Seorang pria melangkahkan kakinya dengan bersenandung ceria menuju parkiran untuk mengambil sepeda motornya, seperti biasanya dia akan menemui seorang gadis yang beberapa hari ini memang tidak pernah absen dia kunjungi sepulang sekolah.
"Loh Lita Rian, kalian udah balik? Katanya weekend ini baru pulang."tanya Miko saat mendapati keberadaan dua sejoli tersebut di parkiran.
Lita hanya diam, memang sedari kemarin gadis itu hanya diam saja setelah kepergian Fayola yang masih belum ditemukan keberadaannya. Devan sudah mencari ke semua tempat yang memungkinkan untuk gadis itu datangi, namun nihil tak ada Fayola.
"Iya kita udah pulang, ada urusan mendadak jadi kita pulang duluan."jawab Rian apa adanya, karena memang mereka berdua memutuskan pulang setelah mengetahui kondisi Fayola.
Miko hanya membulatkan mulutnya, "Oh ya kalian mau nyamperin princess kaya biasanya kan? Yaudah ayo kita berangkat."
Lita sontak menoleh, apakah Miko kira kira tahu dimana keberadaan Fayola? Atau memang tidak tahu yang terjadi sebenarnya. "Lo tau dimana Fayola?"
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Miko bingung, namun tak urung dia mengangguk pelan. "Ya tau dong, di resto bu Ema kan dia kerja."
Seperti mempunyai harapan, Lita berpikir ada benarnya juga. Karena Fayola bekerja, pasti dia akan datang ke resto untuk memenuhi tanggungjawabnya terhadap pekerjaannya itu. Ketiga remaja itu pun menuju resto milik bu Ema.
Sesampainya di resto milik bu Ema, Lita berlari terlebih dahulu masuk ke dalam resto tanpa menunggu Rian dan Miko yang sedang memarkirkan mobil mereka. Tatapannya langsung terjtuju pada kasir, namun sayangnya bukan Fayola melainkan orang lain. Tangis Lita kembali pecah, gadis itu tak peduli dirinya menjadi pusat perhatian. Sampai akhirnya Rian datang menariknya untuk duduk di salah satu kursi diikuti oleh Miko di belakangnya.
"Kalian udah pulang?"tanya Devan yang tiba tiba menghampiri meja mereka bersama bu Ema. Kondisi laki laki itu juga cukup memprihatinkan, Lita dan Rian masih ingat baju yang dipakai Devan kemarin malam adalah baju yang sama dengan yang dikenakan sekarang, sepertinya pria itu masih belum pulang ke rumahnya.
"Loh kak Devan bukannya kata Arthur lo pertukaran pelajar ya, kok disini sih?"tanya Miko, entah kenapa perasaannya tiba tiba mengatakan bahwa ada sesuatu yang terjadi, ini jelas bukan sebuah kebetulan.
Pertanyaan Miko tersela oleh Lita yang kini menangis dalam pelukan bu Ema. "Saya sahabat yang buruk bu, dia pergi karena saya."
Bu Ema mengelus pundak Lita, tanpa sadar wanita paruh baya itu ikut meneteskan air matanya. "Fayola pasti baik baik saja, nanti kita cari lagi sama sama."meskipun ia menguatkan Lita, jauh di dalam hatinya bu Ema juga khawatir dan risau.
"Ini apa sih maksutnya? Princess pergi?"Miko menatap satu persatu orang di meja itu meminta penjelasan.
Devan menghela nafasnya sebelum akhirnya menceritakan tragedi yang terjadi di rumah Pahlevi kemarin lusa. Sepanjang mendengarkan ekspresi Miko dipenuhi dengan amarah, hingga pada akhirnya ia menatap nyalang ke arah Lita.
"Lit lo sadar gak sih, lo itu orang yang paling dipercaya sama dia bahkan lo tau kejadian di dapur kan? Gue gak nyangka lo akan sebodoh itu."
Devan menepuk pundak Miko agar laki laki itu tidak terbawa emosi. "Udah mik, Lita udah sadar sama kesalahannya. Sekarang kita fokus aja ke gimana caranya kita bisa nemuin Fayola."
Sedangkan di tempat lain, seorang gadis yang sedang dicari baru saja terbangun dari tidurnya. Netra matanya menyesuaikan cahaya yang masuk, saat penglihatannya sudah sempurna ia bertanya tanya, kamar siapa yang ia tempati sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Novela JuvenilMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
