Cincin Ibu Ratu

227 21 0
                                        

Tampak Baran masih menempelkan belatinya di leher pria itu. Namun, Baran terlihat memperhatikan cincin yang dikenakan di jari manis di tangan kiri pria itu.

"Cincin siapa yang kau pakai?" Gertak Baran.

Pria itu diam membisu, seperti bingung mau menjawab apa.

"Katakan!" Gertak Baran lagi sambil menempelkan belati itu semakin kuat.

Pria itu dalam posisi terkunci, dia tidak berani bergerak.

"Katakan! Atau..." Baran tidak meneruskan kalimatnya.

"Kamu tidak perlu tahu ini cincin siapa!" Balas pria itu.

"Aku perlu tahu, katakan!"

"Apakah itu cincin ibuku?" Baran penuh dengan luapan emosi.

Pria itu tidak menjawab lagi. Cincin yang dikenakan pria itu cincin yang indah. Cincin berwarna biru emas, sangat khas seperti cincin anggota kerajaan. Apakah itu benar cincin ibunya Baran? Perjalanan ini penuh dengan kejutan.

"Katakan!" Baran semakin mencekik pria itu.

"Iya! Benar! Ini cincin ibu ratu!" Jawaban pria itu mengejutkan kami, khususnya Baran.

"Beraninya kau!" Gertak Baran. Aku terkaget, aku baru melihat Baran semarah ini.

"Dimana kau sembunyikan ibuku!" Suara Baran tampak bergetar.

"Jangan khawatir, aku berusaha mengendalikan perasaanku. Tidak kubiarkan rasa benci yang kumiliki kepadamu itu sampai juga ke ibu ratu!" Balas pria itu.

"Aku bertanya dimana ibuku!"

"Tidak akan terjadi apa-apa dengan ibumu." Ucap pria itu.

"Jika kamu melukai sedikit saja ibuku, kamu akan menanggung akibatnya!" Gertak Baran.

Mereka masih terus mempertahankan posisi mereka masing-masing. Hingga akhirnya pria itu berhasil lepas dari Baran. Baran terlihat tidak berdaya. Pria itu lantas pergi. Hanya beberapa langkah pria itu melangkah, dia sudah menghilang. Apakah pria itu memiliki kekuatan?

Sementara itu, Baran masih berdiri dengan tatapan kosong, dia berusaha mengatur napasnya. Kami mendekati Baran. Aku tidak berani mengucapkan satu patah kata pun. Baran masih mengendalikan emosinya. Baran tampak menghela napasnya, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan bertumpu pada kedua lututnya.

"Sabarlah pangeran." Akhirnya Javas angkat bicara.

Zea mengambilkan minum untuk Baran.

"Kita akan menemukan ibu ratu Bar, kami akan bersama kamu."

"Maafkan aku, karena aku, kalian terlibat masalah ini. Tidak seharusnya kalian terlibat dalam masalahku." Ucap Baran.

"Tidak Baran, masalahmu, masalah kami juga. Eh dan aku merasa, aku juga bagian dari lukisan 2. Aku memiliki kekuatan. Walaupun aku masih sulit untuk menerima kenyataan ini, tapi kemungkinan besar, aku memiliki hubungan dengan dunia lukisan ini." Baran terlihat terkejut dan tersenyum tipis saat aku mengucapkan ini.

"Terima kasih."

"Pangeran, pria tadi itu siapa?"

"Agra. Dia ksatria lukisan 3, bawahannya Gara." Singkat Baran.

"Dia memiliki kekuatan Bar?"

"Iya, lukisan 3 memiliki kekuatan dan mereka mencuri batu permata untuk menambah kekuatan mereka."

"Mengapa kamu melepaskan Agra? Dia pergi kemana?

"Aku membutuhkan Agra untuk mengetahui keberadaan ibuku. Dia pasti kembali ke lukisan 3."

DI BALIK LUKISANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang