"Terus ini gimana, Bunda?"
Bunda menatap map coklat dihadapannya. Saga sudah menjelaskan semuanya. Kecuali soal keluarga Lavend.
"Jenna itu baik sekali sama kita. Kamu harus hargai pemberiannya, Nak."
"Tapi Saga merasa nggak pantes, Bunda. Aku ngerasa jadi manusia yang nggak tau diri! Aku cuma punya cinta buat Jenna tapi dia malah ngasih restoran. Aku juga nggak tau Jenna suka sama aku atau enggak."
"Aku... Aku nggak suka dikasihani kalo itu memang niat Jenna kasih aku restoran. Karena kasihan."
Bunda mengusap pelan bahu Saga. Pemuda itu jelas bingung dengan perlakuan Jenna. Gadis itu memiliki sedikit perhatian padanya tapi tidak pernah mengatakan apapun soal perasaanya pada Saga. Dan sesering apapun Saga menyatakan cinta pada Jenna, gadis itu selalu menolak. Dan Saga tipe yang tidak suka dikasihani. Pemuda itu selalu tampak tegar dan baik-baik saja bahkan dengan seluruh beban hidupnya.
"Bunda serahkan semua sama kamu, Nak. Tapi kalo memang mau dibalikin, usahakan jangan sampai membuat Jenna tersinggung. Niat dia baik mau bantu kamu yang pengin punya restoran."
"Makasih, Bunda."
Saga menghirup napas dalam, perasaanya tidak sepenuhnya lega. Masih banyak pertanyaan di otaknya yang sulit untuk dijawab jika tidak bertanya langsung pada yang bersangkutan. Jenna.
"Soal tanah panti ini gimana, Bunda? Ijinin Saga kerja lagi ya biar bisa bantu Bunda. Mungkin nggak bisa buat beli tanah ini tapi uangnya mungkin bisa buat sewa kontrakan buat kita semua tinggal."
Bunda tampak menggeleng pelan dan matanya tampak berkaca-kaca. Saga yang melihat Bunda ingin menangis ingin menenangkan dengan meraih tangan Bunda yang sedikit bergetar.
"Bunda..."
"Tidak, Nak. Sekarang kita tidak usah khawatir soal tanah panti. Panti asuhan ini sudah aman," ucapan Bunda lirih dan penuh haru. Saga menatap bingung dengan dahi berkerut.
"Jenna, Nak Jenna yang membeli tanah ini untuk kita, Nak. Dia juga membayar semua hutang pemilik tanah sebelumnya. Surat tanah juga sudah atas nama Bunda. Tidak ada yang akan mengusik kita lagi. Panti asuhan ini sudah aman."
Bunda menangis pada akhirnya, tangis haru. Saga terdiam beberapa saat menatap wajah Bunda yang basah kerena air mata. Bayangan wajah Jenna entah kenapa melintas di otaknya. Gadis itu sudah banyak membantu mereka, juga Saga.
Percakapan malam ini diakhiri dengan Saga yang diperintahkan untuk mandi dan istirahat. Saga menolak makan dahulu.
Saga menutup pintu kamarnya sepulang dari mandi. Di ranjang yang bersebrangan dengannya, matanya menangkap Dio yang sudah tidur bergelung selimut. Mirip kepompong menurutnya.
Pemuda itu duduk ditepi ranjang, tangannya terulur meraih map coklat di meja belajarnya. Membuka map tersebut dan mengeluarkan isinya, membacanya sekilas dan menatapnya lekat-lekat. Saga ragu untuk mengembalikannya pada Jenna. Gadis itu jelas tidak suka ketika Saga mengembalikan restoran itu padanya. Terakhir Saga menolak, gadis itu bahkan mengatainya dengan manusia yang tidak tau berterima kasih. Dari ucapan itu saja, Saga jelas yakin jika Jenna tersinggung pemberiannya tidak diterima.
Saga kembali memasukan sertifikat kepemilikan kedalam map dan menyimpannya di laci meja belajar. Pemuda itu memilih untuk merebahkan tubuhnya yang lelah. Menatap langit-langit kamar yang sialnya justru bayangan wajah Jenna yang terlintas di otaknya.
Jenna memang super tertutup dan misterius. Semua orang mengakui itu. Ditambah ekspresi gadis itu yang datar-datar saja menambah kesan misterius yang dalam. Tidak ada yang tau apa yang Jenna rasakan, tidak ada yang tau apakah gadis itu sedang bahagia atau bersedih. Tapi Saga sangat tidak menyangka jika sikap tertutup dan kemisteriusan Jenna karena memang gadis itu memiliki rahasia yang besar.
KAMU SEDANG MEMBACA
JENNA ✓
Teen Fiction[Completed] Jenna, terlihat layaknya gadis pada umumnya. Tapi tidak, bagi yang paham cerita hidupnya. Dingin. Tidak tersentuh. Wajah cantiknya tidak pernah tampak dengan ekspresi. Tatapannya kelam, membuat Saga sering tenggelam kedalamnya. Kenyat...
