39.Gelap dan Terang.

202 18 2
                                        

Noah memasuki ruangan yang pintunya dijaga oleh dua bodyguard. Saga yang melihat itu sedikit ragu untuk mengikutinya. Alhasil Saga berdiri diam menatap pintu yang ditahan oleh salah satu bodyguard didepannya agar pintu tersebut tetap terbuka, menunggu Saga masuk.

Saga meringis kecil, apakah ia akan dieksekusi atau disuruh berkelahi satu lawan satu dengan anak buah Noah untuk membuktikan jika Saga layak untuk Jenna? Atau Saga akan dicerca berbagai macam pertanyaan menjebak oleh Noah? Atau Saga akan ditawari uang agar mau menjauhi Jenna?

Pikiran-pikiran itu terus berputar diotak Saga. Salah satu bodyguard berdehem membuat lamunan Saga buyar.

"Master Lavend menunggu anda didalam, Tuan."

Saga menelan ludah susah payah, ia ingin minum air putih sekarang. Bukan karena haus tapi ia perlu untuk meringankan rasa gugupnya.

Saga akhirnya melangkah masuk dengan langkah pelan. Jantungnya berdegub dengan kencang. Apalagi setelah mengetahui fakta jika Noah adalah pemimpin dari sebuah kelompok mafia. Saga yang awalnya tidak percaya sekarang sedikit yakin dengan itu. Noah tidak perlu menjelaskan, aura pria itu benar-benar sudah menjelaskan semuanya.

Masuk lebih dalam keruangan tersebut, perasaan cemas dan gugup Saga sedikit berkurang. Ini karena suasana didalam ruangan tersebut. Aroma daun teh bercampur bunga tercium lembut. Ruangan yang luas itu memiliki dua sisi tembok kaca yang memperlihatkan hijaunya hutan diluar sana. Terdengar gemericik air yang berasal dari pancuran berhias tanaman air disalah satu sudut ruangan. Ruangan ini terasa amat nyaman dan damai.

Noah berdiri tegap membelakangi Saga. Pria itu tampaknya tengah serius menatap pepohonan rindang diluar tembok kaca. Saga berdiri ditengah ruangan, dengan mata yang tak henti meneliti sekitar. Kagum pada ruangan tersebut.

Sampai mata Saga menemukan sebuah foto berbingkai yang cukup besar disalah satu sisi ruangan. Dahinya berkerut, wanita difoto tersebut mirip dengan Jenna, sangat cantik. Apakah itu ibu Jenna? Pikir Saga cepat.

"Sangat menawan, bukan?"

Saga sedikit terlonjak, Noah sudah berada tak jauh darinya. Saga mengangguk mengiyakan.

"Namanya Selena. Dia istri saya, meninggal sesaat setelah melahirkan Jenna," jelas Noah dengan mata yang fokus menatap foto Selena.

"Saya turut berduka cita, Tuan."

Noah mengerutkan dahinya sekilas dan tersenyum tipis, "Tuan?"

"Apakah saya salah bicara? Saya tidak bermaksud," jawab Saga dengan wajah cemas dicampur takut.

"Tidak, kamu tidak salah bicara. Kenapa berubah? Sebelumnya kamu memanggil saya dengan sebutan 'Om'. Sejujurnya saya lebih suka dipanggil hanya dengan nama. Cukup panggil Noah."

Saga menggeleng, "Saya merasa itu kurang sopan."

"Yeah, Indonesia. Harus memanggil orang yang lebih tua dengan panggilan yang sopan. Itu bagus."

Saga mengangguk lirih. Noah memasukan tangan kedalam saku celana bahannya, kemudian melangkah menjauhi Saga.

Saga tetap berdiri ditempat semula menatap Noah yang berjalan menuju sebuah sofa dan duduk bersandar disana. Kaki Saga terasa kaku untuk digerakan. Ia juga bingung, apakah ia harus ikut Noah duduk disofa hitam itu atau tetap berdiri kaku.

Dari kejauhan, Saga bisa melihat Noah yang sedang menuangkan teh kedalam cangkir. Menghirupnya dalam dan hikmat kemudian meminumnya dengan pelan. Jadi, apakah Saga sudah boleh pergi dari sini sekarang?

Mulut Saga ingin mengatakan sesuatu, ia ingin pamit. Namun lidahnya kelu. Ia seperti kehilangan kosa kata. Sampai suara berat Noah memanggilnya, hal itu membuat pemuda bule itu mengurungkan niatnya pamit dari sana.

JENNA ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang