"Nona, tadi Pak Nugroho menghubungi saya kalo surat-surat perpindahan nama kepemilikan dua restoran sudah diganti dengan nama Saga Julian Mahendra. Kira-kira Nona sendiri yang mau mengambilnya atau Saga aja?"
"Kita mampir ke restoran Pak Nugroho."
"Baik, Nona."
Sampai direstoran tersebut, Jenna langsung disambut oleh Pak Nugroho yang berdiri didepan restoran. Pak Nugroho masuk kemobil dan menyerahkan surat-surat itu pada Jenna. Hanya ada percakapan singkat diantara keduanya. Dan Jenna memilih cepat pergi karena harus sekolah.
"Tumben kamu berangkatnya siang, Jenna?"
Saga menghadang Jenna dianak tangga. Kebetulan yang bagus menurutnya. Jenna membuka tas nya, mengambil map coklat dan menyodorkan map coklat tersebut pada Saga.
"Ini apa?"
"Restoran."
"Ah! Soal warung makan Pak Nugroho ya? Terus ini buat apa?"
"Surat kepemilikan."
"Ooohhh." Saga mengangguk-angguk pelan. Sembari mengamati map coklat ditangannya. Kemudian menatap Jenna dan tersenyum lebar, memperlihatkan gigi depannya yang putih dan rapi.
"Makasih banyak, Jenna! Jadi mulai hari ini aku harus ke warung makan Pak Nugroho dong? Kan udah jadi punyaku."
Jenna mengangguk pelan, "Latihan."
"Siap! Aku bakal latihan jadi Pak Nugroho!" Saga kembali tersenyum lebar, sudah kebiasaan pemuda itu.
"Kalian ngapain disini? Nggak denger bel masuk?"
Saga menatap kebawah dan Jenna berbalik. Keduanya menatap sosok yang sama. Berdiri gagah dengan setelan rapinya. Alega tampak memasang wajah tidak suka.
"Oh maaf, Kak! Kita lagi ketemuan. Jenna katanya kangen banget sama saya. Kasian kan, anak orang dibikin kangen. Kata Dilan kan rindu itu berat, Jenna nggak akan kuat, biar Alega saja!"
Saga tertawa kencang sembari menarik lengan Jenna dan membawanya lari menaiki tangga menuju kelas mereka. Saga maupun Jenna bisa mendengar teriakan Alega yang menyebut nama pemuda tengil itu.
Mereka berhenti didepan kelas Jenna. Napas gadis itu tampak ngos-ngosan. Jenna hampir tidak pernah berlari dan Saga memaksanya berlari sembari menaiki anak tangga. Belum lagi tas yang dibawa gadis itu cukup berat. Saga masih menggandeng tangan Jenna, pemuda itu berdiri dengan sisa tawanya. Menertawakan Alega yang meneriaki namanya. Saga bisa membayangkan wajah kesal kakak kelas nya itu.
"Asik nih yang pagi-pagi udah jogging bareng! Beuh!! Romantisnya ngalahin truk gandeng!"
Jenna dan Saga reflek menarik tangan mereka menjauh mendengar sindiran dari teman sekelas Jenna. Doni bersender dipintu melipat lengan didepan dada bersama Yuda yang merangkul bahunya. Mereka kompak memasang wajah jahilnya. Jenna tidak memperdulikan mereka. Gadis itu memilih masuk kekelasnya.
"Jomblo bilang bos!" ejek Saga.
Doni mendengus, sementara Yuda dan Saga tampak tertawa mengejek. Doni si laki berwajah cantik itu memang memilih untuk menjomblo sampai dirinya menemukan sosok wanita yang jauh lebih cantik darinya.
"Diem lo, Yud! Lo juga jomblo! Korban friendzone lagi! Mampus!"
Yuda tampak terdiam, wajahnya berkerut mendengar fakta yang Doni katakan. Pemuda itu bukan memilih menjomblo, hanya saja, gadis yang dia sukai hanya menganggap Yuda sebagai teman. Miris sekali.
"Ciss dulu yang friendzone!!"
Saga dan Doni serempak mengatakan itu dihadapan Yuda. Keduanya tertawa kencang, membuat pemuda itu mendengus kasar dengan wajah lesu. Mood Yuda buruk mendengar itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
JENNA ✓
Teen Fiction[Completed] Jenna, terlihat layaknya gadis pada umumnya. Tapi tidak, bagi yang paham cerita hidupnya. Dingin. Tidak tersentuh. Wajah cantiknya tidak pernah tampak dengan ekspresi. Tatapannya kelam, membuat Saga sering tenggelam kedalamnya. Kenyat...
