17 - Forgive me

3.6K 145 2
                                        

Devan dan Lita seketika melirik satu sama lain setelah Fayola pergi, mereka merasakan ke akward an yang luar biasa. Akhirnya Devan berpura pura melirik jam tangannya, kemudian mengangkat suara.

"Udah jam tiga nih, gue harus mulai rapat OSIS. Gue duluan."

Lita mengumpat, kenapa dirinya ditinggalkan sendirian. Ia harus apa sekarang, akhirnya sebuah ide terlintas di otaknya."Gue juga duluan ya kak, mau nemenin kak Devan rapat. Bye."Setelah itu Lita berlari mengejar langkah Devan.

"Pacar kamu emang gak punya Attitude ya?"tanya Yura seraya bersendekap dada dan menyunggingkan senyum sinisnya, jujur saja ia merasa terhina dengan sikap Fayola tadi.

"Mungkin dia lagi capek atau gak oh iya sekarang itu emang tanggalnya dia lagi Red day jadi agak sensitif, maafin Fayola ya. Ayo kita pulang, aku anterin ya."Fandy merangkul Yura menuju parkiran untuk pulang.

Sementara di arah yang berlawanan, Lita berhasil menyusul langkah Devan yang lumayan lebar."Kak Devan tega banget ninggalin aku disana."

"Menurut lo Fayola kenapa?"

Lita menghembuskan nafasnya."Aku juga gak tau, aku aja kaget waktu dia tiba tiba ngomong pake lo gue ke Fandy terus sikap dia ke kak Yura bikin aku makin shock."

"Apa diemnya Fayola ada hubungan sama mereka?"ucap Devan menerka nerka.

"Aku gak tau kak, apa Fayola cemburu ya sama kak Yura karena tadi dateng sama Fandy setelah Fandy gak keliatan dari tadi pagi?"

"I don't know, I don't care mereka yang pacaran tapi gue yang pusing."

Setelah kurang lebih dua jam mereka rapat untuk pertandingan basket yang akan diadakan di sekolah mereka, akhirnya anggota OSIS menyelesaikan rapatnya. Fayola memilih untuk keluar terakhir dari ruangan OSIS, ia malas berinteraksi dengan manusia sore ini. Ia membuka handphone miliknya untuk memesan ojek untuk pulang.

"Pulang bareng gue aja fe."

Fayola menoleh ke arah suara, bukannya Devan sudah keluar daritadi. Kenapa tiba tiba laki laki itu ada di depan ruang OSIS lagi."Gue kira lo tadi udah pulang duluan kak."

"Gue harus kasih laporan progress an anak acara ke pak Antoni tadi, ayo."

Akhirnya Fayola pun mengangguk mengiyakan tawaran Devan. Di sepanjang koridor Fayola hanya diam menatap lurus ke depan dengan tangan yang memainkan tali tas. Devan yang menyadari keterdiaman Fayola mencoba menanyakan keadaan gadis itu.

"Lo lagi berantem sama Fandy?"

"Gue doang yang ngerasa gitu, dia nya sih enggak ngerasa kali."

"Obrolin masalah kalian baik baik, gak bagus diem dieman. Komunikasiin apa yang bikin ganjel di hati lo."

"Males, gak guna."

"Lo kira kita para cowok itu tuhan yang ngerti apa yang lo rasain? Kalau lo gak ngomong, cowok lo juga gak akan tau lo lagi kenapa. Dan harusnya lo gak nyeret orang yang gak tau apa apa, sikap lo ke Yura tadi enggak banget."

Fayola tersenyum, jadi poin dari kalimat Devan adalah pembelaan terhadap Yura."Oh i see, jadi ini ceritanya lo lagi belain temen temen lo ya?"

"Gue gak belain siapa siapa, gue belain yang bener fe. Kecemburuan lo itu jangan dijadiin alasan buat nyerang orang yang gak tau apa apa, jangan kaya anak kecil yang cemburu gak jelas cuma karena cowok lo nyambut temen lamanya yang baru aja pulang dari luar negri. Dunia Fandy bukan tentang lo doang."

Fayola meghentikkan langkahnya, menatap Devan tak percaya. Emosinya langsung tersulut. "Cuma kata lo? Setelah bikin gue khawatir karena dia gak ngabarin gue seharian dan di depan mata gue, gue liat cewek itu cium pipi pacar gue, itu yang namanya cemburu gak jelas?"

Dear, FayolaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang