Ksatria Lukisan 2

235 20 0
                                        

Waktu berlalu begitu cepat. Hari ini adalah hari dimana petualangan dimulai. Menjelajah medan yang baru bersama sang pangeran kerajaan lukisan 2. 

Semua bersiap di lapangan belakang. Aku, Javas, Zea kali ini berganti kostum layaknya seorang petarung, maksudnya, baju ini berbahan kulit tebal, tujuannya adalah untuk melindungi diri kita dari benda-benda tajam, ini sangat keren. Aku merasa seperti seorang petarung handal ketika memakai baju ini.

Sementara itu, sang pangeran telah datang dengan kuda hitamnya. Kali ini, Baran memakai baju kulit warna hitam. Semua kostum Baran serba hitam. Di bahu sebelah kanan terdapat rumbai-rumbai mengkilap. Baju ini sangat saguh, ditambah wibawa Baran yang memakainya, aku yakin siapapun yang melihatnya akan takjub. Kami semua telah siap dengan perlengkapan panah.

"Bagaimana, kalian siap?" Tanya Baran melihat kami sudah berada di kuda masing-masing.

"Siap pangeran" Jawab Javas dengan mantap.

Aku dan Zea mengangguk bersamaan.

Baran tampak menghirup napas dan menghembuskannya pelan, aku rasa dia mencoba untuk menenangkan dirinya. Dia menatap ke depan dengan tatapan agak lama. Lantas kemudian menatap kami dan langsung memacu kudanya. Kami mengikutinya dari belakang.

Kami memasuki hutan yang sebagian besar telah hangus terbakar, hingga tersisa pohon-pohon yang tinggal batangnya saja, atau malah bahkan hanya menyisakan abunya saja. 

Aku bisa memahami bagaimana perasaan Baran saat ini. Dia dalam keadaan bingung dan terpukul melihat keadaan yang terjadi pada daerah dan masyarakatnya. Setelah berulang kali berusaha untuk mendapatkan batu permata itu, tidak ada hasil dari semua itu. Dia kehilangan semua kekuatannya. Bahkan tidak hanya Baran yang kehilangan kekuatannya, seluruh keluarga dan masyarakat juga kehilangan kekuatan mereka.

Kehilangan kekuatan sama saja seperti kehilangan jati diri mereka sendiri. Baran tidak hanya kehilangan jati dirinya, dia juga kehilangan keluarganya. Ibunya dan kakaknya entah dimana sekarang. Ayahnya sedang terbaring sakit akibat perang masa lampau. Aku tahu, baran memendam amarah, ambisi yang luar biasa. Tapi meskipun seperti itu, dia dapat mengontrol dirinya, dia mungkin hanya lebih sering terlihat mendiamkan diri untuk mengontrol emosi dan menenangkan dirinya.

Kami memacu kuda, membelah hutan pepohonan kering ini. Baran terlihat memperlambat laju kudanya. Kami bertiga ikut memperlambat, hingga berhenti tepat di samping Baran yang juga menghentikan kudanya.

"Ada apa pangeran?"

"Ada jebakan." Singkat Baran.

"Jebakan apa Bar?"

Baran langsung turun dari kudanya dan tampak berjalan ke depan. Baran tampak melemparkan batu besar ke tanah. Batu itu lantas masuk ke dalam tanah dan secara tiba-tiba melesat 2 tombak tajam dari arah samping menuju ke tengah, persis di hadapan Baran. Aku dan Zea spontan berteriak karena takut tombak itu mengenai Baran. Namun ternyata tombak itu hanya mengenai udara kosong. Baran tampak santai saja. Baran langsung kembali menaiki kudanya.

"Siapa yang memasang perangkap itu pangeran?" Tanya Javas tegang.

"Gara" Jawab Baran dengan tatapan matanya yang terus memandang ke depan.

"Dia ada di lukisan ketiga kan? Bagaimana bisa dia memasang perangkap di sini?"

"Dia tidak sendiri, ada banyak anak buahnya. Ini salah satu kerjaan anak buahnya. Artinya, mereka sudah tahu keberadaan kita." Baran tampak meremas tangannya.

"Apa yang harus kita lakukan?" Zea akhirnya bicara.

"Kita harus waspada." 

Wajah Zea tampak sangat cemas.

"Sudah Ze jangan panik, kita lewati semua ini."

"A..Aku takut Va." Saking takutnya, Zea sampai terbata-bata.

"Tenang saja Ze, anggap saja ini petualangan seru yang hanya bisa kita rasakan sekali seumur hidup. Kita harus nikmati ini." Enteng sekali Javas.

"Tapi ini petualangan hidup dan mati Jav!"

"Aku tau Va, ya aku percaya setiap mata anak panah, setiap serangan sudah ada alamatnya. Jika memang tidak tertulis nama kita, mau sedekat apapun juga tidak akan kena." Javas sok sokan jadi ksatria, padahal di depannya ada ksatria sungguhan.

"Jika di panah itu tertulis dengan jelas nama Javas bagaimana?"

"Ya ya aku siap dengan segala resikonya." Ucap Javas celingukan.

"Halah"

"Mulai lagi kalian." Potong Zea sambil berkacak pinggang.

Aku baru sadar ternyata Baran sudah dari tadi menunggu di atas kuda untuk melanjutkan perjalanan.

"Maaf pangeran."

Kami memacu kuda kami melanjutkan perjalanan. Seperti formasi awal, Baran berada paling depan, disusul aku, Zea, dan paling belakang Javas.

Aku bosan dengan formasi ini.

"Alci, maukah kamu berlari lebih cepat lagi?" Aku berbisik pada Alci.

Alci hanya membalas dengan ringikan, tidak menambah kecepatannya.

"Ayolah Alci, aku bosan dengan formasi ini." Bisikku lagi.

Alci meringik lagi, tidak menambah kecepatan.

"Ayolah Alci, kamu kuda yang lincah, pasti bisa mengalahkan kudanya Baran. Tidak lama kok, nanti kamu bisa di belakang Baran lagi." Bisikku sekali lagi.

Alci tidak meringik. Ternyata Alci mengikuti ucapanku, Alci melaju cepat sekali. Ini seru!

Kini, aku dan Alci berhasil melewati Baran dengan kudanya. Baran tertinggal jauh di belakang.

"Bagus Alci!"

Alci terus melaju cepat. Di belakang sudah tak terlihat lagi Baran, Zea, dan Javas. Aku melihat sekelilingku, penuh dengan pepohonan mati, tidak ada kehijauan di sini. Udara cukup panas. Kami membawa persediaan makanan banyak, karena memang untuk mencari makanan di hutan mati ini sangatlah sulit.

Aku merasa sudah cukup jauh dari mereka.

"Alci, sudah pelanlah, kita sambil menunggu mereka." Alci langsung menuruti perkataanku.

Cukup lama kita menunggu, tetapi mereka belum juga terlihat. Aku memutuskan untuk menghentikan laju Alci. Mungkin karena kita melaju terlalu cepat, mereka tertinggal jauh di belakang.

Aku membersihkan bulu putih Alci yang terkena debu-debu di perjalanan.

"Kenapa mereka lama Alci?"

Alci meringik. Aku tidak tahu apa makna ringikan Alci.

Alci meringik lagi, bahkan terus meringik sambil memutar badannya menghadap ke jalan yang telah kami lalui.

"Ada apa Alci?"

Alci meringik sambil badannya membungkuk. Mungkin Alci ingin aku menaikinya. Tapi kenapa balik arah?

"Kamu ingin kita kembali lagi?"

Alci meringik.

Saat aku hendak menaiki Alci, tiba-tiba muncul asap di sekelilingku. Perasaanku tidak enak, ini seperti asap di lukisan 1, asap mematikan.

Tubuhku secara tiba-tiba terdorong ke belakang, seperti asap itu mendorongku, hingga tubuhku terjatuh ke belakang.

"Alci! Pergilah! Kabarkan pada mereka tentang keberadaanku!"

Alci meringik, lalu pergi.

Asap di depanku semakin pekat. Aku tidak tahu akan ada asap ini lagi. Ini kesalahanku, kenapa aku meminta Alci untuk melaju cepat. Baran, Zea, dan Javas tidak kunjung datang. Aku harus menghadapi asap sialan ini.

DI BALIK LUKISANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang