Sekitar 30 menit aku terlelap, bergantian dengan Zea. Aku melihat Baran telah memberi makan kuda-kuda kita. Kami bersiap-siap, membereskan bekas makan kami, dan berkumpul, siap untuk melanjutkan perjalanan.
Baran mengelus kuda satu per satu.
"Perjalanan kita dengan ditemani kuda-kuda ini, aku rasa cukup sampai di sini."
"Apa maksudnya Bar?" Tanya Zea.
"Kita tahu selama perjalanan di lukisan 2 ini tidak ada rerumputan segar, yang ada hanyalah rerumputan kering. Kita tidak mungkin mengajak kuda-kuda ini terus bersama kita, sedangkan persediaan makanan mereka tidak ada."
"Lalu apa yang harus kita lakukan pangeran?"
"Tidak ada, biarlah kuda-kuda ini kembali."
Setelah dipikir-pikir, iya juga, kami membawa rerumputan segar dari rumah Baran tidaklah banyak, karena keterbatasan kapasitas. Jika kuda terus bersama kami, mereka akan kelaparan. Sedangkan jika di rumah besar Baran, ada padang rumput hijau yang sangat luas, tidak tahu juga kenapa itu ada di tengah kegersangan ini. Selain itu juga pasti ada pelayan yang bertugas merawat kuda-kuda ini.
"Tapi, apakah kuda-kuda ini benar-benar bisa kembali ke rumah besar pangeran? Aku takut kuda-kuda ini hilang."
"Jangan khawatir, kuda-kuda ini tahu arah jalan pulang. Mereka tidak akan hilang."
"Bagaimana dengan jebakan-jebakan yang ada di jalan Bar? Bagaimana jika kuda ini terperangkap?"
"Tidak akan, semua perangkap telah kita hilangkan tadi. Aku yakin, sudah tidak ada hal yang perlu kita cemaskan."
"Apakah artinya kita sudah dekat dengan pintu gerbang lukisan 3 pangeran?"
"Belum, tapi kuda ini sudah sangat membantu kita dalam menempuh perjalanan yang sangat panjang tadi. Selebihnya kita akan berjalan kaki."
Aku sudah menyayangi Alci. Alci, kuda yang seolah bisa berkomunikasi denganku. Aku seperti memiliki suatu ikatan khusus dengan Alci. Rasanya berat melepas Alci. Tapi ini juga demi kebaikan Alci. Banyak kekhawatiran, tapi setelah mendengar penjelasan Baran, aku rasa kekhawatiranku ini tidak perlu kuhiraukan.
"Alci, terima kasih sudah menemaniku.''
Aku mengusap kepala Alci. Muncul cahaya kebiruan dari telapak tanganku. Kepala Alci menyandar di bahuku. Aku terus memegang kepala Alci sembari mengelusnya.
"Kamu kuda yang lincah, kuda yang cantik, kuda yang penurut, pulanglah Alci. Hati-hati di jalan."
Aku melihat mata Alci berkaca-kaca.
Aku paling tidak kuat dengan kondisi ini. Kutahan air mataku, aku tidak ingin menangis di depan Baran, Zea, apalagi Javas.
"Apakah ini pertemuan terakhir kita Alci?" Aku bertanya dengan suara bergetar.
Alci meringik sambil mengibaskan rambut di kepalanya.
"Aku akan pulang ke duniaku."
Alci meringik lagi sambil mengibas rambut di kepalanya.
"Terima kasih Alci, maafkan aku. Aku belum bisa menjadi penunggang kuda yang baik."
Terlihat air mata Alci menetes.
"Jangan seperti itu Alci. Jangan membuatku menangis, atau Javas akan menertawakanku." Aku tak kuasa menahan air mataku.
Aku memeluk Alci. Cahaya kebiruan muncul dari telapak tanganku dan menyebar ke seluruh tubuh Alci.
Baran telah melepas kudanya, begitupun Zea dan Javas. Sekarang tinggal Alci. Alci belum mau beranjak.
"Pulanglah Alci!" Seruku.
KAMU SEDANG MEMBACA
DI BALIK LUKISAN
Teen Fiction"Ava!! kamu punya kekuatan!" Seru Javas. Aku menatap kedua telapak tanganku dan rasanya tidak mungkin kekuatan itu berasal dari tanganku. Aku menggeleng ke arah Javas sambil mengerutkan dahiku. "Aku tadi melihat cahaya biru keluar dari tanganmu Va...
