu adikku."
Baran menggeleng cepat. Dia tahu bahwa ini adalah cara agar Baran tidak jadi kehilangan nyawanya. Ketika tubuh Baran terisi kembali oleh kekuatan yang sifatnya permanen, maka nyawa Baran terselamatkan. Tapi Baran menginginkan kakaknya tetap hidup, namun kekuatan mematikan dari Baran memang tidak memiliki penawarnya.
"Tidak kak. Tidak. Biarkan semuanya terjadi." Baran menggeleng.
"Tidak adikku. Kamu harus berpikir jauh ke depan. Siapa yang akan meneruskan tahta selain kamu?"
"Tidak kak."
Agra menghela napasnya.
"Ava, maukah kamu membantu kami lagi?" Agra beralih menatap Ava.
"A apa yang harus aku lakukan?"
"Memindahkan kekuatanku kepada Baran."
Ava melihat Baran yang terus menggeleng. Ava dalam kondisi bimbang.
"Tolong Ava."
Ava melihat kondisi Agra yang terus tersengal. Dari sorot mata Agra, agra begitu memohon kepada Ava.
KAMU SEDANG MEMBACA
DI BALIK LUKISAN
Teen Fiction"Ava!! kamu punya kekuatan!" Seru Javas. Aku menatap kedua telapak tanganku dan rasanya tidak mungkin kekuatan itu berasal dari tanganku. Aku menggeleng ke arah Javas sambil mengerutkan dahiku. "Aku tadi melihat cahaya biru keluar dari tanganmu Va...
