Kamar 12: Freak

37 4 0
                                        

Perihal luka, sebenarnya siapa yang benar-benar dapat menyembuhkan hal itu? Manusia sejatinya adalah fisik yang sangat rapuh dan mudah terluka. Lantas bagaimana bentuk penyembuhan terhadap luka tersebut, apakah dibiarkan saja? Apa bisa lukanya sembuh?

Selama hampir 18 tahun hidup, sekitar nyaris empat tahun kehidupannya terasa seperti simulasi di neraka. Meski belum pernah ke sana dan tak sekalipun berminat ke sana walau dikasih gratis, sangat yakin kejadian bullying di SMA-nya tak jauh berbeda dengan penderitaan di neraka.

Mengapa bisa seyakin itu? Karena berkat kejadian bully ini kehidupan Inara terasa sangat kelam. Tiga tahun harus Inara lalui dengan kepahitan dalam ketakutan saat melangkahkan kaki ke bangunan bernama sekolah itu, tak akan ada yang menolongnya, semua bahkan menutup mata kompak akan perundungan karena ketidakmampuan dan tentunya tak berdaya, pada seseorang yang jelas memiliki pelindung lebih besar.

Sekadar mengulurkan tangan pada Inara urung mereka lakukan, larut dalam putus asa dan hanya bisa menyaksikan dengan iba ketika dirinya diseret bersama tawa memekakan yang mengalun selayaknya musik kematian, berasal dari bibir para pelaku yang tak pernah habis mengganggunya.

Bagi Hika dan kawannya, Inara adalah boneka yang dapat dimainkan sesuka hati, tak peduli makhluk yang mereka tendang, lucuti, bahkan jambak memiliki nyawa maupun perasaan. Mengetahui Inara ringkih dalam tangis pilu adalah melody favorit ke empatnya. Inara sadar ketika tubuhnya ringkih tanpa aba dan hanya bisa memperhatikan bagaimana ke empatnya menertawakan ketidakberdayaannya, saat itulah kehidupannya terasa meredup.

Harapannya terkikis, bersamaan setiap harinya hanya ada rasa takut yang hadir. Setiap membuka mata ketika pagi menyapa, hal pertama yang ditemukan Inara adalah tubuhnya yang terasa nyeri dengan puluhan luka, kemudian rentetan perlakuan biadab yang Hika dkk lakukan terekam pada benaknya menghantar rasa kengerian, dan berakhir tubuhnya merasa kebas dibarengi air matanya pecah tanpa suara. Inara juga ingat setelah menghabiskan tetes air matanya pada penderitaan hari kemarin, kini ia mulai menebak apa lagi perlakuan biadab yang akan ia dapatkan selanjutnya.

Entah Hika akan menarik rambutnya lagi, Sarah yang memasukan makanannya dengan debu dan sampah, Jade yang menyiram pakaiannya, ataupun Manda yang akan menyuruhnya merangkak menuju kelas.

Semua hal yang diterimanya saat SMA masih menimbulkan luka mendalam pada batin maupun raga Inara. Dadanya detik ini masih terasa sesak hanya membayangkan dan mencoba waspada pada sekitarnya. Sekarang pun Inara masih kerap merasa takut. Selalu berhati-hati agar orang tak merundungnya atau bahkan berbuat jahat padanya. Bohong jika Inara mampu berinteraksi dengan sekitar.

Karena pada kenyataannya butuh waktu bagi Inara menahan laju jantungnya yang menyesak, terlebih tubuhnya yang tremor setiap kali ia berniat melangkah keluar, rasanya jalan yang ia lalui hanya akan melukai membuat Inara kerap mengurungkan langkahnya dan berakhir menatap kosong sekitar, seakan jiwanya menghilang darisana. Semangat hidup Inara berhasil dimusnahkan.

Butuh beberapa step bagi Inara agar berani sekadar bertanya, terutama saat sampai di asrama ini. Awalnya Inara memang tak berharap lebih akan kehidupan kampus, mengingat masa SMA sangat penuh tekanan, Inara hanya berharap ia tak lagi menderita.

Namun sepertinya tuhan benar-benar belum mengizinkannya bahagia.

Tepat asrama Sektor 3 itu, siapa yang menyangka, Inara akan bertemu lagi dengan sosok penghancur kehidupannya. Hika dan kawannya, sungguh berada di tempat yang sama dengannya dan siap kembali membawa luka lain yang akan ditorehkan pada kehidupannya.

Sektor 3Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang