3 minggu berlalu begitu saja. Ulangan semester telah usai, wajah-wajah kusut karena banyak berpikir saat mengerjakan soal juga yang harus remidi setelahnya sekarang telah sirna. Mereka hanya harus menunggu minggu depan untuk pengambilan raport. Sekaligus pengumuman kenaikan kelas untuk kelas 10 dan 11.
Suasana di kelas XI Sosial 03 lumayan sepi. Karena hari ini sudah memasuki hari bebas, banyak siswa yang memilih membolos. Sementara dikursi bagian pojok belakang Saga tengah tidur terlentang dengan lengan yang ia letakan diatas wajahnya.
Seseorang melemparkan tas tepat diatas dada Saga. Membuat pemuda itu terlonjak kaget dengan wajah dan mata yang memerah khas bangun tidur. Saga menyipitkan matanya dan mulai beranjak duduk. Mengetahui siapa yang tengah berdiri dihadapannya, Saga mendengus kasar.
"Apa," jawab Saga dengan nada ketus.
"Lo beneran nggak mau maafin gue? Lo beneran nggak mau temenan sama gue lagi? Lo yakin?" Tanya Rimba dengan tangan yang berkacak pinggang.
Saga memasang wajah malas sembari menguap dan merentangkan tubuhnya yang terasa kaku karena tidur dikursi cukup lama. Rimba mendengus, merasa ucapannya tidak didengarkan Saga. Rimba mengusap rambut gondrongnya kebelakang sembari berdecak kesal.
"Eh, lo masih disini?" Tanya Saga sembari mendongak menatap wajah Rimba.
"Sumpah ya, Njing. Lo masih marah sama gue? Anjing lah lo!"
Saga hanya diam dengan tangan yang mencoba menggaruk punggungnya karena gatal. Rimba yang mulai emosi akhirnya menendang meja dihadapannya dengan kencang sampai mengagetkan siswa lain yang tengah berada dikelas.
"Gue ngaku gue yang salah! Gue udah bikin Diana sakit, gue brengsek..."
"Bagus kalo lo nyadar," potong Saga.
"Lo udah gebukin gue berkali-kali. Gue sampe masuk rumah sakit gara-gara lo. Jadi, seharusnya lo nggak perlu musuhin gue kaya gini lah. Lagian Diana juga udah maafin gue, masa lo mau gini aja," jelas Rimba sembari menghela napas panjang.
Saga hanya terdiam. Rimba benar, Saga sudah memukuli Rimba sepuas hatinya 3 minggu yang lalu setelah mengetahui fakta jika Rimba berselingkuh didepan Diana dan lebih parahnya, Rimba tidak ingin melepas Diana. Tipe laki-laki yang tidak mau menghargai perempuan adalah hal yang paling Saga benci. Dan Rimba justru melakukan hal itu pada salah satu sahabatnya, Diana.
Jika saja Diana tidak melerai keduanya yang tengah adu jotos, mungkin saja Rimba akan lebih parah lagi. Setelah tau alasan teman berparas bule itu menyerangnya, Rimba menjadi diam saja saat Saga terus memukulinya.
"Liat nanti aja deh, gue mau balik," jawab Saga yang berdiri dari kursinya kemudian meraih tas dan menyampirkannya di bahu kanan.
Meninggalkan kelas, Saga berjalan santai menyusuri koridor lantai 3, kelas 11. Sepi. Suasana koridor sekolah hari ini lumayan sepi, hanya dilewati satu atau dua siswa. Tapi ada yang lebih sepi dari itu. Hati Saga.
Saga menghentikan langkahnya ditengah koridor. Matanya menatap sebuah kelas dengan pintu yang setengah tertutup, tak jauh dari tempatnya berdiri. Kelas XI Sains 01. Saga merindukan Jenna. Selama 3 minggu ini Saga berusaha untuk tidak memiliki interaksi apapun dengan gadis yang terkenal dingin itu. Saga ingin menuruti ucapan Noah, untuk tidak mengharapkan apapun pada Jenna, untuk berusaha merelakan gadis itu. Sulit, jujur saja. Ketika tidak sengaja melihat Jenna, ada rasa yang menggebu dihatinya. Dan seperti yang sudah-sudah, jika bertemu Jenna, Saga pasti akan berlari mendekati gadis es itu. Tapi sekarang yang terjadi justru sebaliknya. Ketika melihat Jenna, Saga harus putar balik. Berlari menjauh.
"Kangeenn....," keluh Saga dengan nada yang amat lirih, hampir mirip suara rengekan anak kecil.
Tepukan dibahunya membuat Saga tersadar dari kegalauannya menatap pintu kelas Jenna. Saga menoleh kemudian mengerutkan dahinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
JENNA ✓
Genç Kurgu[Completed] Jenna, terlihat layaknya gadis pada umumnya. Tapi tidak, bagi yang paham cerita hidupnya. Dingin. Tidak tersentuh. Wajah cantiknya tidak pernah tampak dengan ekspresi. Tatapannya kelam, membuat Saga sering tenggelam kedalamnya. Kenyat...
