Kedua remaja berlarian di tengah hamparan rumput yang sangat luas, suasana sore mendukung dramatisnya aksi kejar kejaran mereka berdua.
"Sayang aku capek banget."teriak seorang gadis seraya menumpukkan tangannya ke lutut karena kelelahan mengejar laki laki yang berstatus menjadi pacarnya.
Gadis itu memutuskan untuk menidurkan badannya di rumput, lalu tak lama pacarnya menghampiri dan ikut berbaring di sebelahnya.
Tangan gadis itu terulur ke langit bagai meraba raba awan."Matahari nya indah banget ya sayang."
"Enggak ah, masih cantikan kamu."ucap pacarnya, kemudian gadis itu menoleh dan mendapati sang pacar sedang memandanginya dengan senyum yang terbit di wajah tampannya.
Gadis itu tertawa lalu menampar pelan pipi pacarnya."Kamu kebanyakan gombal ih."kemudian gadis itu memejamkan matanya, sedangkan laki laki itu masih tetap memandangi wajah teduh nan cantik milik kekasihnya. Namun tiba tiba ia merasa hujan turun dengan deras dan pacar disampingnya hilang, lalu dia tersadar akan sesuatu.
"Heh fan, lo ngapain senyum senyum sendiri."
Suara Firga menyeret Fandy dari alam bawah sadarnya, Fandy menyadari bahwa hujan di mimpinya akibat Firga menyiramkan air satu gayung ke mukanya. Ia teringat, tadi di jam pelajaran terakhir dirinya membolos bersama Firga di rooftop dan berakhir dirinya ketiduran.
Fandy menendang kaki Firga kesal.
"Aish lo ganggu mimpi indah gue aja, pacar gue jadi ilang kan."
Firga memandang Fandy aneh lalu tertawa terbahak bahak.
"Sadar fan lo aja gak punya pacar, gue ingetin ya lo baru aja putus dua minggu yang lalu dari si Laras. Segitu berpengaruhnya ya lepas dari pacar yang tiap hari bareng bareng selama tiga bulan, bikin orang jadi halu."
Fandy mendudukkan dirinya dengan menekuk lutut.
"Sialan lo, ini bukan soal Laras. Salah gak sih kalau gue move on secepat ini?"
"Enggak salah, kita kan gak pernah tau arah hati kita mau gerak kemana, kita juga gak bisa nentuin kapan kita mau jatuh cinta dan pada siapa. Apalagi kalau case nya kaya lo sama Laras, gue malah berharap lo bisa move on di detik lo mutusin Laras saat itu."ucap Firga seraya menepuk pundak Fandy, Fandy terdiam dan memandang ke atas langit seraya tersenyum.
"Fayola ya?"
Bel pulang sekolah yang sedari tadi ditunggu akhirnya berbunyi juga, para murid pun membereskan peralatan sekolah mereka masing masing begitu juga dengan dua gadis di kelas sepuluh IPA 4 yang baru saja mengerjakan ulangan harian Matematika.
"Lo mau makan es krim dulu gak? Otak gue pengen meledak rasanya."
"Nggak deh, besok kan weekend ya bro gue mau nemenin nenek gue shopping biar kecipratan dibeliin hehehe. Lo kan bisa ajak temen agak sonoan dikitan lo fe, paling abis ini juga muncul batang hidungnya."Lita menaik turunkan alis menggoda Fayola.
"Ada yang lagi ngomongin gue gak sih? Kok kuping gue rasanya panas."celetuk seseorang yang tiba tiba saja menyembul dari jendela, beberapa anak yang masih di kelas terlebih siswa yang bangkunya dibawah jendela terlonjak melihat keberadaan Fandy.
"Tuh pangeran berkuda lo udah dateng."
"Kak, ajakin Fayola beli es krim gih kepalanya mau meledak katanya abis ulangan matematika."mendengar ucapan Lita, Fayola refleks menggeplak lengan sahabatnya.
"Let's go fe gue traktir, karena hari ini gue lagi happy banget."Fandy tersenyum lebar menampilkan gigi rapinya. Fayola memandangnya aneh, tapi tak urung ia mengangguk dan menghampiri Fandy di depan kelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Novela JuvenilMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
