Di pagi hari libur yang cerah Fayola baru saja selesai membereskan barang barang miliknya di Apartemen yang baru saja ia sewa kemarin. Dengan menggunakan uang tabungannya ia nekat keluar dari rumah Lita setelah dua hari menginap disana dan tidak kembali ke rumah Pahlevi, dia memilih untuk menyewa apart dan akan belajar berjuang untuk bertahan hidup sendiri tanpa bantuan siapapun.
Awalnya keputusan itu jelas ditentang oleh Lita beserta kedua orang tua gadis itu, belum lagi dari bu Ema. Namun ia sudah membulatkan tekadnya bulat, Fayola hanya menerima bantuan baju yang telah dibelikan oleh keluarga Lita dan juga ponsel dari Ares, yang ia anggap utang dan nantinya akan ia ganti setelah mendapatkan gajinya.
Suara bel apartemennya di pencet oleh seseorang, Fayola sudah tau siapa kiranya sosok manusia yang kiranya ada di balik pintu. Karena Fayola masih belum memberitahukan kepada siapapun letak apartemennya selain Lita. Setelah pintu terbuka Fayola disambut wajah mencebik gadis itu.
"Sorry gue telat bangun, ada yang bisa gue bantu gak?"
"Gak ada, udah kelar beres beres gue. Barang cuma itu itu doang apaan yang mau di beresin lagi.".
"Yaudah kita sarapan dulu yuk, mama udah bawain bekal buat kita yey."
Fayola menghembuskan nafasnya ketika Lita masuk begitu saja dengan menenteng dua totebag besar yang bisa ia tebak adalah bahan makanan yang memang sengaja ia bawa untuk mengisi kulkas apartemennya. Gadis itu memang keras kepala terus membantu sampai Fayola merasa tidak enak hati, namun disisi lain Fayola bersyukur memiliki sosok seperti Lita dalam hidupnya. Setelah menutup pintu apartmennya, Fayola menyusul Lita ke dapur yang sudah berkutat dengan kulkasnya.
"Gue mandi dulu ya, mau kerja habis ini."
Lita yang sedang menata sayuran di kulkas Fayola hanya berdehem tanpa menoleh ke arah gadis itu. Namun diam diam Lita memperhatikan punggung Fayola yang beranjak kedalam kamar, dia merasa iba pada sahabatnya itu tapi dirinya juga kesal karena Fayola terus terusan menolak kebaikannya.
Setelah menyelesaikan mandinya, Fayola keluar dari kamar dan mendapati Lita yang sudah duduk di sofa seraya memakan snack dengan kaki yang diluruskan. Sepertinya mandinya cukup lama karena sahabatnya itu sudah selesai mengisi isi kulkasnya yang tadinya kosong sekarang terisi penuh dengan bahan makanan dan juga minuman dingin.
Fayola mengambil dua mangkok untuk dibawa ke ruang tamu, gadis itu menyajikan bubur ayam yang telah dibeli Lita untuk mereka gunakan sarapan. Dua gadis yang sama sama kelaparan itu langsung melahap bubur ayam itu dalam waktu yang cukup singkat. Tak butuh waktu lama, kini mereka sudah duduk di lantai bersandar pada kaki sofa seraya mengelus elus perut mereka.
"Oh ya gue jadi keinget deh fe, kemarin kak Resya nanyain lo."
Fayola yang tadinya sibuk melamun memikirkan dekorasi untuk mengisi apartmen barunya langsung menoleh ke arah Lita. "Ngapain dia nanyain gue?"
Lita mengedikkan bahunya, ingatannya terlempar pada pertemuannya dengan Resya di koridor kemarin.
Lita baru saja dari kantin menenteng makanannya dan menyedot jus jambu yang baru saja ia beli. Semenjak Fayola tidak hadir di sekolah, Lita lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdiam diri di kelas. Gadis itu memilih untuk bertukar pesan dengan Fayola daripada harus berinteraksi pada teman sekelasnya.
Namun saat sedang berjalan di koridor, netranya menangkap keberadaan Resya yang tengah berjalan ke arahnya. Lita hendak memutar arah berjalannya, namun suara Resya lebih dulu menginterupsinya.
"Lita, kamu tau Fayola dimana?"
Lita berbalik menghadap Resya dengan malas, kemudian gadis itu mengangkat dagunya angkuh. "Buat apa lo nanyain Fayola ke gue? Harusnya lo gak usah peduliin orang jahat, nikmati aja momen jadi bagian keluarga Pahlevi."ucapan sarkas Lita membuat Resya menggigit bibir bawahnya sedikit ketakutan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Fayola
Novela JuvenilMereka yang paling dekat seringkali menjadi yang paling jauh. Cause when trust breaks, love fades~
