Asap

249 27 0
                                        

Kami mulai berjalan perlahan dan berusaha tidak menimbulkan suara apapun. Kami semakin dekat dengan kepulan asap. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan sejauh ini. Saat kami berjarak 4 m saja dari kepulan asap, kami mulai merasakan hal-hal ganjil. Aku merasa asap yang tadinya mengepul pada satu titik, perlahan-lahan mulai menyebar.

" Va! Ini kenapa sekitar kita mulai tertutup asap?" Bisik Javas.

" Ini jebakan Jav, jangan sampai kita terpisah!" Seruku.

Zea memegang tanganku erat, Javas masih terus memperhatikan ke depan. Langkah kami terhenti sejenak. Kepulan asap semakin menyebar hingga mulai menutupi pandangan kami. Kami mulai terbatuk-batuk, mata terasa perih, dan kesulitan bernapas. Asap sekarang benar-benar menutupi pandangan kami.

" Kita harus segera keluar dari sini." Ucap Javas sambil terbatuk-batuk.

Kami berusaha mencari jalan keluar, namun tak kami temukan, bahkan untuk melihat saja susah. Tanpa kami sadari, ternyata kami terpisah satu sama lain, aku sudah tidak bisa melihat Javas maupun Zea.

" Ava! Kamu dimana?" Teriak Zea yang aku rasa berjarak cukup jauh dariku.

" Di sini Ze."

" Javas dimana?" Teriak Zea sekali lagi.

" Di sini!" Balas Javas.

Aku terus terbatuk-batuk, mata sangat perih sehingga aku terus memejamkan mata.

Aku mencoba untuk konsentrasi, aku masih bisa melihat remang-remang di dalam kepulan asap ini. Tetapi yang kulihat hanyalah kepulan asap, tidak kulihat tempat tanpa asap. Saat aku fokus melihat ke tengah-tengah, aku melihat seperti benda berwarna emas berkilau. Aku yakin itulah kuncinya. Dadaku semakin sesak, air mata keluar dengan sendirinya karena asap membuat mata perih.

" Ava, bagaimana kita bisa keluar dari asap ini? Kita bisa kehabisan napas jika terus di sini." Teriak Zea.

" Sepertinya kita benar-benar terjebak, tidak ada jalan keluar di sini kecuali satu."

" Apa itu Va?" Teriak Javas.

" Aku melihat benda berwarna keemasan, sepertinya, itulah kuncinya." Ucapku.

" Dimana Va?" Tanya Javas.

" Tepat di tengah-tengah tempat ini." 

" Kita harus segera mengambilnya Va." Ucap Javas sambil terbatuk-batuk. Begitupun Zea yang terdengar terbatuk-batuk.

" Tapi aku tidak bisa melihat sesuatu apapun di sekitar sini Va." Ucap Zea.

" Aku juga." Tambah Javas.

Aku baru menyadarinya, hanya aku saja yang masih bisa melihat walaupun remang-remang. Tidak ada pilihan lain, harus aku yang mengambilnya.

" Aku yang akan mengambilnya." 

" Kamu sendiri Va? Jangan Va!, itu terlalu berbahaya." Ucap Javas.

" Tidak ada pilihan lain Jav." Aku mulai mendekati benda itu yang tergeletak di tanah.

Tinggal satu meter lagi, aku bersiap-siap mengambil kunci itu, kunci berukuran besar, sebesar lenganku. Namun, secara tiba-tiba, muncul kepulan asap berwarna hitam dan juga panas. Aku sontak berteriak dan menjauh dari lokasi tersebut.

" Kenapa Va?" Teriak Javas cemas.

" Asap hitam dan panas baru saja keluar Jav!" Jawabku.

" Kita harus segera lari dari tempat ini." Teriak Zea.

" Masalahnya kita tidak bisa melihat jalan keluar." 

Aku terbatuk-batuk, Zea dan Javas pun terbatuk-batuk. Kondisi ini semakin parah.

Aku melihat Zea, aku dapat melihat Zea di antara asap hitam dan asap putih. Aku segera menarik tangan Zea, memegang tangan Zea.

" Ava." Ucap Zea terdengar senang ketika aku berhasil menemukannya.

Aku mulai mencari Javas, mencoba konsentrasi untuk melihat sekitar sebelum asap hitam mulai menyebar lebih banyak.

" Javas!" Teriak Zea.

" Di sini!" Jawab Javas.

Aku mencari-cari sumber suara dan aku coba fokus, ya! Aku bisa melihat remang-remang Javas. Aku segera berlari sambil menggandeng Zea ke arah Javas.

" Javas."

" Ava?" Ucap Javas kebingungan, terlihat berusaha melihatku.

Aku bingung harus berbuat apa sekarang. Tiba-tiba Zea ambruk. Zea mulai kesulitan untuk bernapas. Aku mengguncang-guncangkan tubuh Zea.

" Ze!!! bangun Ze!" Aku menepuk-nepuk pipi Zea dengan suara bergetar.

Javas pun terlihat sangat cemas. Kami harus segera keluar dari sini, tapi kami tidak bisa menemukan jalan keluar.

DI BALIK LUKISANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang