40 - Mensive

2.5K 99 4
                                        

Fayola meraba raba nakasnya saat ponselnya berbunyi menandakan sebuah telfon masuk. Setelah menemukan ponselnya, gadis itu menempelkan benda pipih itu ke telinga.

"Halo."

"Kamu udah di rumah sayang?"tanya Friska dengan diiringi suara bising dari sebrang sana.

"Udah ma, ini aku bangun tidur karena denger suara telfon masuk. Mama lagi dimana deh?"tanya Fayola karena tadi saat ia baru saja pulang dari Jogja tidak ada satupun orang di rumah.

"Mama masih di mall, kamu mau makan malam apa sayang? Biar mama bawain."

"Terserah mama aku ngikut."

"Yaudah kalau gitu, tunggu mama dua jam lagi ya. Mama lagi nyalon nih."

Fayola hanya bergumam sebelum akhirnya mengakhiri telfon dari mamanya, kemudian ia memutuskan untuk turun ke bawah untuk minum. Di pijakan tangga ia mendapati Resya yang sedang duduk di karpet ruang tengah membungkus beberapa barang.

Fayola melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan malam, berarti dia sudah tertidur dua jam lamanya. Setelah mengambil segelas air, Fayola ikut bergabung duduk di karpet bulu menghampiri Resya.

"Kakak lagi bikin apa?"

"Ini bikin bingkisan buat Devan, buat dibawa ke Aussie nanti malam."jawab Resya tanpa mengalihkan pandangannya karena di sedang sibuk menghias sebuah kotak kue.

Fayola mengangguk angguk kemudian memperhatikan beberapa makanan dan juga barang yang telah Resya persiapkan dengan cantik, hingga netranya menangkap sebuah kotak yang mencuri perhatiannya."Wow keliatannya ini enak. Kakak beli Fudgy Brownies ini dimana?"

"Kakak bikin sendiri tadi."

Fayola terkejut sampai matanya melotot. Mereka baru sampai rumah pukul enam sore dengan keadaan rumah tak ada siapapun, berati Resya membuatnya sendiri ketika Fayola sibuk berlayar ke alam mimpinya. Fayola merasa takjub pada perjuangan kakaknya demi Devan. Mungkin kalau Fayola yang ada di posisi Lita, tanpa pikir panjang dia akan langsung pesan online saja, benar benar kesenjangan effort.

Suara pintu diketuk dari luar mengalihkan atensi keduanya, dua gadis itu saling berpandangan satu sama lain. Saling melempar tatapan bertanya siapa gerangan yang bertamu ke rumah mereka di malam hari, tidak mungkin kalau itu adalah kedua orangtua mereka, karena jika itu memang Friska dan Pahlevi untuk apa mereka mengetuk pintu. Akhirnya Fayola bangkit dari duduknya dan membukakan pintu untuk tamu yang tidak diketahui. Saat pintu terbuka, Fayola sontak hampir melompat ketika seseorang yang tadi menutupi wajahnya tiba tiba menggeser bunga tersebut dan langsung menyapa dengan ceria.

"Malam sayang."

Mendengar suara yang dikenalinya, Fayola mengelus elus dada sembari berpegangan pada gagang pintu, menetralkan jantungnya yang masih terkejut atas perbuatan Fandy. Sedangkan Fandy yang tadi memasang senyum lebarnya kini merasa tak enak pada Fayola, ia langsung menghampiri Fayola dan mengelus elus pundak gadis itu.

"Sayang are you okay? Aku ngagetin kamu ya, Maaf."

Fayola memberenggut kesal seraya menggeplak lengan Fandy."Udah tau masih tanya, ini apa lagi malem malem?"

Fandy menyengir. "Hehe mau ngasih bunga buat pacar aku yang sangat cantik sedunia dan juga aku punya sesuatu buat kamu."ucap Fandy seraya menjulurkan buket bunga nya pada Fayola yang diterima oleh gadis itu. Meskipun kesal, Fayola tidak lupa mengucapkan terimakasih.

"Ayo ikut aku, aku mau ajak kamu keliling. Kamu taruh bunga nya dulu sekalian ambil jaket ya, aku tunggu disini."

Tak perlu waktu lama, Fayola kembali muncul dengan cardigan warna soft pink nya yang menutupi piyama Shincannya. Rambutnya dicepol asal dengan jedai dan hanya memakai sandal Crocs putih. Gadis itu memilih Outfit simple itu karena Fandy hanya memakai Hoddie dan juga sweetpants.

Dear, FayolaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang